Perjalanan ke Dunia Hikmah


Perjalanan ke Dunia Hikmah
“Saya mendapat cerita luar biasa darinya. Pelajaran buat kalian, kelak kalau mencari pasangan hidup jangan sekedar berpatokan fisik dan hartanya.” Kami menyimak penuturannya sambil melanjutkan kegiatan mencatat kosakata bahasa Arab yang tertulis di papan tulis.

Konon, datang seorang pemuda ke rumah orang tua kekasihnya. Ia hendak melamar gadis pujaannya. Seperti kebanyakan orang tua, ayah gadis itu sangat memperhatikan bibit, bebet, dan bobot calon menantunya. Malang, pemuda itu pulang membawa kekalahan karena tidak lolos kriteria menantu idaman. Ia bukan berasal dari keluarga kaya dan belum mapan secara finansial.

Sekian tahun berlalu. Matahari terbit dan tenggelam setiap hari. Pemuda itu tetap melanjutkan hidupnya. Ia bekerja. Ia berhubungan dengan banyak orang. Singkatnya, ia menjadi orang yang sukses. Ia memiliki kebun kelapa sawit yang sangat luas di luar tanah Jawa. Dan yang paling penting, ia telah menikah dan memiliki dua orang anak. Ia hidup dengan bahagia.

Namun, musibah datang kepadanya suatu hari. Istrinya meninggal karena digerogoti penyakit. Saat itu anaknya seusia anak-anak SD dan SMP. Pada awalnya, ia berusaha mengatasi urusan rumah tangga dengan tangannya sendiri. Akan tetapi, ia kewalahan. Setelah berdialog dengan kedua anaknya, ia pun memutuskan untuk mencari ibu baru bagi anak-anaknya.

Suatu hari, seorang rekannya di jejaring sosial merekomendasikan wanita perawan yang sudah berumur 40 tahun. Wanita itu telah mengalami perjodohan berulang kali, tetapi tidak satupun yang berhasil. Kadang pihak pria mantap mempersuntingnya, tetapi wanita itu menolak. Kadang wanita itu bersedia dinikahi, tetapi pihak pria tidak berniat melanjutkannya ke pelaminan. Selalu seperti itu selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, ayah dua anak itu tidak keberatan dengan kondisi si wanita. Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia terhubung dengan wanita itu dan keduanya memutuskan untuk bertemu. Ia terbang ke pulau Jawa secepat yang ia bisa.

Betapa terkejutnya pria itu ketika tiba di depan rumah si wanita. Pemandangan di depannya tidak asing. Pagar rumah itu. Pohon di depan rumah itu. Bahkan cat rumah itu, sangat akrab dengan matanya. Hatinya berdegup kencang. Pikirannya sibuk berprasangka. Sejak awal, ia merasa tidak asing dengan alamat rumah yang diberikan wanita itu. Tetapi ia menepis dugaannya. Mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya.

Ketika pintu rumah itu terbuka, seorang wanita muncul dari balik pintu. Pandangan mata kedua orang itu bertemu. Mendadak waktu berhenti. Mendadak semua cahaya padam. Hanya ada mereka berdua. Bertahun-tahun yang lalu, pria itu datang ke rumah itu. Sekarang, dengan maksud yang sama, pria itu kembali ke rumah itu. Bedanya, ia bukan lagi pemuda miskin yang merindukan bulan.

Heran dengan kelakuan anaknya yang terdiam di depan pintu, ayah wanita itu mendekatinya. Betapa terkejutnya ia menyaksikan pria yang berdiri di halaman rumah. Langkahnya tertatih menghampiri pria itu. Ia hendak memastikan penglihatannya tidak salah. Bahwa pria itu adalah pemuda miskin yang melamar anaknya bertahun-tahun yang lalu.

Pria itu juga berjalan mendekati si ayah. Matanya berkaca-kaca. Ketika keduanya berada pada jarak sejengkal, pria itu berkata, “Ini saya, Pak. Anda tidak salah lihat. Maafkan atas kebebalan saya. Saya datang lagi kemari hendak melamar putri Bapak lagi,” suaranya bergetar, lalu pria itu menunjuk mobil yang ia parkir di luar pagar rumah. Ia bermaksud mengatakan bahwa mobil itu miliknya, tetapi ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Pertahanan si ayah runtuh. Tangisnya tidak mampu ia bendung lagi. Ia peluk pria itu erat-erat. Ia tepuk bahu pria itu keras-keras. “Maafkan Bapak, Nak. Maafkan Bapak,” katanya sesenggukan. Di belakang mereka, si wanita sudah bercucuran air matanya.

Air mata haru juga mengisi sudut-sudut mataku. Dari sekian banyak kisah yang diceritakan guru kami, inilah kisah paling indah yang pernah kudengar. Pada akhirnya, kedua orang itu menikah dengan restu semua anggota keluarga. Mungkin takdir berkata bahwa mereka memang jodoh. Mungkin Allah menegur ayah wanita itu yang terpukau dengan indahnya dunia. Hari itu, aku belajar mencintai akhirat dari kisah sepasang kekasih itu. Memahami bahwa kehidupan dunia itu semu. Kejayaan senantiasa dipergilirkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Supaya manusia berpikir dan mengambil hikmahnya.

Penulis : Henny Nur Alifah
Sleman, Yogyakarta

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2013/11/perjalanan-ke-dunia-hikmah.html

Sekuntum Cinta Dari Negeri Sakura


Ikuko menatap butiran-butiran salju yang luruh di luar jendela apartemennya. Butiran salju yang melayang-layang diterpa angin musim dingin dan kemudian jatuh ke tanah dan menyatu dengan hamparan putih yang sudah lebih dulu menyelimuti jalan. Dingin terasa menusuk tulang. Sambil bergetar, Ikuko membaca kembali surat di tangannya.

"Ikuko-san, pulanglah, Nak. Sudah berbulan-bulan ayahmu tidak pulang. Mungkin ia sedang ada masalah di pekerjaannya. Ibu rindu padamu. Salam kangen. Ibu."

Ikuko mendengus. "Masalah di pekerjaan? Semua orang tahu apa yang dilakukan Ayah. Tidak heran bila suatu saat nanti tiba-tiba muncul seorang bayi mungil yang kelak memanggilku kakak." Diremasnya kertas itu kuat-kuat.

"Ibu memang seorang wanita kuat. Seumur hidupnya diabdikan untuk melayani Ayah dan sekaligus menerima dengan sabar semua perlakuan kasar Ayah," Ikuko terbayang semua yang dialaminya. Ayahnya seorang pegawai rendahan yang suka mabuk-mabukan. Dan itulah salah satu alasan Ikuko pergi meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke Tokyo. Hidup sudah tidak berarti apa-apa lagi di bawah rasa takut akan pukulan ayahnya. Pergi jauh-jauh dari Kyoto, itulah cita-cita Ikuko sejak ia beranjak remaja.

"Apa yang harus kulakukan?" Ikuko memijat keningnya yang seperti ditimpa ratusan ton beton. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada tumpukan buku-buku di atas meja. Buku-buku yang dipinjamkan oleh seorang sahabat di Tokyo Islamic Centre. Buku-buku itulah yang selalu menemani malam-malam Ikuko yang
panjang dan penat setelah seharian bekerja di kantor.

"Perkenalkan saya Ardiansyah dari Indonesia. Saya biasa dipanggil Ardi. Saya mahasiswa pasca sarjana Fakultas Elektro di Keio University dan saya aktif di Tokyo Islamic Centre selepas jam kuliah saya," seorang laki-laki muda berpakaian rapi dan tampak serius menyapa Ikuko ketika tanpa sengaja mereka bertemu di perpustakaan umum. Ikuko sedang mencari buku-buku masakan di sana saat itu.

"Tokyo Islamic Centre? Saya belum pernah mendengar tentang perkumpulan itu selama saya di Tokyo. Maklum saya baru dua tahun berada di sini. Nama saya Ikuko dan saya bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan swasta," jawab Ikuko sambil memandang tumpukan buku-buku yang dibawa Ardi.

Ardi tersenyum sopan. "Tokyo Islamic Centre itu bukanlah sebuah perkumpulan. Tetapi itu sebuah tempat dimana kami, umat muslim beribadah dan mengadakan berbagai kegiatan di sana."

"Muslim?" tanya Ikuko heran. Hampir seumur hidupnya ia baru tahu bahwa ada perkumpulan bernama muslim.

