Perjalanan ke Dunia Hikmah


Perjalanan ke Dunia Hikmah
“Saya mendapat cerita luar biasa darinya. Pelajaran buat kalian, kelak kalau mencari pasangan hidup jangan sekedar berpatokan fisik dan hartanya.” Kami menyimak penuturannya sambil melanjutkan kegiatan mencatat kosakata bahasa Arab yang tertulis di papan tulis.

Konon, datang seorang pemuda ke rumah orang tua kekasihnya. Ia hendak melamar gadis pujaannya. Seperti kebanyakan orang tua, ayah gadis itu sangat memperhatikan bibit, bebet, dan bobot calon menantunya. Malang, pemuda itu pulang membawa kekalahan karena tidak lolos kriteria menantu idaman. Ia bukan berasal dari keluarga kaya dan belum mapan secara finansial.

Sekian tahun berlalu. Matahari terbit dan tenggelam setiap hari. Pemuda itu tetap melanjutkan hidupnya. Ia bekerja. Ia berhubungan dengan banyak orang. Singkatnya, ia menjadi orang yang sukses. Ia memiliki kebun kelapa sawit yang sangat luas di luar tanah Jawa. Dan yang paling penting, ia telah menikah dan memiliki dua orang anak. Ia hidup dengan bahagia.

Namun, musibah datang kepadanya suatu hari. Istrinya meninggal karena digerogoti penyakit. Saat itu anaknya seusia anak-anak SD dan SMP. Pada awalnya, ia berusaha mengatasi urusan rumah tangga dengan tangannya sendiri. Akan tetapi, ia kewalahan. Setelah berdialog dengan kedua anaknya, ia pun memutuskan untuk mencari ibu baru bagi anak-anaknya.

Suatu hari, seorang rekannya di jejaring sosial merekomendasikan wanita perawan yang sudah berumur 40 tahun. Wanita itu telah mengalami perjodohan berulang kali, tetapi tidak satupun yang berhasil. Kadang pihak pria mantap mempersuntingnya, tetapi wanita itu menolak. Kadang wanita itu bersedia dinikahi, tetapi pihak pria tidak berniat melanjutkannya ke pelaminan. Selalu seperti itu selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, ayah dua anak itu tidak keberatan dengan kondisi si wanita. Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia terhubung dengan wanita itu dan keduanya memutuskan untuk bertemu. Ia terbang ke pulau Jawa secepat yang ia bisa.

Betapa terkejutnya pria itu ketika tiba di depan rumah si wanita. Pemandangan di depannya tidak asing. Pagar rumah itu. Pohon di depan rumah itu. Bahkan cat rumah itu, sangat akrab dengan matanya. Hatinya berdegup kencang. Pikirannya sibuk berprasangka. Sejak awal, ia merasa tidak asing dengan alamat rumah yang diberikan wanita itu. Tetapi ia menepis dugaannya. Mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya.

Ketika pintu rumah itu terbuka, seorang wanita muncul dari balik pintu. Pandangan mata kedua orang itu bertemu. Mendadak waktu berhenti. Mendadak semua cahaya padam. Hanya ada mereka berdua. Bertahun-tahun yang lalu, pria itu datang ke rumah itu. Sekarang, dengan maksud yang sama, pria itu kembali ke rumah itu. Bedanya, ia bukan lagi pemuda miskin yang merindukan bulan.

Heran dengan kelakuan anaknya yang terdiam di depan pintu, ayah wanita itu mendekatinya. Betapa terkejutnya ia menyaksikan pria yang berdiri di halaman rumah. Langkahnya tertatih menghampiri pria itu. Ia hendak memastikan penglihatannya tidak salah. Bahwa pria itu adalah pemuda miskin yang melamar anaknya bertahun-tahun yang lalu.

