Taki Takazawa, Mantan Tukang Tato Yakuza Jadi Imam Masjid di Jepang


Taki Takazawa, Mantan Tukang Tato Yakuza Jadi Imam Masjid di Jepang

Hidayah memang bisa datang ke siapa saja bahkan untuk orang dengan latar belakang yang tidak disangka sama sekali. Kisah yang saya temukan dari merdeka.com ini menarik untuk disimak. Mengisahkan bagaimana seorang Taki Kazawa, dari yang dulunya kerja tukang tato untuk Yakuza, beralih jadi imam masjid di Jepang. Sebelum baca ceritanya, dari judulnya saya coba tebak keterkaitannya dimana.

Yakuza itu mafia terkenal tidak hanya di Jepang, tapi sudah go internasional. Mafia yang terkenal kriminal kelas berat ini punya banyak cara untuk menghasilkan uang, termasuk dengan investasi di berbagai negara. Nah saya coba kaitkan dengan imam masjid, setelah muter-muter saya malah bingung titik nyambungnya dimana. Ah sudahlah, ini ceritanya yang saya repost langsung.

Nama aslinya Taki Takazawa. Rambutnya gondrong dan tubuhnya dipenuhi tato. Secara penampilan, dia nampak mirip dengan anggota kelompok mafia Jepang, biasa disebut Yakuza. Dia memang mantan tukang tato para anggota geng paling ditakuti di Negeri Matahari Terbit itu. Selama 20 tahun profesi itu digelutinya.

Tapi pandangan negatif pada penampilan fisiknya itu berubah saat dia mengumandangkan Azan. Takazawa kini menjadi Imam sebuah masjid di Ibu Kota Tokyo. Setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat, Takazawa mencantumkan nama muslim Abdullah, berarti Hamba Allah SWT.

Perkenalannya dengan Islam secara tidak sengaja terjadi di Wilayah Shibuya. Takazawa melihat seseorang dengan kulit dan janggut putih. Orang itu juga mengenakan baju dan turban warna suci. "Orang itu memberikan sebuah kertas dan menyuruh saya membaca kalimat tertera bersama dia," ujarnya.

Taki Takazawa, Mantan Tukang Tato Yakuza Jadi Imam Masjid di Jepang
Kalimat itu ternyata Syahadat, pengakuan pada ke-esaan Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai utusannya. Meski tak paham secara keseluruhan, Takazawa pernah mendengar sepintas Allah dan Muhammad. Seperti kebanyakan penduduk Jepang, Takazawa menganut aliran kepercayaan Shinto.

Pertemuan dengan orang serba putih itu membekas di ingatan Takazawa. Dua tahun setelah memeluk Islam, dia bertemu lagi dengan sosok inspiratifnya itu. "Ternyata dia pernah menjadi Imam di Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. Saya bersyukur bisa bertemu dengannya," katanya.

Taki Takazawa, Mantan Tukang Tato Yakuza Jadi Imam Masjid di Jepang

Imam Masjid Nabawi itu meminta Takazawa untuk menjadi Imam di masjid di wilayah Shinjuku. Sebelumnya, dia melaksanakan ibadah haji dan menimba ilmu beberapa bulan di Kota Makkah. Nama Takazawa terkenal lantaran dia menjadi satu diantara lima imam Masjid besar di Jepang, dari 13 juta populasi manusia di Tokyo.

Sumber:
http://www.merdeka.com/dunia/lima-kisah-inspiratif-mualaf-sejagat/taki-takazawa-mantan-tukang-tato-yakuza-jadi-imam-masjid-di-jepang.html
http://aragani.com/2013/08/02/taki-takazawa-dari-tukang-tato-yakuza-jadi-imam-masjid-di-jepang/

Buku Hikari No Michi (Jalan Cahaya), Kumpulan Kisah Para Muallaf Jepang



Kami adalah orang-orang yang sangat beruntung di muka bumi ini. Karena kami adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan hidayah dari-Nya, Sang Maha Cinta. Cahaya Di Atas Cahaya. Kami, yang semula hidup dengan dalam kegelapan duniawi, mendapatkan kesempatan kedua, untuk menjalani hidup baru. Hidup menelusuri jalan cahaya, jalan-Nya yang lurus. Cinta kami pada-Nya takkan pernah berkesudahan.