"Ya. Kami beragama Islam dan Islam itu bukan semacam perkumpulan atau organisasi," jawab Ardi sopan.

"Agama Islam? Sepertinya menarik. Sejak kecil saya terbiasa dibawa sembahyang di kuil di Kyoto oleh ibu saya. Walaupun saya juga tidak mengerti apa sebenarnya yang kami lakukan di sana," rasa ingin tahu Ikuko perlahan mulai muncul. "Hmm maaf, apakah Ardi-san sedang buru-buru? Kalau tidak, saya ingin sekali mendengar tentang agama Islam itu."

Dan sejak pertemuan di perpustakaan itu, Ardi menerangkan berbagai hal tentang Islam dan meminjamkan buku-buku agama Islam pada Ikuko. Ikuko sangat bersemangat. Kadang-kadang Ikuko berkunjung ke Tokyo Islamic Centre sambil membawakan berbagai macam makanan untuk Ardi. Ardi dan teman-temannya menyambut Ikuko dengan baik. Ikuko merasa nyaman berada di sana. Satu-satunya tempat di mana ia diterima dengan baik, apa adanya, dan yang lebih penting, tidak ada lagi ketakutan akan pukulan-pukulan ayahnya serta mimpi-mimpi buruk yang kerap hinggap dalam tidurnya.

Ikuko menemukan dunia baru di sana, di tengah para mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi mereka di Tokyo. Selain agama Islam, Ikuko juga belajar bahasa Indonesia. Pernah suatu kali seorang ustadzah muda yang baru datang dari Jakarta bertanya pada Ikuko; mengapa Ikuko tertarik belajar agama Islam. "Orang-orang di perkumpulan ini baik hati dan ajaran di perkumpulan ini baik," jawab Ikuko polos. Saat itu ia masih menganggap Tokyo Islamic Centre itu sebuah perkumpulan.

Tidak seorangpun yang melarang Ikuko menyebut tempat itu sebagai perkumpulan. Dengan sabar, ustadz-ustadz muda di sana mengajari Ikuko berbagai hal. Buku-buku agama Islam bertebaran memenuhi apartemen Ikuko yang kecil di pinggiran Tokyo. Ia masih mencari, tetapi belum mendapat apa yang
dicarinya. Hingga surat lusuh dari ibunya itu mengubah segalanya.

Pulang ke Kyoto adalah mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Ikuko. KepergianIkuko ke Tokyo membuat Ibu menjadi bulan-bulanan kemarahan Ayah. Ayah menganggap Ibu tidak becus mengajar anak sehingga Ikuko pergi dari rumah. Belum lagi wanita-wanita dengan parfum murahan yang dibawa Ayah ke rumah.
Membayangkannya saja membuat perut Ikuko mual.

"Pulanglah, Ikuko-san. Kasihan ibumu sangat merindukanmu. Masih ingat apa yang diajarkan Ustadz Ahmad beberapa waktu lalu bahwa kita harus menghormati ibu kita," kata Ardi ketika Ikuko menceritakan tentang surat itu.

"Tetapi aku takut pulang ke Kyoto, Ardi-san. Aku takut aku tidak dapat lagi keluar dari sana dan terperangkap dalam mimpi buruk sepanjang hidupku. Aku tidak dapat lagi bertemu denganmu dan teman-teman di sini. Aku tidak mau surat ini merampas semua kebahagiaan yang ada dalam genggamanku saat ini,"
ujar Ikuko sambil merobek-robek surat itu.

"Allah memerintahkan kita untuk menghormati Ibu sebelum yang lainnya. Ia yang mengandung dan bertarung nyawa melahirkan kita di dunia ini. Paling tidak, ia pantas mendapat sedikit penghormatan darimu, Ikuko," Ardi menghela napas panjang. Ia menatap wajah Ikuko yang berkerut-kerut menahan marah.

"Hanya Allah yang bisa membolak-balik hatinya," bisik Ardi dalam hati. Sudah hampir setahun Ikuko belajar agama Islam di Tokyo Islamic Centre dengan kemauannya sendiri, tetapi sepertinya hidayah Allah belum menyapa gadis itu. Hidayah itu memang mahal.

"Kalau begitu, Ardi-san, mohon temani aku pergi ke Kyoto menjenguk Ibu selama beberapa hari. Bila ada Ardi-san, Ayah tidak akan berani macam-macam dan tidak ada yang bisa menahanku untuk tinggal di sana," itulah keputusan Ikuko malam itu. Dan keesokan harinya, Ardi dan Ikuko sudah berada dalam kereta api yang membawa mereka menuju Kyoto.

Musim dingin sudah menyelimuti Kyoto dengan tirai-tirai putihnya yang sedingin es dan seburam kaca tua. Langit berwarna abu-abu kemerahan ketika Ardi dan Ikuko tiba di pinggiran kota Kyoto. Kuil-kuil berdiri membisu di tengah rimbunan pohon-pohon yang kaku berselimutkan salju. Loncengnya berdentang sekali dua kali memecah kesunyian bagaikan lonceng kematian yang siap mencabut nyawa-nyawa yang berada dalam penjara kesunyian.

Mereka tiba di rumah Ikuko saat senja hampir tiba. Rumah itu sedingin gerimis. Sunyi. Sepi. Sungai kecil yang mengalir di sampingnya turut membeku. Tidak ada seorangpun di beranda. Ikuko membuka pintu kayu dan masuk ke dalam seraya memanggil ibunya. Keadaan di dalam rumah tak kalah dinginnya dengan cuaca di luar. Debu menyelimuti perabot rumah. Ikuko berjingkat perlahan memasuki kamar ibunya. Tak sampai semenit, terdengar teriakan histeris Ikuko.

Ardi segera menerobos masuk ke kamar itu. Ikuko menangis keras di atas tatami lusuh di samping sebuah tilam kusam. Ia menutup wajahnya sambil terus menangis. Di atas tilam itu, Ardi melihat sesosok wanita tua yang hampir mengerut saking kurusnya. Tidak ada tanda-tanda nafas kehidupan dari tubuhnya yang ringkih itu. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Ardi mengucap pelan. Sekuntum Al Fatihah perlahan terdengar dari mulutnya.

Bismillahirahmaanirahiim, Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin, Ar-Rahmaanir Rahiim, Maaliki yaumid diin, Iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, Ihdinas siraatal mustaqiim, Siraatal ladziina an'amta 'alayhim gayril magduubi 'alayhim wa laddaalliin. Amiin

Ikuko bergetar mendengar ayat-ayat Surat Al Fatihah yang dibaca Ardi. Ia belum hapal ayat itu dan ia masih belum mengerti artinya. Hangat menyelimuti seluruh relung jiwanya. Menerobos masuk ke dalam sudut-sudut kesadarannya yang terdalam. Jalan yang lurus. Jalan itu lurus bersimbah cahaya. Di kiri dan kanannya dan juga di atasnya. Cahaya itu menggenggam jiwa Ikuko erat. Seluruh tubuhnya berguncang. Mimpikah ia? Tidak. Ikuko tidak bermimpi. Cahaya itu ada di hadapannya. Dan kalaupun ia sedang bermimpi, Ikuko tidak
mau bangun lagi. Jalan itu Jalan yang lurus.

"Ardi-san, aku ingin mengucapkannya. Aku ingin masuk Islam sepertimu dan teman-teman di Tokyo Islamic Centre. Aku ingin berada di jalan itu, Ardi-san. Jalan yang lurus," dengan berlinang air mata, kata-kata itu berhamburan dari mulut Ikuko. Ardi tercengang. Berbulan-bulan Ikuko belajar agama Islam di Tokyo, baru saat ini keinginan itu terlontar darinya. Rencana Allah memang seringkali sukar dipahami manusia.

Dan keesokan harinya, setelah pemakaman Ibu yang sederhana, di antara kuil-kuil dingin yang membeku dan di tengah musim dingin yang kian menggigit kota itu, Ikuko mengucapkan dua kalimat syahadat. Ardi menjadi saksi melangkahnya Ikuko ke dalam gerbang cahaya-Nya di hadapan seorang ustadz tua pengurus musholla kecil di pinggiran Kyoto.