Pria itu juga berjalan mendekati si ayah. Matanya berkaca-kaca. Ketika keduanya berada pada jarak sejengkal, pria itu berkata, “Ini saya, Pak. Anda tidak salah lihat. Maafkan atas kebebalan saya. Saya datang lagi kemari hendak melamar putri Bapak lagi,” suaranya bergetar, lalu pria itu menunjuk mobil yang ia parkir di luar pagar rumah. Ia bermaksud mengatakan bahwa mobil itu miliknya, tetapi ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Pertahanan si ayah runtuh. Tangisnya tidak mampu ia bendung lagi. Ia peluk pria itu erat-erat. Ia tepuk bahu pria itu keras-keras. “Maafkan Bapak, Nak. Maafkan Bapak,” katanya sesenggukan. Di belakang mereka, si wanita sudah bercucuran air matanya.

Air mata haru juga mengisi sudut-sudut mataku. Dari sekian banyak kisah yang diceritakan guru kami, inilah kisah paling indah yang pernah kudengar. Pada akhirnya, kedua orang itu menikah dengan restu semua anggota keluarga. Mungkin takdir berkata bahwa mereka memang jodoh. Mungkin Allah menegur ayah wanita itu yang terpukau dengan indahnya dunia. Hari itu, aku belajar mencintai akhirat dari kisah sepasang kekasih itu. Memahami bahwa kehidupan dunia itu semu. Kejayaan senantiasa dipergilirkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Supaya manusia berpikir dan mengambil hikmahnya.

Penulis : Henny Nur Alifah
Sleman, Yogyakarta

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2013/11/perjalanan-ke-dunia-hikmah.html

Keikhlasan Di Balas Keindahan



Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah Sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Condong Catur demi menyambung hidup. Mbah Sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “Mau nonton apa saya malam ini?”, Mbah Sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

Ilustrasi | Google Image

Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi Mbah Sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika Mbah Sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“Wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“Wah mas gak ada uang pas ya?”

“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“Maaf Mas, saya nggak punya uang kembalian”

“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi Mbah Sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “Ikhlas. Insya Allah akan dapat gantinya.”

Waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakMu.”

Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Saat ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“Wah kebetulan kita ketemu disini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“Tapi ini terlalu banyak mas”

“Saya bayar sol sepatu cuma Rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

Tuhan punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.

Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan,,
Kesuksesan akan menyertai keikhlasan dan rasa syukur.

Kisah Nyata Wartawati Inggris Mengenal Islam Dari Taliban


Gimana rasanya jika ditawan atau ditangkap musuh? Mungkin susah untuk membayangkan nasib anda akan berakhir pada sebuah kebahagiaan. Apalagi, jika menghadapi tuduhan sebagai mata-mata, penyusup, dan lain sebagainya. Namun, tidak demikian dengan apa yang dirasakan Yvonne Ridley, wartawati Inggris.

Perempuan paruh baya ini justru mengaku bahagia setelah ditangkap dan diinterogasi pasukan Taliban yang oleh media masa Amerika Serikat, digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras dan kejam. Ridley yang bekerja sebagai wartawan Sunday Express, surat kabar terbitan Inggris, pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik.

Saat itu, perempuan kelahiran tahun 1959 di Stanley, Inggris, ini mencoba menyusup ke Afghanistan secara ilegal, tanpa paspor maupun visa. Ridley yang kerap ditugaskan ke daerah-daerah konflik di dunia ini, tertangkap basah di sebelah timur Kota Jalalabad. Penyamarannya terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh. Saat ditangkap, Ridley tengah mengenakan burqa, sejenis busana Muslimah tradisional Afganistan. Saat ditangkap, ketakutan mulai merayapi Ridley. Ia mulai diinterogasi selama 10 hari tanpa diperbolehkan menggunakan telepon ataupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulang tahun ke-9.

Selama menjalani proses interogasi, Ridley mengaku tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percayai sebagai ‘kebenaran’. Awalnya, bagi Ridley, Taliban sama seperti yang digambarkan media massa Eropa maupun Amerika bahwa kelompok Islam ini disebut sebagai teroris. Namun, perlakuan yang diterima Ridley selama menjalani masa penahanan dan interogasi justru mengubah semua pandangannya mengenai orang-orang Taliban.

Menurutnya, anggapan umum kaum Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster sangat jauh dari realitas. Ridley menilai bahwa orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan mereka sangat ramah. Pengalaman saat ditangkap pasukan Taliban, justru membuatnya mengenal Islam lebih dalam. Dengan bersentuhan langsung dengan kelompok Taliban, Ridley merasakan suatu keganjilan terhadap apa yang di tuduhkan media masa terhadap Taliban. Ridley menyebut kelompok yang oleh banyak negara dicap sebagai teroris ini sebagai keluarga terbesar dan terbaik di dunia.