Kami hidup di negara yang termasuk paling modern di dunia ini. Negara di mana perkembangan teknologi begitu maju pesat, namun budaya tradisional masih melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Negara yang kental dengan tradisi seperti menyambut musim gugur, saling melempar air yang dianggap suci dengan memakai wadah ember kayu, perayaan menyambut arwah di musim panas, hingga menggantungkan boneka kain putih untuk meminta atau menolak hujan. Negara di mana agama bukanlah salah satu hal yang menarik dan sebagian besar penduduknya tidak tertarik pada suatu agama dengan serius. Negara tempat kami lahir dan dibesarkan, negeri matahari terbit. Jepang. Di sanalah, cahaya Allah pun terbit bagi kami.

Kisah-kisah kami dalam menemukan jalan cahaya berbeda-beda. Abe Yuki-san, seorang wanita Jepang yang menetap di Fukuoka dipertemukan dengan muslimin Indonesia karena ia ingin belajar bahasa Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari dalam dirinya mendorongnya mengenal Al Quran dan belajar Islam di Malaysia. Dan melalui berbagai proses berliku dan perjuangan yang gigih, Allah menuntunnya ke jalan cahaya pada tahun 2000.

Suguro-san, salah satu saudara kami, menemukan jalan cahaya setelah ia mengalami berbagai kepahitan dalam hidup. Ujian demi ujian menderanya, membuat hatinya kering hingga timbul niat untuk bunuh diri. Setelah lelah dengan mendatangi berbagai konseling dan terapi jiwa yang tak bisa mengobati luka hati, Allah menuntun langkah-langkah Suguro-san ke masjid dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia mendengar lantunan ayat-ayat suci-Nya. Melalui itulah, Sang Maha Cinta membawanya kembali menelusuri jalan cahaya.

Kemudian ada Ikuko-san yang menemukan cahaya Allah melalui surat Al Fatihah yang dibacakan sahabatnya. Pencarian panjang dan ujian yang dihadapi sepanjang hidupnya, luruh sudah dengan masuknya Ikuko-san ke dalam gerbang cahaya-Nya.

Juga ada Tomoko-san yang sering ikut shalat tarawih pada bulan Ramadhan padahal shalat tersebut sangat panjang karena setiap malam imamnya membaca satu juz. Shalat tarawih itu adalah shalat pertamanya dan cahaya-Nya telah membuat Tomoko-san jatuh cinta pada-Nya. Sanggup berdiri sampai rakaat selesai. Ah..Cinta… hanya karena cinta kami pada-Nya lah yang membuat semuanya begitu indah dan menakjubkan.

Lain lagi yang dialami Aminah-san, yang nama aslinya adalah Itoh Michi. Aminah-san mencari tahu tentang Islam dari berbagai website dan ia amat terpesona dengan ucapan “Assalamu’alaikum”. Salam pembuka yang indah, tentu saja isi ajaran di dalamnya akan lebin indah. Begitulah Allah menuntunnya ke jalan cahaya melalui salam sejahtera.

Mereka semua hanyalah beberapa contoh di antara kami yang telah memasuki gerbang cahaya. Gerbang yang menuntun kami semua menelusuri jalan cahaya, jalan-Nya yang lurus. Walau seringkali rintangan dan ujian menghadang di tengah jalan, ujian yang sungguh tidaklah ringan, namun hanya karena cinta kami pada Sang Maha Cinta yang membuat kami bertahan dan terus berjalan. Ia yang mengubah kami menjadi manusia yang lebih baik. Ia yang selalu menerangi dan membimbing kami menyusuri jalan ini. Di negeri matahari terbit ini, kami menemukan hidayah, dan di sini pula kami berjuang untuk tetap istiqomah, menuntut ilmu agama Islam, dan juga berusaha menjadi muslim yang kaffah.

Kami adalah orang-orang yang sangat beruntung di muka bumi ini. Karena kami adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan hidayah dari-Nya, Sang Maha Cinta. Cahaya Di Atas Cahaya. Kami, yang semula hidup dengan dalam kegelapan duniawi, mendapatkan kesempatan kedua, untuk menjalani hidup baru. Hidup menelusuri jalan cahaya, jalan-Nya yang lurus. Cinta kami pada-Nya takkan pernah berkesudahan.