"Ashyadu alaa ilaaha ilallahu wa ashadu anna muhammadar rasulullah Hamba bersaksi, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan hamba bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah"

Sekuntum cinta telah mekar di sana, di negeri sakura yang flamboyan. Saat Sang Cinta memperbolehkan Ardi menghantar Ikuko ke dalam cahaya-Nya yang abadi.

Jakarta, 14 Agustus 2007 at 10.15 p.m.
Dipersembahkan untuk Miki Terada, muallaf DT Jakarta, dengan penuh cinta

Sumber: http://groups.yahoo.com/neo/groups/daarut-tauhiid/conversations/topics/27330

Pohon Sakura Di Tengah Padang



Musim telah berganti, cuaca angin sepoi mendayu dedaunan pohon sakura. Langkah kaki tak terasa sudah jauh menelusuri perkampungan di negeri matahari. Alamnya yang asri bersahabat, menambah suasana menjadi akrab dengan hati yang gundah karena jauh dari kampunng dan tanah air. Hanya dengan banyak bersyukur kepada Allah SWT semata yang menjadikan jiwa dan raga kuat berpijak dimanapun kaki melangkah di bumi ciptaan-Nya.

Suatu tantangan dan sekaligus seni sendiri bagi saya untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim di negeri sakura yaitu Jepang yang mayoritas beragama shinto dan bahkan sebagian besar rekan kerja seperusahaan mengaku tidak mempercayai adanya Tuhan, ataupun hal gaib. Dengan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, menjadikan mereka semakin angkuh dengan kepintaran mereka, itulah salah satu sisi kelemahan mereka. Tapi di balik itu semua, mereka memiliki kebiasaan yang patut dipuji dalam kehidupan mereka. Beberapa contohnya, kebiasaan mereka dengan hal sepele tapi berbobot seperti tidak membuang sampah di sembarangan tempat, bahkan mereka akan membawa pulang sampah mereka sendiri apabila di jalan tidak menemukan tempat sampah, sekalipun itu adalah bekas puntung rokok. Kemudian tidak menyeberang atau melewati lampu merah di lalu lintas walaupun jalan dalam keadaan sepi.

Pernah suatu ketika, seorang teman yang memilki uang yang di sakunya jatuh tercecer di jalan umum yang ramai dengan hiruk-pikuk manusianya, tanpa sepeserpun yang hilang, padahal dalam jumlah cukup banyak setelah seharian di cari yang akhirnya ditemukan di pos keamanan setempat, yang ternyata ada orang Jepang yang menyerahkannya ke pos tersebut...Subhanallah, membuat saya berdecak kagum dengan kebiasaan positif mereka yang benar-benar dijadikan kebiasan sehari-hari dan bukan hanya sekedar teori yang dihafal semata.

Saya pribadipun menjadi malu di hadapan Allah ketika bercermin dengan kebiasaan baik mereka, orang Jepang yang sebagian besar tidak mempercayai adanya Tuhan dengan kebiasaan masyarakatku di tanah air Indonesia yang notabenenya mayoritas Islam tapi kebiasaan masyarakat tidak sesuai sunnah yang di contohkan Rasulullah. Justru di negeri kaum atheis ini saya mempelajari dan membiasakan kebiasaan baik tersebut, dan menjadi tantangan terberat dalam berdakwah di negeri sakura, karena mereka lebih mempercayai hal yang nyata dan terlihat, sehingga mereka selalu membuat perbandingan dengan keadaan Indonesia yang mayoritas muslim.

Tapi ada sisi lain yang tidak dimiliki oleh sebagian besar mereka, yaitu persaudaraan dan kekeluargaan. Salah satu kebiasaan mereka, ketika seorang anak memperoleh pekerjaan, maka putus sudah kewajiban dan hak diantara mereka. Anak akan menjadi mesin penghasil pajak buat pemerintahnya, sedangkan orangtua menjadi asuhan pemerintah di panti jompo. Inilah yang menjadi kekurangan mereka dalam hidupnya jika dibandingkan dengan kita sebagai muslim yang selalu taat dan merawat orangtua sampai akhir hayat. Keharuanpun terjadi ketika ngobrol dengan salah seorang nenek berumur 90 tahun yang tidak pernah bertemu anaknya lagi. Suatu ketika, bertepatan dengan idul Fitri, di mana umat muslim sedunia merayakan hari kemenangan, kamipun kaum minoritas ikut merayakan walaupun hanya sekitar 30 jamaah yang merayakannya. Tapi ada sesuatu yang asing di antara jamaah itu, yaitu kehadiran seorang nenek tua yang pernah saya ngobrol dengan saya sebelumnya. Beliaupun meminta rahasia keakraban diantara kami. sayapun dengan senang hati menjawabnya, kami bersatu dan bersaudara karena sesama muslim. Yang di mana hal itu tidak dapat mereka ciptkan dengan teknologi yang mereka miliki.

Penulis : Abdul Rauf
Bandung

Sumber: Dakwatuna.com

Kisah Nyata Wartawati Inggris Mengenal Islam Dari Taliban


Gimana rasanya jika ditawan atau ditangkap musuh? Mungkin susah untuk membayangkan nasib anda akan berakhir pada sebuah kebahagiaan. Apalagi, jika menghadapi tuduhan sebagai mata-mata, penyusup, dan lain sebagainya. Namun, tidak demikian dengan apa yang dirasakan Yvonne Ridley, wartawati Inggris.

Perempuan paruh baya ini justru mengaku bahagia setelah ditangkap dan diinterogasi pasukan Taliban yang oleh media masa Amerika Serikat, digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras dan kejam. Ridley yang bekerja sebagai wartawan Sunday Express, surat kabar terbitan Inggris, pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik.

Saat itu, perempuan kelahiran tahun 1959 di Stanley, Inggris, ini mencoba menyusup ke Afghanistan secara ilegal, tanpa paspor maupun visa. Ridley yang kerap ditugaskan ke daerah-daerah konflik di dunia ini, tertangkap basah di sebelah timur Kota Jalalabad. Penyamarannya terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh. Saat ditangkap, Ridley tengah mengenakan burqa, sejenis busana Muslimah tradisional Afganistan. Saat ditangkap, ketakutan mulai merayapi Ridley. Ia mulai diinterogasi selama 10 hari tanpa diperbolehkan menggunakan telepon ataupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulang tahun ke-9.

Selama menjalani proses interogasi, Ridley mengaku tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percayai sebagai ‘kebenaran’. Awalnya, bagi Ridley, Taliban sama seperti yang digambarkan media massa Eropa maupun Amerika bahwa kelompok Islam ini disebut sebagai teroris. Namun, perlakuan yang diterima Ridley selama menjalani masa penahanan dan interogasi justru mengubah semua pandangannya mengenai orang-orang Taliban.

Menurutnya, anggapan umum kaum Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster sangat jauh dari realitas. Ridley menilai bahwa orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan mereka sangat ramah. Pengalaman saat ditangkap pasukan Taliban, justru membuatnya mengenal Islam lebih dalam. Dengan bersentuhan langsung dengan kelompok Taliban, Ridley merasakan suatu keganjilan terhadap apa yang di tuduhkan media masa terhadap Taliban. Ridley menyebut kelompok yang oleh banyak negara dicap sebagai teroris ini sebagai keluarga terbesar dan terbaik di dunia.

Dalam jumpa pers yang digelar di Peshwar seusai pembebasannya, Ridley menuturkan bahwa selama dirinya ditahan, secara fisik ia tak pernah diperlakukan dengan buruk oleh Taliban. Bahkan, perlakuan yang diterimanya tergolong cukup istimewa. Di dalam tahanan, Ridley dipisahkan dengan penghuni lainnya, termasuk para tahanan wanita. Selain itu, secara khusus, ruang tahanannya telah dibersihkan dari segala gangguan kecoa dan kalajengking. Atas pengakuan Ridley ini, banyak pihak yang mengatakan ibu dari seorang putri bernama Daisy ini terkena Sindrom Stockholm , di mana sandera malah kemudian memihak penyandera.

Tetapi Ridley membantahnya. Dalam sebuah wawancara kepada situs Islamonline, Ridley mengungkapkan saat menjadi tawanan Taliban, seorang ulama mendatangi dirinya. Sang ulama menanyakan beberapa pertanyaan tentang agama dan menanyakan apakah ia mau pindah agama. Saat itu, Ridley takut salah memberikan respons, ia takut dibunuh. Setelah berpikir masak-masak, Ridley berterima kasih pada ulama tadi atas tawarannya yang baik itu. Akhirnya dia mengatakan kepada ulama tadi bahwa sulit baginya membuat keputusan untuk mengubah hidupnya saat sedang menjadi tawanan.