Dalam jumpa pers yang digelar di Peshwar seusai pembebasannya, Ridley menuturkan bahwa selama dirinya ditahan, secara fisik ia tak pernah diperlakukan dengan buruk oleh Taliban. Bahkan, perlakuan yang diterimanya tergolong cukup istimewa. Di dalam tahanan, Ridley dipisahkan dengan penghuni lainnya, termasuk para tahanan wanita. Selain itu, secara khusus, ruang tahanannya telah dibersihkan dari segala gangguan kecoa dan kalajengking. Atas pengakuan Ridley ini, banyak pihak yang mengatakan ibu dari seorang putri bernama Daisy ini terkena Sindrom Stockholm , di mana sandera malah kemudian memihak penyandera.

Tetapi Ridley membantahnya. Dalam sebuah wawancara kepada situs Islamonline, Ridley mengungkapkan saat menjadi tawanan Taliban, seorang ulama mendatangi dirinya. Sang ulama menanyakan beberapa pertanyaan tentang agama dan menanyakan apakah ia mau pindah agama. Saat itu, Ridley takut salah memberikan respons, ia takut dibunuh. Setelah berpikir masak-masak, Ridley berterima kasih pada ulama tadi atas tawarannya yang baik itu. Akhirnya dia mengatakan kepada ulama tadi bahwa sulit baginya membuat keputusan untuk mengubah hidupnya saat sedang menjadi tawanan.

Kepada sang ulama, Ridley berjanji akan mempelajari agama Islam setelah dibebaskan dan kembali ke London. Dengan pernyataan tersebut, akhirnya Ridley dibebaskan. Begitu kembali ke Inggris, Ridley membaca Alquran melalui terjemahannya. Ia mencoba memahami pengalaman yang baru dilewatinya. Setelah membaca Al-Qur’an, hatinya luluh dan takjub. Ia benar-benar takjub karena Tak ada satu pun yang berubah dari isi Al-Qur’an ini, baik titik-titinya maupun yang lainnya sejak 1.400 tahun yang lalu.

Ketika mempelajari Islam, Ridley sangat mengagumi hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling membuat dirinya tertarik pada Islam. Dalam buku yang ia tulis setelah pembebasannya, Ridley menceritakan bahwa dirinya juga sempat menemui Dr Zaki Badawi, ketua Islamic Centre London, dan berdiskusi dengannya seputar ajaran Islam. Dari sinilah Ridley memutuskan untuk memilih Islam sebagai keyakinan barunya.

Proses keislaman Ridley ini terjadi pada tahun 2003 silam. Mengenai pilihannya ini, Ridley mengungkapkan bahwa dirinya telah bergabung dengan apa yang ia anggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini (Taliban). Mengingat orang tua Ridley yang beragama Protestan Anglikan, awalnya keluarga juga teman-temannya khawatir dengan keyakinan barunya. Namun melihat kebahagiaan Ridley setelah masuk Islam, keluarga dan teman-temannya pun dapat menerima dia. Terlebih lagi ibu Ridley yang sangat bahagia karena setelah masuk Islam, Ridley meninggalkan kebiasaan lamanya yaitu meminum minuman keras.

Setelah memeluk Islam, Ridley juga memutuskan untuk mengenakan baju Muslim dan jilbab dan masih menjalankan profesinya sebagai seorang wartawan. Dedikasi Ridley sebagai wartawan memang tak diragukan lagi. Ia ini pernah bekerja pada sederet media bergengsi, seperti News of the World, The Daily Mirror, The Sunday Times, The Observer, The Independent, dan Sunday Express. Redaktur Sunday Express , Martin Townsend, pernah mengungkapkan komentarnya mengenai Ridley, mengatakan bahwa Ridley adalah seorang jurnalis yang sangat berpengalaman dan berani.