Tentang Buku Hikari No Michi

Hikari No Michi – yang berarti jalan cahaya -  ini ditulis oleh tiga belas orang yang tergabung dalam FLP Jepang. Sebagian penulisnya tinggal di beberapa kota di Jepang dan merupakan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di sana. Sedangkan sebagian lagi tinggal di beberapa kota di Indonesia dan masih terus berinteraksi dengan muslimin dan muslimah Jepang lainnya.

Sejarah singkat Islam di Jepang, kisah-kisah para mualaf Jepang yang mengharukan, inspiratif, dan juga mencengangkan, serta pernak-pernik pengalaman berislam di Jepang, lengkap dengan info kegiatan masjid-masjid dan info toko-toko yang menjual makanan halal di sana, semuanya terangkum dengan indah di dalam catatan cinta ini. Karena bila Allah telah memilih orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk menyusuri jalan-Nya yang lurus, maka apa pun dan siapa pun tidak dapat mencegahnya. Perlahan-lahan Islam telah menyentuh hati-hati mereka yang berada di Jepang untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus. Jalan cahaya. Hikari No Michi…

Jakarta, 17 Mei 2009 at 11.00 p.m.

Dipersembahkan untuk seluruh mualaf Jepang dengan penuh cinta…

http://mutiaracinta.multiply.com
http://forumlingkarpena.multiply.com
http://lingkarpena.multiply.com

Sekuntum Cinta Dari Negeri Sakura


Ikuko menatap butiran-butiran salju yang luruh di luar jendela apartemennya. Butiran salju yang melayang-layang diterpa angin musim dingin dan kemudian jatuh ke tanah dan menyatu dengan hamparan putih yang sudah lebih dulu menyelimuti jalan. Dingin terasa menusuk tulang. Sambil bergetar, Ikuko membaca kembali surat di tangannya.

"Ikuko-san, pulanglah, Nak. Sudah berbulan-bulan ayahmu tidak pulang. Mungkin ia sedang ada masalah di pekerjaannya. Ibu rindu padamu. Salam kangen. Ibu."

Ikuko mendengus. "Masalah di pekerjaan? Semua orang tahu apa yang dilakukan Ayah. Tidak heran bila suatu saat nanti tiba-tiba muncul seorang bayi mungil yang kelak memanggilku kakak." Diremasnya kertas itu kuat-kuat.

"Ibu memang seorang wanita kuat. Seumur hidupnya diabdikan untuk melayani Ayah dan sekaligus menerima dengan sabar semua perlakuan kasar Ayah," Ikuko terbayang semua yang dialaminya. Ayahnya seorang pegawai rendahan yang suka mabuk-mabukan. Dan itulah salah satu alasan Ikuko pergi meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke Tokyo. Hidup sudah tidak berarti apa-apa lagi di bawah rasa takut akan pukulan ayahnya. Pergi jauh-jauh dari Kyoto, itulah cita-cita Ikuko sejak ia beranjak remaja.

"Apa yang harus kulakukan?" Ikuko memijat keningnya yang seperti ditimpa ratusan ton beton. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada tumpukan buku-buku di atas meja. Buku-buku yang dipinjamkan oleh seorang sahabat di Tokyo Islamic Centre. Buku-buku itulah yang selalu menemani malam-malam Ikuko yang
panjang dan penat setelah seharian bekerja di kantor.

"Perkenalkan saya Ardiansyah dari Indonesia. Saya biasa dipanggil Ardi. Saya mahasiswa pasca sarjana Fakultas Elektro di Keio University dan saya aktif di Tokyo Islamic Centre selepas jam kuliah saya," seorang laki-laki muda berpakaian rapi dan tampak serius menyapa Ikuko ketika tanpa sengaja mereka bertemu di perpustakaan umum. Ikuko sedang mencari buku-buku masakan di sana saat itu.

"Tokyo Islamic Centre? Saya belum pernah mendengar tentang perkumpulan itu selama saya di Tokyo. Maklum saya baru dua tahun berada di sini. Nama saya Ikuko dan saya bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan swasta," jawab Ikuko sambil memandang tumpukan buku-buku yang dibawa Ardi.