Kepada sang ulama, Ridley berjanji akan mempelajari agama Islam setelah dibebaskan dan kembali ke London. Dengan pernyataan tersebut, akhirnya Ridley dibebaskan. Begitu kembali ke Inggris, Ridley membaca Alquran melalui terjemahannya. Ia mencoba memahami pengalaman yang baru dilewatinya. Setelah membaca Al-Qur’an, hatinya luluh dan takjub. Ia benar-benar takjub karena Tak ada satu pun yang berubah dari isi Al-Qur’an ini, baik titik-titinya maupun yang lainnya sejak 1.400 tahun yang lalu.

Ketika mempelajari Islam, Ridley sangat mengagumi hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling membuat dirinya tertarik pada Islam. Dalam buku yang ia tulis setelah pembebasannya, Ridley menceritakan bahwa dirinya juga sempat menemui Dr Zaki Badawi, ketua Islamic Centre London, dan berdiskusi dengannya seputar ajaran Islam. Dari sinilah Ridley memutuskan untuk memilih Islam sebagai keyakinan barunya.

Proses keislaman Ridley ini terjadi pada tahun 2003 silam. Mengenai pilihannya ini, Ridley mengungkapkan bahwa dirinya telah bergabung dengan apa yang ia anggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini (Taliban). Mengingat orang tua Ridley yang beragama Protestan Anglikan, awalnya keluarga juga teman-temannya khawatir dengan keyakinan barunya. Namun melihat kebahagiaan Ridley setelah masuk Islam, keluarga dan teman-temannya pun dapat menerima dia. Terlebih lagi ibu Ridley yang sangat bahagia karena setelah masuk Islam, Ridley meninggalkan kebiasaan lamanya yaitu meminum minuman keras.

Setelah memeluk Islam, Ridley juga memutuskan untuk mengenakan baju Muslim dan jilbab dan masih menjalankan profesinya sebagai seorang wartawan. Dedikasi Ridley sebagai wartawan memang tak diragukan lagi. Ia ini pernah bekerja pada sederet media bergengsi, seperti News of the World, The Daily Mirror, The Sunday Times, The Observer, The Independent, dan Sunday Express. Redaktur Sunday Express , Martin Townsend, pernah mengungkapkan komentarnya mengenai Ridley, mengatakan bahwa Ridley adalah seorang jurnalis yang sangat berpengalaman dan berani.

Selain itu, Colin Patterson, wakil redaktur dari Sunday Sun, menyebut Ridley sebagai pribadi yang hangat dan bersahabat. Pasca tragedi Lockerbie sembilan tahun lalu, Ridley adalah wartawan pertama yang berhasil mewawancarai Ahmad Jibril, pemimpin populer Front for the Liberation of Palestina (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina)

Sumber: 
- http://yvonneridley.org/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Yvonne_Ridley-
- http://www.youtube.com/watch?v=fFElrB2g7uE&feature=related

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah dan Jodoh


Jodoh

Keajaiban sedekah dan jodoh telah banyak dirasakan oleh muslim dan muslimah. Salah satunya adalah wanita lajang berusia 37 tahun ini, yang datang kepada salah seorang ustadz untuk bertanya tentang jodoh. Ustadz Yusuf Mansur menuliskan kisah nyata tersebut dalam buku Kun Fayakun 2:

“Ustadz, cari jodoh susah ya?” tanya wanita itu setelah bertemu sang ustadz.
“Makanya, jodoh jangan dicari, tapi dibeli” jawab ustadz, membuat wanita ini tertawa sekaligus keheranan.
“Beli di mana, Ustadz? Memang ada yang jualan jodoh?”
“Ada!”
“Siapa?”
“Allah, Rabbul ‘alamin,” jawab ustadz mantap, “Kata Rasul ‘Dhau’ mardhakum bish shadaqah’ belilah penyakit dengan sedekah, termasuk penyakit kesepian, yaitu jomblo”
“Insya Allah, Ustadz. Saya akan sedekah”
“Iya, pulang, dah. Insya Allah dapat jodoh. Insya Allah”

Wanita ini pun pulang. Lalu, ia mampir ke masjid di kompleknya. Ia segera mendatangi takmir masjid tersebut.
“Pak, saya ingin sedekah di sini. Kira-kira masjid butuh apa yang bisa saya sedekahkan di sini?”
“Kebeneran, Neng, kami lagi melelang lantai. Satu meternya 150 ribu rupiah” jawab takmir.?

Wanita ini membuka dompetnya. Awalnya, ia hanya mengambil 150 ribu rupiah. Begitu ingat pesan bahwa kalau sedekah kita harus poll, akhirnya ia bersedekah 4 kali lipatnya: 600 ribu rupiah, dapat 4 meter.

“Pak takmir, doain ya, supaya hajat saya terkabul” katanya setelah menyerahkan sedekah.
“Memang, hajatnya apa, Neng?” tanya takmir.
“Ada, rahasia” kata si Neng, merahasiakan keinginannya mendapatkan jodoh. Namun, meskipun takmir tidak tahu apa hajatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tahu. Allah mengetahui bahwa wanita ini telah bersedekah dan sangat membutuhkan jodoh.

Tak lama kemudian, datang 4 orang melamar wanita ini, dalam waktu yang berdekatan. Subhanallah, setelah lama menanti jodoh, kini wanita ini malah dikasih Allah pilihan, memilih mana diantara 4 orang yang datang. Angka 4 persis seperti sedekahnya yang bernilai 4 meter lantai Masjid. Subhanallah... sungguh kisah nyata ini menjadi bukti keajaiban sedekah dan jodoh.

[Disarikan dari buku Kun fayakun 2 karya Ust. Yusuf Mansur]

Kisah Qurban Si Tukang Cuci


Setelah melayani pembeli, saya melihat seorang ibu sedang memperhatikan dagangan kami.

Dilihat dari penampilannya sepertinya dia tidak akan beli.
Namun saya coba hampiri dan menawarkan. ‚” Silahkan bu..”
“Kalau yang itu berapa bang?‚ Ibu itu menunjuk kambing yang paling agak kecil.

“Kalau yang itu harganya Rp 600ribu bu”, jawab saya.
“Harga pasnya berapa?”
“500ribu deh. Kalau mau silahkan..”
“Uang saya Cuma ada 450ribu, boleh gak?”
Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug. ‚” Bismillah ambilah Bu “kata saya.

Saya pun mengantar kambing ibu.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut, saya terkejut..!.
“Astaghfirullaah.. Allahu Akbar..!”
Terasa mengigil seluruh badan saya ketika melihat keadaan rumah ibu tersebut.

Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan ibu dan satu orang anaknya di rumah gubuk berlantai tanah.
Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.
Diatas dipan, sedang tertidur seorang nenek tua kurus.
” Mak..bangun mak, nih liat Sumi bawa apa…”
Perempuan tua itu terbangun.
“Mak , Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak…”

Orang tua itu kaget namun terlihat sorot bahagia di matanya.
Sambil mengelus-elus kambing, orang tua itu berucap, “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga emak berqurban…”
“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya…”

Duh GUSTI… Ampuni dosa hamba… Hamba malu berhadapan dengan hambaMU yg satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar kalimat dari ibu ini.
“Bang nih ongkos bajajnya.!” panggil si Ibu.
“Sudah bu, biar ongkos bajaj saya yang bayar.”

Saya buru buru pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah swt

Kisah Istri Shalihah, Bisa Memberikan Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat


Saya sangat mengagumi seorang istri yang sengaja mengiritkan belanja, menahan diri untuk membeli makanan-makanan mahal di restoran, baju-baju bermerk, kosmetik dan peralatan kecantikan bernilai ratusan ribu, tidak meminta dan merengek dana khusus untuk dihabiskan berwisata ke luar daerah atau liburan keluar negeri, memilih mencuci baju memakai tangan bersama sang suami daripada membeli mesin cuci dan tidak tertarik membeli barang mewah selayak smartphone berharga jutaan rupiah bahkan AC sekalipun.

Lalu di suatu malam dia berkata:

"Sayangku, besok temanilah aku ke Bank Syariah, aku ingin menyerahkan sesuatu untukmu.."