Selain itu, Colin Patterson, wakil redaktur dari Sunday Sun, menyebut Ridley sebagai pribadi yang hangat dan bersahabat. Pasca tragedi Lockerbie sembilan tahun lalu, Ridley adalah wartawan pertama yang berhasil mewawancarai Ahmad Jibril, pemimpin populer Front for the Liberation of Palestina (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina)

Sumber: 
- http://yvonneridley.org/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Yvonne_Ridley-
- http://www.youtube.com/watch?v=fFElrB2g7uE&feature=related

Kisah Istri Shalihah, Bisa Memberikan Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat


Saya sangat mengagumi seorang istri yang sengaja mengiritkan belanja, menahan diri untuk membeli makanan-makanan mahal di restoran, baju-baju bermerk, kosmetik dan peralatan kecantikan bernilai ratusan ribu, tidak meminta dan merengek dana khusus untuk dihabiskan berwisata ke luar daerah atau liburan keluar negeri, memilih mencuci baju memakai tangan bersama sang suami daripada membeli mesin cuci dan tidak tertarik membeli barang mewah selayak smartphone berharga jutaan rupiah bahkan AC sekalipun.

Lalu di suatu malam dia berkata:

"Sayangku, besok temanilah aku ke Bank Syariah, aku ingin menyerahkan sesuatu untukmu.."

"Untukku? Apakah itu?", tanya sang suami.

"Sesuatu yang sudah lama kupersiapkan untuk kita sejak 5 tahun yang lalu.."

Dan keesokan harinya, bersama suami dia mengunjungi bank tersebut dan berkata kepada petugas costumer service.

"Bu, kami ingin membuka buku tabungan haji bagi kami berdua.."

Sang suami terkejut tidak percaya dan berbisik pelan-pelan,

"Darimana uang kita untuk membuka tabungan haji sayang? Untuk sehari-hari saja kita masih berhemat.."

Isteri menjawab,

"Aku menyisakan sebahagian dari pemberianmu untuk dana haji kita. dan alhamdulillah, hari ini dana tersebut telah dapat kita lunasi.."

Subhanallah.....

Maka benarlah hadits yang berbunyi:
"Sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.", karena selain dapat membahagiakan hidup sang suami, dia juga dapat mempersiapkan jalan besar bersama sang suami menuju ke syurga.

Kisah Tentang Orang yang Menghina Al-Qur'an


Dosen: "Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay.

Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al-Quran?

Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Quran ditulis saja kok.

Yang Qurannya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan."

Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Qur'an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen. Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mahasiswa: "Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa bapak yg ada disini."ujarnya sambil membolak balik halaman diktat tersebut.

"Hhuuhhh...."semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres.

Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi,
menghempaskan dan kemudian menginjak-injak ­ diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh.

Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.

Dosen: "kamu?! Berani melecehkan saya?!Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya?! Lancang kamu ya?!" Si dosen melayangkan tangannya kearah kepala sang mahasiswa kreatif,

namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.

Mahasiswa: "Marah ya pak? Saya kan cuma nginjak kertas pak. Ilmu dan pikiran yang bapak punya kan ada di kepala bapak.

Ngapain bapak marah kalau yang saya injak cuma media buku kok. Wong yang saya injak bukan kepala bapak. Kayaknya bapak yang perlu dicerdaskan ya??"

Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat.

"Itulah salah satu hukuman langsung dri AllahTa'ala bagi siapa saja yang ingin mempermainkan atau mencaci maki Agama-Nya.

Sumber: FP Mendalami Tentang Ajaran Agama Islam Dan Sejarah Islam Dimuka Bumi Ini

Kisah Nyata Keajaiban Ayat Kursi


Ini kisah nyata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal asia yang mengenakan jilbab.

Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman. suasana jalan setapak agak sepi …. dia melewati jalan pintas yang agak gelap dan sendirian.

Di ujung jalan pintas itu dia melihat ada sosok pria kaukasian, pasti orang amerika pikirnya …. tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya ….

Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah …. kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca ayat kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah swt …..


Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa … sekilas ia melirik ke arah pria itu ….. orang itu asik dengan rokoknya … dan seolah tidak memperdulikannya ….(Alhamdulillah …. serunya dalam hati …)

Keesokan harinya .. ia lihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam … dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya dilorong gelap itu … karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan shorcut itu …..