Ardi tersenyum sopan. "Tokyo Islamic Centre itu bukanlah sebuah perkumpulan. Tetapi itu sebuah tempat dimana kami, umat muslim beribadah dan mengadakan berbagai kegiatan di sana."

"Muslim?" tanya Ikuko heran. Hampir seumur hidupnya ia baru tahu bahwa ada perkumpulan bernama muslim.

"Ya. Kami beragama Islam dan Islam itu bukan semacam perkumpulan atau organisasi," jawab Ardi sopan.

"Agama Islam? Sepertinya menarik. Sejak kecil saya terbiasa dibawa sembahyang di kuil di Kyoto oleh ibu saya. Walaupun saya juga tidak mengerti apa sebenarnya yang kami lakukan di sana," rasa ingin tahu Ikuko perlahan mulai muncul. "Hmm maaf, apakah Ardi-san sedang buru-buru? Kalau tidak, saya ingin sekali mendengar tentang agama Islam itu."

Dan sejak pertemuan di perpustakaan itu, Ardi menerangkan berbagai hal tentang Islam dan meminjamkan buku-buku agama Islam pada Ikuko. Ikuko sangat bersemangat. Kadang-kadang Ikuko berkunjung ke Tokyo Islamic Centre sambil membawakan berbagai macam makanan untuk Ardi. Ardi dan teman-temannya menyambut Ikuko dengan baik. Ikuko merasa nyaman berada di sana. Satu-satunya tempat di mana ia diterima dengan baik, apa adanya, dan yang lebih penting, tidak ada lagi ketakutan akan pukulan-pukulan ayahnya serta mimpi-mimpi buruk yang kerap hinggap dalam tidurnya.

Ikuko menemukan dunia baru di sana, di tengah para mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi mereka di Tokyo. Selain agama Islam, Ikuko juga belajar bahasa Indonesia. Pernah suatu kali seorang ustadzah muda yang baru datang dari Jakarta bertanya pada Ikuko; mengapa Ikuko tertarik belajar agama Islam. "Orang-orang di perkumpulan ini baik hati dan ajaran di perkumpulan ini baik," jawab Ikuko polos. Saat itu ia masih menganggap Tokyo Islamic Centre itu sebuah perkumpulan.

Tidak seorangpun yang melarang Ikuko menyebut tempat itu sebagai perkumpulan. Dengan sabar, ustadz-ustadz muda di sana mengajari Ikuko berbagai hal. Buku-buku agama Islam bertebaran memenuhi apartemen Ikuko yang kecil di pinggiran Tokyo. Ia masih mencari, tetapi belum mendapat apa yang
dicarinya. Hingga surat lusuh dari ibunya itu mengubah segalanya.

Pulang ke Kyoto adalah mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Ikuko. KepergianIkuko ke Tokyo membuat Ibu menjadi bulan-bulanan kemarahan Ayah. Ayah menganggap Ibu tidak becus mengajar anak sehingga Ikuko pergi dari rumah. Belum lagi wanita-wanita dengan parfum murahan yang dibawa Ayah ke rumah.
Membayangkannya saja membuat perut Ikuko mual.

"Pulanglah, Ikuko-san. Kasihan ibumu sangat merindukanmu. Masih ingat apa yang diajarkan Ustadz Ahmad beberapa waktu lalu bahwa kita harus menghormati ibu kita," kata Ardi ketika Ikuko menceritakan tentang surat itu.

"Tetapi aku takut pulang ke Kyoto, Ardi-san. Aku takut aku tidak dapat lagi keluar dari sana dan terperangkap dalam mimpi buruk sepanjang hidupku. Aku tidak dapat lagi bertemu denganmu dan teman-teman di sini. Aku tidak mau surat ini merampas semua kebahagiaan yang ada dalam genggamanku saat ini,"
ujar Ikuko sambil merobek-robek surat itu.

"Allah memerintahkan kita untuk menghormati Ibu sebelum yang lainnya. Ia yang mengandung dan bertarung nyawa melahirkan kita di dunia ini. Paling tidak, ia pantas mendapat sedikit penghormatan darimu, Ikuko," Ardi menghela napas panjang. Ia menatap wajah Ikuko yang berkerut-kerut menahan marah.