"Untukku? Apakah itu?", tanya sang suami.

"Sesuatu yang sudah lama kupersiapkan untuk kita sejak 5 tahun yang lalu.."

Dan keesokan harinya, bersama suami dia mengunjungi bank tersebut dan berkata kepada petugas costumer service.

"Bu, kami ingin membuka buku tabungan haji bagi kami berdua.."

Sang suami terkejut tidak percaya dan berbisik pelan-pelan,

"Darimana uang kita untuk membuka tabungan haji sayang? Untuk sehari-hari saja kita masih berhemat.."

Isteri menjawab,

"Aku menyisakan sebahagian dari pemberianmu untuk dana haji kita. dan alhamdulillah, hari ini dana tersebut telah dapat kita lunasi.."

Subhanallah.....

Maka benarlah hadits yang berbunyi:
"Sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.", karena selain dapat membahagiakan hidup sang suami, dia juga dapat mempersiapkan jalan besar bersama sang suami menuju ke syurga.

Kisah Tentang Orang yang Menghina Al-Qur'an


Dosen: "Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay.

Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al-Quran?

Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Quran ditulis saja kok.

Yang Qurannya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan."

Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Qur'an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen. Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mahasiswa: "Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa bapak yg ada disini."ujarnya sambil membolak balik halaman diktat tersebut.

"Hhuuhhh...."semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres.

Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi,
menghempaskan dan kemudian menginjak-injak ­ diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh.

Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.

Dosen: "kamu?! Berani melecehkan saya?!Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya?! Lancang kamu ya?!" Si dosen melayangkan tangannya kearah kepala sang mahasiswa kreatif,

namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.

Mahasiswa: "Marah ya pak? Saya kan cuma nginjak kertas pak. Ilmu dan pikiran yang bapak punya kan ada di kepala bapak.

Ngapain bapak marah kalau yang saya injak cuma media buku kok. Wong yang saya injak bukan kepala bapak. Kayaknya bapak yang perlu dicerdaskan ya??"

Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat.

"Itulah salah satu hukuman langsung dri AllahTa'ala bagi siapa saja yang ingin mempermainkan atau mencaci maki Agama-Nya.

Sumber: FP Mendalami Tentang Ajaran Agama Islam Dan Sejarah Islam Dimuka Bumi Ini

Kisah Nyata Keajaiban Ayat Kursi


Ini kisah nyata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal asia yang mengenakan jilbab.

Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman. suasana jalan setapak agak sepi …. dia melewati jalan pintas yang agak gelap dan sendirian.

Di ujung jalan pintas itu dia melihat ada sosok pria kaukasian, pasti orang amerika pikirnya …. tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya ….

Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah …. kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca ayat kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah swt …..


Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa … sekilas ia melirik ke arah pria itu ….. orang itu asik dengan rokoknya … dan seolah tidak memperdulikannya ….(Alhamdulillah …. serunya dalam hati …)

Keesokan harinya .. ia lihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam … dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya dilorong gelap itu … karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan shorcut itu …..

Hati muslimah inipun tergerak karena wanita tadi melintas jalan shorcut itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana … dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.

Muslimah inipun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tsb,karena ia Menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.

Melalui kamera rahasia akhirnya muslimah inipun bisa menunjuk salah seorang yg diduga sebagai pelaku,ia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok …

Melalui interogasi polisi akhirnya orang yg diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannya … tergerak oleh rasa ingin tau, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi …

muslimah : apa kau melihat saya, saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kau perkosa itu? mengapa anda hanya menggangunya tapi tidak menggangguku ? mengapa anda tidak berbuat apa apa padahal waktu itu aku sendirian ?

penjahat : tentu saja saya melihatmu malam tadi, anda berada disana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu,saya tidak berani mengganggu anda, aku melihat ada dua orang besar dibelakang anda pada waktu itu … satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda …

Muslimah itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya .. kalbunya penuh syukur dan terus mengucap alhamdulillah. Dengkulnya bergetar mendengar penjelasan pelaku kejahatan itu, ia langsung menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi ….

Dalam hatinya ia tiada henti bersyukur … ya Allah terimakasih .. mungkin itulah perlindungan dan hikmah karena ia tiada berhenti membaca ayat kursi selama ia ketakutan dalam perjalanan pulang tersebut ….

Maha kuasa Allah dengan segala keagungan dan kekuatan gaib-Nya …

Wallahu a'lam bishshawab
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Kisah Hikmah Dibalik Musibah

Ada seorang pedagang yang setiap hari ia menjual dagangannya ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus naik angkot langganannya. Dan untuk sampai ke jalan raya, ia harus melewati pematang sawah. Ba'da subuh ia selalu berdoa kepada Allah SWT agar dagangannya laris. Begitulah setiap hari, berangkat ba'da sholat subuh dan pulang sore hari.

Dagangannya selalu laris manis. Suatu hari, ketika ia melewati sawah menuju jalan raya, entah knapa tiba2 ia terpeleset. Semua dagangannya jatuh ke sawah, hancur berantakan! Jangankan untung, modal pun buntung! Mengeluh ia kepada Allah, bahkan "menyalahkan" Allah, mengapa ia diberi cobaan seperti ini? Padahal ia telah berdoa ba'da subuh. Akhirnya ia pun pulang tidak jadi berdagang.

Tapi dua jam kemudian ia mendengar kabar, bahwa angkot langganannya yg setiap hari ia naiki, pagi itu jatuh ke dalam jurang. Semua penumpangnya tewas! Hanya ia satu2nya penumpang yg selamat, "gara-gara" tahu nya jatuh ke sawah, sehingga ia tidak jadi berdagang. Doa tidak harus dikabulkan sesuai permintaan, tapi terkadang diganti oleh Allah dengan sesuatu yg jauh lebih baik daripada yg diminta.
Allah Maha Mengetahui kebutuhan kita, dibandingkan diri kita sendiri. Karena itu, janganlah jemu berdoa, juga jangan menggerutu, apalagi mengutuk! "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui”. (QS. al-Baqarah/2: 216)

Kisah Iblis Menolong Pemuda Ke Masjid


Kisah ini bermula ketika seorang pemuda bangun pada awal pagi untuk solat Subuh di masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju ke masjid. Di pertengahan jalan menuju ke masjid, pemuda tersebut jatuh dan pakaiannya kotor.

Dia bangkit, membersihkan bajunya dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju ke masjid.

Dalam perjalanan ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yang sama. Dia sekali lagi bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah.

Di rumah, dia sekali lagi berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju ke masjid. Di tengah jalan menuju ke masjid, dia bertemu seorang lelaki yang memegang lampu.

Dia menanyakan identiti lelaki tersebut dan lelaki tersebut menjawab "Saya melihat anda jatuh dua kali di perjalanan menuju ke masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda."

Pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan menuju ke masjid. Apabila mereka sampai di masjid, pemuda tersebut bertanya kepada lelaki yang membawa lampu untuk masuk dan solat
Subuh bersamanya. Lelaki itu menolak, pemuda itu mengajak lagi hingga berkali-kali tetapi jawapannya sama.

Pemuda itu bertanya, kenapa menolak untuk
masuk dan solat Subuh bersama?

Lalu lelaki itu menjawab...

"Aku adalah IBLIS..."

Pemuda itu terkejut dengan jawapan lelaki
itu.

Iblis kemudian menjelaskan, "Saya melihat kamu berjalan ke masjid dan sayalah yang membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan SEMUA DOSAMU.

Saya membuatkan kamu jatuh kali kedua dan itupun tidak membuatkan kamu berubah fikiran, bahkan kamu tetap memutuskan kembali untuk ke masjid. Kerana hal itu, Allah memaafkan DOSA-DOSA
SELURUH ANGGOTA KELUARGAMU.

Saya bimbang jika saya membuat kamu jatuh untuk kali ketiga, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa dosa seluruh penduduk kampungmu jadi saya harus memastikan bahawa kamu sampai di masjid dengan selamat..."

Sampaikanlah dan share artikel ini kepada orang lain, insya Allah ini akan menjadi Shadaqah Jariyah pada setiap orang yang Anda kirimkan pesan ini. Dan apabila kemudian dia mengamalkannya, maka kamu juga akan ikut mendapat pahalanya sampai hari kiamat...