Hati muslimah inipun tergerak karena wanita tadi melintas jalan shorcut itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana … dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.

Muslimah inipun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tsb,karena ia Menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.

Melalui kamera rahasia akhirnya muslimah inipun bisa menunjuk salah seorang yg diduga sebagai pelaku,ia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok …

Melalui interogasi polisi akhirnya orang yg diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannya … tergerak oleh rasa ingin tau, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi …

muslimah : apa kau melihat saya, saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kau perkosa itu? mengapa anda hanya menggangunya tapi tidak menggangguku ? mengapa anda tidak berbuat apa apa padahal waktu itu aku sendirian ?

penjahat : tentu saja saya melihatmu malam tadi, anda berada disana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu,saya tidak berani mengganggu anda, aku melihat ada dua orang besar dibelakang anda pada waktu itu … satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda …

Muslimah itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya .. kalbunya penuh syukur dan terus mengucap alhamdulillah. Dengkulnya bergetar mendengar penjelasan pelaku kejahatan itu, ia langsung menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi ….

Dalam hatinya ia tiada henti bersyukur … ya Allah terimakasih .. mungkin itulah perlindungan dan hikmah karena ia tiada berhenti membaca ayat kursi selama ia ketakutan dalam perjalanan pulang tersebut ….

Maha kuasa Allah dengan segala keagungan dan kekuatan gaib-Nya …

Wallahu a'lam bishshawab
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Kisah Kejujuran Penjaga Kebun Anggur


Alkisah ada seorang penjaga kebun buah-buahan bernama Mubarok. Dia adalah orang jujur dan amanah. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di kebun tersebut.

Suatu hari majikannya, sang pemiliki kebun, datang mengunjungi kebunnya. Ia sedang mengalami masalah yang pelik dan sulit untuk dicarikan jalan keluarnya. Putrinya yang sudah beranjak dewasa tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan banyak pria yang ingin mempersuntingnya.

Yang menjadi permasalahan baginya adalah semua laki-laki yang ingin mempersunting putrinya adalah kerabat dan teman dekatnya. Ia harus memilih salah satu dari mereka, tetapi ia khawatir jika menyinggung bagi kerabat yang tidak terpilih.

Sambil beristirahat dan menenangkan pikiran, ia mencoba mencicipi hasil kebunnya. Dipanggillah Mubarok, penjaga kebun itu.

“Hai Mubarok, kemarilah! Tolong ambilkan saya buah yang manis!” perintahnya.

Dengan sigap Mubarok segera memetik buah-buahan yang diminta, kemudian diberikan kepada majikannya.

Ketika buah tersebut dimakan sang majikan, ternyata rasanya masam sekali. Majikan Mubarok berkata, “Wahai Mubarok! Buah ini masam sekali! Berikan saya buah yang manis!” pinta sang majikan lagi.

Untuk kedua kalinya, buah yang diberikan Mubarok masih terasa masam. Sang majikan terheran-heran, sudah sekian lama ia mempekerjakan Mubarok, tetapi mengapa si penjaga kebun ini tidak mampu membedakan antara buah masam dan manis? Ah, mungkin dia lupa, pikir sang majikan. Dimintanya Mubarok untuk memetikkan kembali buah yang manis. Hasilnya sama saja, buah ketiga masih terasa masam.

Rasa penasaran timbul dari sang majikan. Dipanggillah Mubarok, “Bukankah kau sudah lama bekerja di sini? Mengapa kamu tidak tahu buah yang manis dan masam?” tanya sang majikan.

Mubarok menjawab, “Maaf Tuan, saya tidak tahu bagaimana rasa buah-buahan yang tumbuh di kebun ini karena saya tidak pernah mencicipinya!”

“Aneh, bukankah amat mudah bagimu untuk memetik buah-buahan di sini, mengapa tidak ada satu pun yang kaumakan?” tanya majikannya.

“Saya tidak akan memakan sesuatu yang belum jelas kehalalannya bagiku. Buah-buahan itu bukan milikku, jadi aku tidak berhak untuk memakannya sebelum memperoleh izin dari pemiliknya,” jelas Mubarok.