"Hanya Allah yang bisa membolak-balik hatinya," bisik Ardi dalam hati. Sudah hampir setahun Ikuko belajar agama Islam di Tokyo Islamic Centre dengan kemauannya sendiri, tetapi sepertinya hidayah Allah belum menyapa gadis itu. Hidayah itu memang mahal.

"Kalau begitu, Ardi-san, mohon temani aku pergi ke Kyoto menjenguk Ibu selama beberapa hari. Bila ada Ardi-san, Ayah tidak akan berani macam-macam dan tidak ada yang bisa menahanku untuk tinggal di sana," itulah keputusan Ikuko malam itu. Dan keesokan harinya, Ardi dan Ikuko sudah berada dalam kereta api yang membawa mereka menuju Kyoto.

Musim dingin sudah menyelimuti Kyoto dengan tirai-tirai putihnya yang sedingin es dan seburam kaca tua. Langit berwarna abu-abu kemerahan ketika Ardi dan Ikuko tiba di pinggiran kota Kyoto. Kuil-kuil berdiri membisu di tengah rimbunan pohon-pohon yang kaku berselimutkan salju. Loncengnya berdentang sekali dua kali memecah kesunyian bagaikan lonceng kematian yang siap mencabut nyawa-nyawa yang berada dalam penjara kesunyian.

Mereka tiba di rumah Ikuko saat senja hampir tiba. Rumah itu sedingin gerimis. Sunyi. Sepi. Sungai kecil yang mengalir di sampingnya turut membeku. Tidak ada seorangpun di beranda. Ikuko membuka pintu kayu dan masuk ke dalam seraya memanggil ibunya. Keadaan di dalam rumah tak kalah dinginnya dengan cuaca di luar. Debu menyelimuti perabot rumah. Ikuko berjingkat perlahan memasuki kamar ibunya. Tak sampai semenit, terdengar teriakan histeris Ikuko.

Ardi segera menerobos masuk ke kamar itu. Ikuko menangis keras di atas tatami lusuh di samping sebuah tilam kusam. Ia menutup wajahnya sambil terus menangis. Di atas tilam itu, Ardi melihat sesosok wanita tua yang hampir mengerut saking kurusnya. Tidak ada tanda-tanda nafas kehidupan dari tubuhnya yang ringkih itu. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Ardi mengucap pelan. Sekuntum Al Fatihah perlahan terdengar dari mulutnya.

Bismillahirahmaanirahiim, Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin, Ar-Rahmaanir Rahiim, Maaliki yaumid diin, Iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, Ihdinas siraatal mustaqiim, Siraatal ladziina an'amta 'alayhim gayril magduubi 'alayhim wa laddaalliin. Amiin

Ikuko bergetar mendengar ayat-ayat Surat Al Fatihah yang dibaca Ardi. Ia belum hapal ayat itu dan ia masih belum mengerti artinya. Hangat menyelimuti seluruh relung jiwanya. Menerobos masuk ke dalam sudut-sudut kesadarannya yang terdalam. Jalan yang lurus. Jalan itu lurus bersimbah cahaya. Di kiri dan kanannya dan juga di atasnya. Cahaya itu menggenggam jiwa Ikuko erat. Seluruh tubuhnya berguncang. Mimpikah ia? Tidak. Ikuko tidak bermimpi. Cahaya itu ada di hadapannya. Dan kalaupun ia sedang bermimpi, Ikuko tidak
mau bangun lagi. Jalan itu Jalan yang lurus.

"Ardi-san, aku ingin mengucapkannya. Aku ingin masuk Islam sepertimu dan teman-teman di Tokyo Islamic Centre. Aku ingin berada di jalan itu, Ardi-san. Jalan yang lurus," dengan berlinang air mata, kata-kata itu berhamburan dari mulut Ikuko. Ardi tercengang. Berbulan-bulan Ikuko belajar agama Islam di Tokyo, baru saat ini keinginan itu terlontar darinya. Rencana Allah memang seringkali sukar dipahami manusia.

Dan keesokan harinya, setelah pemakaman Ibu yang sederhana, di antara kuil-kuil dingin yang membeku dan di tengah musim dingin yang kian menggigit kota itu, Ikuko mengucapkan dua kalimat syahadat. Ardi menjadi saksi melangkahnya Ikuko ke dalam gerbang cahaya-Nya di hadapan seorang ustadz tua pengurus musholla kecil di pinggiran Kyoto.