Kisah Tsabit bin Ibrahim dan Apel Pembawa Berkah


Tersebutlah seorang lelaki saleh bernama Tsabit bin Ibrahim. Ketika itu ia sedang melakukan perjalanan di pinggiran kota Kufah. Matahari bersinar sangat terik. Cuaca panas membuat kerongkongan kering sehingga haus pun menyerang.

Tanpa sengaja ia melihat sebuah apel ranum berwarna merah menyala tergeletak di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil dan menikmati buah merah tersebut untuk menghalau dahaganya.

Belum habis buah itu di tangannya, ia segera tersadar bahwa apel itu bukan miliknya, "Astasfirullah, aku memakan yang bukan hakku. Siapakah pemilik apel ini?" gumam Tsabit.


Perasaan gelisah menghantuinya. Dicarinya pohon apel yang tumbuh di sekitar. Ia sangat berharap agar si pemilik apel mau merelakan apel yang ada di tangannya itu untuk dimakan.

Setelah menelusuri jalanan itu, akhirnya tidak jauh dari tempatnya sederet pohon apel dengan buahnya yang merekah kukuh berdiri di sebuah kebun yang luas. Tsabit melihat seorang lelaki di dalam kebun tersebut, "Mungkin dia pemilik apel ini," pikir Tsabit.

Ia pun menghampirinya dan mengucapkan salam, lalu bertanya, "Apakah engkau pemilik kebun ini? Saya telah memakan apel Anda, untuk itu saya mohon maaf. Sudilah kiranya engkau merelakan apel ini agar halal untuk kumakan," pinta Tsabit.

Lelaki tersebut berkata, "Aku bukan pemilik apel itu. Saya hanyalah seorang penjaga kebun di sini."

"Baiklah, jika demikian di manakah rumah majikanmu?"

"Butuh waktu sehari semalam tiba di sana. Perjalanannya pun tidak mudah. Mengapa tidak kaumakan saja apel itu? Toh, ia tidak akan memedulikan sebuah apel itu karena hasil kebunnya begitu melimpah ruah!" usul si penjaga kebun.

"Sejauh apa pun rumahnya, aku harus tiba di sana meskipun harus melalui berbagai rintangan. Sebagian apel ini sudah aku telan, artinya di dalam tubuh ini terdapat makanan yang tidak halal bagiku karena belum meminta izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, 'Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram maka api nerakalah yang layak baginya' " tukas Tsabit tegas.

Melihat keteguhan hati Tsabit, si penjaga kebun akhirnya memberi tahu arah perjalanan menuju rumah majikannya. Tsabit berterima kasih atas kesediaan penjaga kebun memberi tahu alamat majikannya. Tanpa buang waktu, Tsabit segera beranjak menuju rumah pemilik apel.

Perjalanan mendaki dan berbatu ia lalui, sungai pun ia seberangi agar ia dapat bertemu dengan pemilik apel. Begitu risaunya ia akan peringatan dari Rasulullah saw.

Setelah menempuh perjalanan berliku, tibalah ia di depan rumah pemilik apel. Ia mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Seorang lelaki tua membukakan pintu untuknya.

"Wa'aiaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa anak muda?" tanyanya. Rupanya dialah pemilik kebun itu.

"Wahai Tuan, kedatangan saya ke sini untuk meminta keikhlasanmu atas buah apel yang terlanjur aku makan. Semoga engkau memaafkanku," Tsabit menjelaskan apa yang merisaukannya kepada si pemilik kebun.

Pemilik kebun menyimak dengan saksama. Lalu ia berkata, "Aku tidak akan menghalalkannya kecuali dengan satu syarat!"

"Apakah itu, Tuan?"

"Kamu harus menikahi putriku dan aku akan menghalalkan apel itu untukmu."

Tentu saja Tsabit terkejut dengan syarat itu. Haruskah ia menebus kesalahannya dengan pernikahan? Belum habis keterkejutan Tsabit, lelaki tua pemilik apel itu melanjutkan, "Putriku bisu, tuli, buta, dan lumpuh. Bagaimana? Apakah kamu menyanggupinya?"

Tsabit makin terkejut. Ia harus menikahi perempuan cacat yang akan mendampinginya seumur hidup. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Jika jalan ini dapat membuka pintu ampunan Allah SWT, ia harus menjalaninya dengan ikhlas. Tsabit pun menyanggupinya.

Pernikahan pun diselenggarakan. Mempelai wanita menanti di dalam rumah saat akad nikah berlangsung. Selesai dilakukan akad nikah, Tsabit dipersilakan oleh sang mertua untuk menemui putrinya yang kini telah sah menjadi istri Tsabit.

Ia mengetuk kamar yang ditunjuk sambil mengucapkan salam. Ketika Tsabit hendak membuka pintu kamar, terdengar suara wanita menjawab salamnya. Ia urung masuk ke dalam kamar itu karena yang ia tahu istrinya bisu, tuli, dan buta, "Oh, maaf, aku salah kamar!" ujar Tsabit.

"Kau tidak salah. Aku istrimu yang sah!" kata wanita di dalam kamar itu, "silakan masuk, wahai suamiku!"

Tsabit benar-benar dibuat bingung dengan semua kejadian yang belakangan ini ia hadapi. Rasanya mustahil jika sang pemilik kebun berdusta tentang putrinya. Apa untungnya bagi dia?

Ketika Tsabit masih berdiri tertegun di depan kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Yang membuka adalah seorang wanita cantik yang sehat wal afiat tanpa cacat seperti yang dikatakan mertuanya. Ia makin yakin bahwa ini bukanlah istrinya.

Tsabit bertanya kepada wanita yang berdiri di hadapannya itu, "Jika kau benar istriku, ayahmu berkata bahwa kau buta. Tetapi, mengapa kamu bisa melihat?"

"Ayahku benar, mataku buta karena tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah," jawab putri pemilik kebun buah itu.

"Lalu, mengapa ayahmu mengatakan kamu tuli? Padahal, kau dapat mendengar salamku!" tanya Tsabit kembali.

"Itu juga benar, beliau tahu bahwa aku tidak pernah mau mendengar berita atau cerita yang tidak diridai Allah SWT," jelas sang istri.

"Kau pun tidak bisu seperti yang dikatakan ayahmu? Apa artinya?"

"Aku bisu karena tidak pernah mengatakan dusta dan segala sesuatu yang tercela. Aku banyak menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah."

"Terakhir, apa maksud ayahmu mengatakan kau lumpuh?" tanya Tsabit lagi.

"Itu karena aku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang dibenci Allah."

Betapa bahagianya Tsabit bahwa yang ia nikahi adalah sosok wanita salehah yang sempurna fisiknya dan cantik bak purnama di kegelapan malam. Dari hasil pernikahan mereka lahirlah ulama yang menjadi imam terbesar bagi umat Islam, yaitu Imam Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsabit.

Dalam hal ini, Rasulullah saw pernah berpesan dalam sabdanya, "Berjanjilah kepadaku enam hal dan aku akan menjanjikan engkau surga. Bicaralah jujur (benar), tepati janjimu, penuhi kepercayaanmu, jaga kesucianmu, jangan melihat yang haram, dan hindarilah apa yang dilarang." (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Kisah Api Neraka Padam Berkat Air Mata


Kita sebagai Umat Rasulullah SAW, ada yang masuk ke dalam Neraka Jahannam. Meski begitu, umat islam akan mendapat Syafa'at dari Rasulullah SAW, maka tak heran bila Rasul kita selalu membela dengan segenap kekuatan untuk menghalau api neraka yang akan membakar umatnya.

Sungguh sangat besar cintanya Rasulullah SAW kepada umatnya.
Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW akan meningal dunia, umatnyalah yang selalu ditanyakan kepada Malaikat Jibril dan Malaikat Pencabut Nyawa.

Kisahnya.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa kelak pada hari kiamat setiap orang akan disibukkan dengan persoalan dirinya sendiri, termasuk para nabi.

Ketika mereka dimintai pertolongan, mereka menyatakan nafsi-nafsi (sendiri-sendiri).
Kecuali nabi teristimewa, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dalam kondisi sulit itu, beliau terus berjuang dan berusaha untuk menyelamatkan umatnya.

"Ummati...Ummati..., bagaimana halnya dengan umatku, selamatkan umatku....selamatkan umatku....," ucap Rasulullah SAW berkali-kali.
(Duuh Gusti Kanjeng Nabi, begitu besar perhatianmu pada umatmu).