Sang majikan terkejut dengan penjelasan penjaga kebunnya tersebut. Dia tidak lagi memandang Mubarok sebatas tukang kebun, melainkan sebagai seseorang yang jujur dan tinggi kedudukannya di mata Allah SWT. Ia berpikir mungkin Mubarok bisa mencarikan jalan keluar atas permasalahan rumit yang tengah dihadapinya.

Mulailah sang majikan bercerita tentang lamaran kerabat dan teman-teman dekatnya kepada putrinya. Ia mengakhiri ceritanya dengan bertanya kepada Mubarok, “Menurutmu, siapakah yang pantas menjadi pendamping putriku?”

Mubarok menjawab, “Dulu orang-orang jahiliah mencarikan calon suami untuk putri-putri mereka berdasarkan keturunan. Orang Yahudi menikahkan putrinya berdasarkan harta, sementara orang Nasrani menikahkan putrinya berdasarkan keelokan fisik semata. Namun, Rasulullah SAW mengajarkan sebaik-baiknya umat adalah yang menikahkan karena agamanya.”

Sang majikan langsung tersadar akan kekhilafannya. Mubarok benar, mengapa tidak terpikirkan untuk kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Islamlah solusi atas semua problematika umat manusia.

Ia pulang dan memberitakan seluruh kejadian tadi kepada istrinya. “Menurutku Mobaroklah yang pantas menjadi pendamping putri kita,” usulnya kepada sang istri. Tanpa perdebatan panjang, sang istri langsung menyetujuinya.

Pernikahan bahagia dilangsungkan. Dari keduanya lahirlah seorang anak bernama Abdullah bin Mubarok. Ia adalah seorang ulama, ahli hadis, dan mujahid. Ya, pernikahan yang dirahmati Allah SWT dari dua insan yang taat beribadah, insya Allah, akan diberi keturunan yang mulia.

Sumber: KisahIslami.com

Jika Allah Itu Maha Baik, Kenapa Allah Menciptakan Neraka?


Ini kisah tentang seorang gadis melayu yang dangkal ilmu pengetahuan islamnya.

Didaerah tersebut memberlakukan peraturan bagi pekerja di tempat umum seperti pasar, toko-toko perniagaan dan lain-lain bagi wanitanya diharuskan mengenakan jilbab dan menutup aurat dengan benar.

Kerap kali pemerintah mengadakan pemeriksaan secara mendadak ditoko-toko dan pasar, bagi yang melanggar maka dikenakan denda.
Selain kena denda mereka yang melanggar aturan diberi nasehat dari sang ustadz yang bekerjasama dengan pemerintahan.

Suatu hari, seorang gadis tertangkap yang bekerja disebuah toko karena tidak menutup auratnya. Maka diapun kena denda. Setelah dia membayar denda, ustadz ini pun menasehati, "setelah ini, saya harap saudari bisa insaf dan mentaati peraturan.

Peraturan ini bukan semata dari aturan pemerintah melainkan menutup aurat juga perintah Allah Subhanahuwata'aala. Ringkasnya kalau kita mentaati perintahNya maka akan selamat dan berbalas surga. Sebaliknya jika durhaka maka akan celaka dan balasan neraka."

Gadis tersebut yang awalnya mendiamkan diri, tiba-tiba membentak ustadz "kalau Tuhan itu betul-betul baik, kenapa bikin neraka? Kenapa tidak sediakan surga saja? Seperti itukah Tuhan penyayang?", mungkin dari tadi gadis itu sudah panas telinganya dinasehati oleh ustadz terlebih habis terkena denda.

Ustadz itu tertunduk dan berfikir "bahaya anak ini kalau didiamkan akan rusak akhlaknya."

Setelah habis gadis itu mengomeL, ustadz pun menjawab "saudariku, kalau Tuhan tidak bikin neraka, saya tidak akan jadi ustadz. Berapa gaji seorang ustadz? Lebih baik saya jadi bandar judi yg gampang dapat uang, hidup senang, lepas matipun tak risau sebab dijamin masuk surga.