"Ashyadu alaa ilaaha ilallahu wa ashadu anna muhammadar rasulullah Hamba bersaksi, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan hamba bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah"

Sekuntum cinta telah mekar di sana, di negeri sakura yang flamboyan. Saat Sang Cinta memperbolehkan Ardi menghantar Ikuko ke dalam cahaya-Nya yang abadi.

Jakarta, 14 Agustus 2007 at 10.15 p.m.
Dipersembahkan untuk Miki Terada, muallaf DT Jakarta, dengan penuh cinta

Sumber: http://groups.yahoo.com/neo/groups/daarut-tauhiid/conversations/topics/27330

Pohon Sakura Di Tengah Padang



Musim telah berganti, cuaca angin sepoi mendayu dedaunan pohon sakura. Langkah kaki tak terasa sudah jauh menelusuri perkampungan di negeri matahari. Alamnya yang asri bersahabat, menambah suasana menjadi akrab dengan hati yang gundah karena jauh dari kampunng dan tanah air. Hanya dengan banyak bersyukur kepada Allah SWT semata yang menjadikan jiwa dan raga kuat berpijak dimanapun kaki melangkah di bumi ciptaan-Nya.

Suatu tantangan dan sekaligus seni sendiri bagi saya untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim di negeri sakura yaitu Jepang yang mayoritas beragama shinto dan bahkan sebagian besar rekan kerja seperusahaan mengaku tidak mempercayai adanya Tuhan, ataupun hal gaib. Dengan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, menjadikan mereka semakin angkuh dengan kepintaran mereka, itulah salah satu sisi kelemahan mereka. Tapi di balik itu semua, mereka memiliki kebiasaan yang patut dipuji dalam kehidupan mereka. Beberapa contohnya, kebiasaan mereka dengan hal sepele tapi berbobot seperti tidak membuang sampah di sembarangan tempat, bahkan mereka akan membawa pulang sampah mereka sendiri apabila di jalan tidak menemukan tempat sampah, sekalipun itu adalah bekas puntung rokok. Kemudian tidak menyeberang atau melewati lampu merah di lalu lintas walaupun jalan dalam keadaan sepi.

Pernah suatu ketika, seorang teman yang memilki uang yang di sakunya jatuh tercecer di jalan umum yang ramai dengan hiruk-pikuk manusianya, tanpa sepeserpun yang hilang, padahal dalam jumlah cukup banyak setelah seharian di cari yang akhirnya ditemukan di pos keamanan setempat, yang ternyata ada orang Jepang yang menyerahkannya ke pos tersebut...Subhanallah, membuat saya berdecak kagum dengan kebiasaan positif mereka yang benar-benar dijadikan kebiasan sehari-hari dan bukan hanya sekedar teori yang dihafal semata.

Saya pribadipun menjadi malu di hadapan Allah ketika bercermin dengan kebiasaan baik mereka, orang Jepang yang sebagian besar tidak mempercayai adanya Tuhan dengan kebiasaan masyarakatku di tanah air Indonesia yang notabenenya mayoritas Islam tapi kebiasaan masyarakat tidak sesuai sunnah yang di contohkan Rasulullah. Justru di negeri kaum atheis ini saya mempelajari dan membiasakan kebiasaan baik tersebut, dan menjadi tantangan terberat dalam berdakwah di negeri sakura, karena mereka lebih mempercayai hal yang nyata dan terlihat, sehingga mereka selalu membuat perbandingan dengan keadaan Indonesia yang mayoritas muslim.