Gejolak Neraka Jahannam.
Ketika penghuni neraka digiring menuju neraka, keluarlah gejolak api neraka Jahannam, bergulung-gulung menyambar-nyambar. Ketika ia bergulung-gulung hendak menyambar umat Muhammad, tiba-tiba Malaikat Jibril berteriak.
"Awas..sambaran api menuju umat Muhammad," teriak Malaikat Jibril seraya membawa semangkuk air.

Maka, dengan secepat kilat Nabi Muhammad SAW meraih air yang ada di tangan Malaikat Jibril.
Malaikat Jibri berkata,
"Cepat Muhammad, cepat Muhammad!"

Air Mata sebagai Pemadam.
Segera saja Rasulullah SAW menyiramlan air itu pada api Neraka Jahannam yang menyambar-nyambar hingga menjadi padam seketika. Setelah gejolak api itu padam dan surut kembali ke tempat asalnya, Nabi Muhammad SAW bertanya,
"Wahai Jibril, air apakah itu?"

"Itu adalah air mata umatmu yang menangisi dosa-dosanya karena takut kepada Allah SWT," jawab Malaikat Jibril.

Oleh karena itu, para sahabat yang seiman, deraikanlah dan alirkanlah air mata hingga membasahi pipi atau tumpahkanlah air mata di atas sajadah ketika membaca Al Qur'an atau pada saat sujud karena takut kepada Allah SWT.

Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com

Kisah Singa Tunduk Hanya Dengan Tatapan Mata


Adalah Abu Said Abul Khair yang dikenal sebagai seorang sufi yang sangat menjaga situasi hatinya agar tidak terbersit maksud buruk. Karena kemuliaan hatinya itu, Abul Khair mendapatkan beberapa karomah dan salah satunya adalah mampu menundukkan singa padang pasir yang buas hanya dengan tatapan mata saja.

Kisahnya.
Suatu ketika, ada seorang sufi yang masih muda datang dengan maksud ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karomahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir.
Ketika sufi muda itu tiba di rumahnya, Abul Khair sedang memimpin pengajian.

Pada waktu Abul Khair membaca Surat Al Fatehah, dan tiba pada ayat terakhir yang berbunyi,
"Ghairil Manghdubi 'Alaihim Wa Ladh Dhallin."
Saat itulah sufi muda ini agak kurang puas dengan makhraj bacaan Al Qur'an Abul Khair, yang dinilainya kurang fasih.

"Bagaimana mungkin ia seorang sufi terkenal, makhraj bacaan Al Fatehahnya saja tidak bagus, bagaimana mungkin aku bisa menjadi muridnya?" guman sufi muda itu yang berniat mengurungkan niatnya untuk berguru kepada Abul Khair.

Dikepung Singa Padang Pasir.
Setelah itu, sufi muda itu berniat keluar dari majelis dan pergi tanpa permisi. Namun, begitu sufi muda itu keluar, ia langsung dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Singa itu mengaum dengan kerasnya seperti hendak memangsa sufi muda tersebut.


Karena ketakutan, sufi muda itu memilih untuk mudur. Akan tetapi di belakangnya juga ada seekor singa padang pasir lain yang menghalanginya.

Sufi muda itu seperti terjebak di tengah-tengah tanpa bisa berbuat sesuatu. Akhirnya, sufi muda itu menjerit keras karena ketakutan.

Begitu mendengar teriakan dari luar, Abul Khair segera turun keluar meninggalkan majelisnya. Ia menatap kedua ekor singa padang pasir yang buas itu dengan tatapan yang tajam.
Sesaat kemudian, Abul Khair menegur singa-singa itu,
"Wahai singa, bukankah sudah aku bilang padamu jangan pernah kalian mengganggu para tamuku."

Sungguh ajaib, kedua singa yang semula terlihat buas itu lalu duduk bersimpuh di hadapan Abul Khair. Sang sufi Abul Khair lalu mengelus-elus telinga kedua singa itu dan menyuruhnya pergi.
Setelah kedua hewan buas itu benar-benar pergi, sufi muda itu merasa keheranan.


"Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar itu?" tanya sufi muda.
"Anak muda, selama ini aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Bertahun-tahun aku berusaha menata hati hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain. Untuk kesibukanku menaklukkan hatiku ini, Allah SWT telah menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Semua binatang buas di sini termasuk singa padang pasir yang buas itu, semua tunduk kepadaku," jelas Abul Khair.

Menata Hati.
Sufi muda itu hanya terdiam dengan penuh rasa malu.
Namun, di sisi lain ia begitu mengagumi karomah yang dimiliki oleh Abul Khair.

"Engkau tahu kekuranganmu, wahai anak muda?" kata Abul Khair.
"Tidak wahai guru," jawab sufi muda itu.
"Selama ini engkau sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, karena itu engkau takut kepada semuruh alam semesta," jelas Abul Khair.

Sufi muda itu akhirnya mengurngkan niatnya untuk pergi. Dia menetapkan hatinya untuk menjadi murid dari Abul Khair.
Ia bersyukur bisa menjadi murid Abul Khair yang senantiasa mengajarinya tentang pentingnya menjaga hati agar selalu berprasangka baik.

Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com

Upaya Setan Melelapkan Orang Tidur


Segala cara akan dilakukan setan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah SWT. Salah satunya adalah dengan mempengaruhi manusia agar menyukai tidur dan melelapkannya hingga manusia tersebut meninggalkan ibadah.


Kisahnya.
Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pada suatu saat mengetahui seorang pemuda yang gemar tidur. Pemuda tersebut selalu memperbanyak waktu tidurnya sehingga meninggalkan banyak ibadah kepada Allah SWT. Ketika Rasulullah mengetahui bahwa pemuda itu tidur sepanjang malam hingga subuh, bahkan pemuda itu tidak melaksanakan shalat malam, Rasul pun bersabda kepada para sahabat-sahabatnya.

"Sesungguhnya pemuda itu telah dikencingi setan di kedua telinganya," sabda Rasulullah SAW.

Dalam riwayat lain juga diceritakan bahwa setan selalu memberikan tiga ikatan di kepala orang yang tidur. Ketiga ikatan itu berfungsi agar orang tersebut terlelap tidur sehingga banyak meninggalkan ibadah.

Diikat Setan.
Jika orang itu bangun, kemudian teringat kepada Allah SWT, maka lepaslah satu ikatan.
Jika ia bangkit dan berwudhu, maka lepaslah ikatan yang kedua, lalu jika orang tersebut melakukan shalat, maka lepaslah semua ikatan itu.
Pada pagi harinya, orang itu akan terlihat giat dan berseri-seri. Namun, apabila ketiga ikatan itu tidak terlepas, maka pagi harinya orang tersebut terlihat kusut dan bermalas-malasan.

Iblis sangat serius melelapkan setiap manusia dalam tidur yang panjang.
Bahkan iblis memiliki anak buah yang khusus untuk menjalankan misinya tesebut. Anak buah iblis tersebut bernama Haz. Tiap malam setan Haz bekerja dengan mengelilingi barat dan timur demi mendatangi orang yang tidur sembari membisikkan rayuan.
"Tenanglah, tenanglah, malam masih panjang, tidurlah," ucap setan Haz mempengaruhi orang yang tidur.

Namun, agama islam memiliki cara untuk menghindari godaan setan Haz tersbut.
Pertama dengan berwudhu sebelum tidur. Menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya Maraqiy Al Ubudiyyah disebutkan bahwa barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka ia akan ditunggui malaikat di atas kepalanya. Apabila ia terbangun dari tidurnya, malaikat itu akan berdoa kepada Allah SWT agar memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang tidur dalam keadaan suci.

Serdadu Iblis.
Langkah kedua untuk menghindari godaan iblis dan anak buahnya adalah jangan lupa berdoa sebelum tidur, karena barang siapa yang membaca doa sebelum tidur, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.

Doa sebelum tidur.
Ini ada doa sebelum tidur yang diambil dari tafsir Al Mansub Ilayh.
"La hawla wala quwwata illa billah al 'aliyyil 'adzim, wa shalallahu 'alamuhammadin wa alihi."

Dalam tafsir tersebut dikisahkan bahwa barang siapa yang berlindung kepada Allah denga membaca kalimat doa tersebut, maka para setan akan lari dan melapor kepada iblis.

Dijaga Ratusan Ribu Malaikat.
Ketika iblis dengan serdadunya menggoda orang tersebut, maka Allah SWT segera memerintahkan kepada ratusan ribu malaikat untuk melawan iblis-iblis itu. Para malaikat itu dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap seperti kuda api, pedang, panah dan senjata lain yang semuanya berasal dari api untuk memerangi iblis.

Selanjutnya, iblis dan anak buahnya kalah dan tertangkap. Iblis ditinggal dengan banyak luka. Luka tersebut tidak akan sembuh, kecuali orang yang digoda tersebut berbuat maksiat. Iblis serta setan akan menunggangi punggung orang tersebut untuk terus menggoda supaya berbuat maksiat, dan kalau sudah berbuat maksiat, maka sembuhlah iblis itu.

Jika iblis atau setan berhasil menjerumuskan manusia untuk berbuat dosa, ia akan lari sembari tertawa penuh kemenangan.

Kisah Keajaiban Shalat Malam


Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Memuliakan. Oleh karna itu, Dia berhak memuliakan siapa saja dari hamba-Nya yang dikehendali-Nya. Akan tetapi hal ini tidak terlepas dari ketaatan si hamba itu sendiri dalam beribadah kepada-Nya. Dari situ, jika kita ingin dimuliakan Allah SWT, maka kita harus rajin beribadah kepada-Nya dan memperbanyak amal saleh.



Seperti Kisah Teladan Islami berikut ini antara seorang pencuri dan orang yang beriman yang bernama Ahmad ibnu Khuzruya.
Pada suatu malam, seorang pemcuri telah memasuki rumah Ahmad. Dengan lihainya si pencuri itu menggeledah seluruh barang yang dimiliki Ahmad. Tetapi, betapa kecewanya si pencuri itu karena ia tidak menemukan apa-apa di dalam rumah.

Maka ia pun segera beranjak pergi meninggalkan rumah Ahmad.
Ketika hendak melangkahkan kakinya keluar pintu rumah, Ahmad segera memergokinya dan memanggilnya,
"Wahai pemuda, Ambillah air di dalam sumur dengan timba lalu bersihkanlah dirimu (wudhu) dan shalatlah. Nanti jika aku medapatkan sesuatu, maka akan kuberikan kepadamu semuanya agar kamu tidak keluar dari rumah ini dengan tangan kosong."

Bukan main terkejutnya pencuri itu, ditambah dia merasa keheranan dengan perkataan Ahmad ibnu Khuzuruyah. Si pencuri segera mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat malam. Ketika keesokan harinya, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki datang kepada Ahmad dengan membawa uang 100 dirham untuk diberikan kepada beliau. Setelah uang itu berada di tangan Ahmad, beliaupun lalu memberikan uang itu kepada si pencuri seraya berkata,
"Ambillah uang ini sebagai hadiah dari shalatmu tadi malam."

Setelah mendengar perkataan Ahmad, hati dan seluruh tubuh pencuri itu menjadi bergetar. Tanpa disadari, air mata pun telah menetes di pipinya. Lalau si pencuri berkata,
"Sesungguhnya aku telah menempuh jalan yang salah, tetapi hanya dengan shalat satu kali saja, Allah SWT telah memberikan anugerah kepadaku sebanyak ini. Sungguh aku orang yang tidak tahu malu."

Setelah peristiwa di pagi itu, si pencuri benar-benar ingin bertaubat dari segala apa yang diperbuatnya selama ini dan ingin kembali ke jalan yang benar. Bahkan ia pun menolak uang pemberian dari Ahmad Ibnu Khusruya dan ingin menjadi murid beliau untuk belajar agama Islam.

Demikianlah kisahnya.
Jika Allah SWT sudah berkehendak untuk memuliakan seseorang, maka Dia pun akan memberikan hidayah dan kemudahan kepadanya dalam menjalankan syariat-Nya, seperti dalam kisah shlat malam di atas.

Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com

Kisah Kejujuran Penjaga Kebun Anggur


Alkisah ada seorang penjaga kebun buah-buahan bernama Mubarok. Dia adalah orang jujur dan amanah. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di kebun tersebut.

Suatu hari majikannya, sang pemiliki kebun, datang mengunjungi kebunnya. Ia sedang mengalami masalah yang pelik dan sulit untuk dicarikan jalan keluarnya. Putrinya yang sudah beranjak dewasa tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan banyak pria yang ingin mempersuntingnya.

Yang menjadi permasalahan baginya adalah semua laki-laki yang ingin mempersunting putrinya adalah kerabat dan teman dekatnya. Ia harus memilih salah satu dari mereka, tetapi ia khawatir jika menyinggung bagi kerabat yang tidak terpilih.

Sambil beristirahat dan menenangkan pikiran, ia mencoba mencicipi hasil kebunnya. Dipanggillah Mubarok, penjaga kebun itu.

“Hai Mubarok, kemarilah! Tolong ambilkan saya buah yang manis!” perintahnya.

Dengan sigap Mubarok segera memetik buah-buahan yang diminta, kemudian diberikan kepada majikannya.

Ketika buah tersebut dimakan sang majikan, ternyata rasanya masam sekali. Majikan Mubarok berkata, “Wahai Mubarok! Buah ini masam sekali! Berikan saya buah yang manis!” pinta sang majikan lagi.

Untuk kedua kalinya, buah yang diberikan Mubarok masih terasa masam. Sang majikan terheran-heran, sudah sekian lama ia mempekerjakan Mubarok, tetapi mengapa si penjaga kebun ini tidak mampu membedakan antara buah masam dan manis? Ah, mungkin dia lupa, pikir sang majikan. Dimintanya Mubarok untuk memetikkan kembali buah yang manis. Hasilnya sama saja, buah ketiga masih terasa masam.

Rasa penasaran timbul dari sang majikan. Dipanggillah Mubarok, “Bukankah kau sudah lama bekerja di sini? Mengapa kamu tidak tahu buah yang manis dan masam?” tanya sang majikan.

Mubarok menjawab, “Maaf Tuan, saya tidak tahu bagaimana rasa buah-buahan yang tumbuh di kebun ini karena saya tidak pernah mencicipinya!”

“Aneh, bukankah amat mudah bagimu untuk memetik buah-buahan di sini, mengapa tidak ada satu pun yang kaumakan?” tanya majikannya.

“Saya tidak akan memakan sesuatu yang belum jelas kehalalannya bagiku. Buah-buahan itu bukan milikku, jadi aku tidak berhak untuk memakannya sebelum memperoleh izin dari pemiliknya,” jelas Mubarok.

Sang majikan terkejut dengan penjelasan penjaga kebunnya tersebut. Dia tidak lagi memandang Mubarok sebatas tukang kebun, melainkan sebagai seseorang yang jujur dan tinggi kedudukannya di mata Allah SWT. Ia berpikir mungkin Mubarok bisa mencarikan jalan keluar atas permasalahan rumit yang tengah dihadapinya.

Mulailah sang majikan bercerita tentang lamaran kerabat dan teman-teman dekatnya kepada putrinya. Ia mengakhiri ceritanya dengan bertanya kepada Mubarok, “Menurutmu, siapakah yang pantas menjadi pendamping putriku?”

Mubarok menjawab, “Dulu orang-orang jahiliah mencarikan calon suami untuk putri-putri mereka berdasarkan keturunan. Orang Yahudi menikahkan putrinya berdasarkan harta, sementara orang Nasrani menikahkan putrinya berdasarkan keelokan fisik semata. Namun, Rasulullah SAW mengajarkan sebaik-baiknya umat adalah yang menikahkan karena agamanya.”

Sang majikan langsung tersadar akan kekhilafannya. Mubarok benar, mengapa tidak terpikirkan untuk kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Islamlah solusi atas semua problematika umat manusia.

Ia pulang dan memberitakan seluruh kejadian tadi kepada istrinya. “Menurutku Mobaroklah yang pantas menjadi pendamping putri kita,” usulnya kepada sang istri. Tanpa perdebatan panjang, sang istri langsung menyetujuinya.

Pernikahan bahagia dilangsungkan. Dari keduanya lahirlah seorang anak bernama Abdullah bin Mubarok. Ia adalah seorang ulama, ahli hadis, dan mujahid. Ya, pernikahan yang dirahmati Allah SWT dari dua insan yang taat beribadah, insya Allah, akan diberi keturunan yang mulia.

Sumber: KisahIslami.com