Tapi ada sisi lain yang tidak dimiliki oleh sebagian besar mereka, yaitu persaudaraan dan kekeluargaan. Salah satu kebiasaan mereka, ketika seorang anak memperoleh pekerjaan, maka putus sudah kewajiban dan hak diantara mereka. Anak akan menjadi mesin penghasil pajak buat pemerintahnya, sedangkan orangtua menjadi asuhan pemerintah di panti jompo. Inilah yang menjadi kekurangan mereka dalam hidupnya jika dibandingkan dengan kita sebagai muslim yang selalu taat dan merawat orangtua sampai akhir hayat. Keharuanpun terjadi ketika ngobrol dengan salah seorang nenek berumur 90 tahun yang tidak pernah bertemu anaknya lagi. Suatu ketika, bertepatan dengan idul Fitri, di mana umat muslim sedunia merayakan hari kemenangan, kamipun kaum minoritas ikut merayakan walaupun hanya sekitar 30 jamaah yang merayakannya. Tapi ada sesuatu yang asing di antara jamaah itu, yaitu kehadiran seorang nenek tua yang pernah saya ngobrol dengan saya sebelumnya. Beliaupun meminta rahasia keakraban diantara kami. sayapun dengan senang hati menjawabnya, kami bersatu dan bersaudara karena sesama muslim. Yang di mana hal itu tidak dapat mereka ciptkan dengan teknologi yang mereka miliki.

Penulis : Abdul Rauf
Bandung

Sumber: Dakwatuna.com

Tersentuh Melihat Keluarga Muslim Yang Santun dan Ramah, Wanita Jepang ini Masuk Islam


Beberapa bulan yang lalu ada teman mahasiswa dari Mesir yang menikah dengan orang Jepang. Pernikahan dilakukan secara sederhana dengan syariat Islam di mesjid kami di Niigata yang belum selesai seluruhnya. Sang pengantin wanita yang mualaf datang bersama orang tua, keluarga dan beberapa teman dekatnya. Dia datang dengan memakai kimono dilengkapi dengan jilbab. Yang menarik, teman-temannya yang wanita juga datang dengan memakai kerudung untuk menghormati tamu yang sebagian besar adalah muslim.

Seminggu setelah pernikahannya, saya bertemu lagi dengan mahasiswa Mesir tersebut. Saya tanya kepada dia bagaimana akhirnya sang istri bisa menjadi seorang muslimah. Beberapa waktu sebelumnya, sang istri pernah datang berkunjung ke Inggris untuk suatu keperluan selama enam bulan. Di situ dia melihat satu keluarga Arab yang bertingkah laku sangat ramah, sopan dan menarik hati. Setelah itu dia banyak mencari tahu tentang apa itu Islam dan mulai tertarik untuk mempelajarinya. Tak lama, diapun masuk Islam dengan dibantu oleh seorang ulama besar di Inggris dan berganti nama menjadi Aisyah. Setelah itu dia mendapatkan sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa dia telah beragama Islam yang dikeluarkan Islamic Center di sana.

Cerita tentang orang yang mendapatkan hidayah kemudian masuk Islam memang menarik. Diantaranya kisah sahabat rasul Umar bin Khatab yang tersentuh dan akhirnya masuk Islam karena mendengar adiknya yang sedang melantunkan AlQuran. Padahal sebelumnya Umar hendak mencari nabi Muhammad SAW dan berniat membunuhnya. Yang sangat terkenal di abad modern ini adalah kisah penyanyi terkenal asal Inggris Yusuf Islam (Cat Stevens) yang masuk Islam setelah lelah berkelana mencari arti kehidupan. Awalnya dia juga bersentuhan dengan Islam melalui AlQuran yang diberikan oleh kakaknya. AlQuran dengan kata-katanya yang sangat menyentuh hati dan indah banyak membawa orang akhirnya bergabung menjadi muslim.

Kembali ke kisah teman tadi, sang wanita Jepang tersentuh hanya karena melihat sebuah keluarga yang sangat santun dan ramah kepadanya. Ini artinya Islam mewarnai kehidupan keluarga tersebut sehingga dalam kehidupan sehari-harinya mereka menjiwai setiap kata, ucapan dan perilakunya yang Islami. Dan ternyata tanpa perlu membujuk rayu, ada orang yang tertarik sehingga akhirnya membuat dia menjadi seorang muslimah. Contoh dan teladan Islami yang membuat sang wanita tertarik, bukan khotbah, nasihat atau paksaan.

Sudahkah kita memperlihatkan keislaman kita dalam kehidupan sehari-hari? Kelihatannya sangat sederhana, tapi apabila ada orang yang melihat kita kemudian tertarik untuk masuk Islam, maka pahala dan rahmat dari Allah SWT akan kita terima melalui mualaf tersebut beserta anak keturunannya.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2009/03/07/menjadi-muslim-yang-memberikan-teladan-4056.html