Mungkin kau juga bisa saya culik dan dijual jadi pelacur. Kalau mau lari, saya bunuh saja. Tak apa, sebab neraka tak ada. Nanti kita jumpa lagi disurga. Kan Tuhan itu baik.Gadis itu terkejut mendengar jawaban ustadz, bicara macam apa itu?

Saudariku, perkara tadi akan terjadi seandainya surga saja yg tersedia. Orang jahat, orang baik semua masuk surga. Maka, apa gunanya berbuat baik? Orang jahat lagi gampang, manusia tak lagi diuji sebab semua orang akan lulus, percuma.

Pembunuh akan berjumpa lagi dengan yang dibunuh didalam surga, perampok berjumpa Lagi dengan yang dirampok didalam surga. Tak ada yang menerima hukuman.

Adakah Tuhan yg seperti ini yg kamu mau? Kamu rasa adilkah? Tanya ustadz.

"Mana adil seperti itu. Orang jahat gak akan lepas begitu saja." Rungut si gadis.

Ustadz tersenyum "jika Tuhan tidak adil, bolehkah dianggap baik? "

Saudariku, saya kasih nasehat karena saya sayang sesama umat islam. Allah itu maha penyayang tapi Dia juga maha adil karena itu Neraka perlu terwujud untuk menghukum hamba-hamba Nya yang durhaka, yang menzalimi diri sendiri dan orang lain.

Kita sedang diuji didunia ini. Jasad kita bahkan segala-galanya milik Allah. Maka bukan hak kita untuk berbuat sesukanya. Apa yg dipinjamkan olehNya pasti akan diambil kembali olehNya.

Wallahu A'lam.

Bahagia Hanya Karena Ungkapan Kata


Seorang direktur sebuah perbankan, kaya raya punya segala-galanya, tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Seorang pemuka agama lalu mngajak sang direktur ikut ke sebuah panti asuhan agar hatinya bahagia dan tenteram.

Sang direktur menurut, namun setelah selesai acara, hati sang direktur masih belum bahagia. Ia bergumam, "pemuka agama bohong, katanya kalau ke panti asuhan hati bisa bahagia."

Ia pun melangkah ke arah mobilnya dengan lesu. Tapi baru saja kakinya melangkah hendak pulang, tiba-tiba seorang anak perempuan kecil menarik tangannya.

"Om mau pulang ya?"

"Iya" jawab sang direktur sambil tersenyum.

"Om..boleh gak Nanda minta sesuatu ke Om?" Tanya anak kecil yg bernama Nanda itu.

"Boleh, apa?"

"Tapi.. Nanda takut gak boleh sama Om."

Sang direktur tersenyum. Ia orang kaya, apa yg tidak bisa dibelinya? Apalagi untuk anak yatim piatu yg manis ini, pastilah permintaannya akan dipenuhi.

"Memangnya Nanda mau minta apa?" Tanya sang direktur sambil berjongkok dan memegang bahu Nanda.

"Om.. Nanda minta.. Nanda pengen manggil Ayah ke Om, boleh?"

Sang direktur tercengang. Tenggorokannya terasa tersumbat. Sebuah permintaan yg tidak pernah diduganya. Ternyata bukan boneka yg diminta Nanda, bukan juga uang, hanya sebuah sebutan 'Ayah'. Tanpa terasa hatinya bergetar.

"Boleh.. Nanda boleh panggil Ayah ke Om."

"Terimkasih..Ayaah. Kapan Ayah datang lagi? Nanda boleh minta lagi ke Ayah?"

"Boleh sayang, Nanda mau minta apa?"

"Nanda minta, kalau Ayah datang lagi kesini, bawa fotonya Ayah ya.. Nanda mau simpan di kamar Nanda. Kalau Nanda kangen sama Ayah, Nanda bisa liat foto Ayah."

Sang direktur pun mengangguk.

Dengan berlinang air mata sang direktur memeluk Nanda dan berkata, "Besok Ayah datang lagi kesini. Ayah akan bawa foto Ayah, dan Ayah akan sering kesini ketemu sama Nanda."

Hati sang direktur sangat bahagia. Ya, ia bahagia skrg. Ternyata bahagia itu bukan saat kita bisa memiliki segalanya, melainkan saat kita bisa memberi apa yg kita miliki untuk org lain, meski hanya sebuah ungkapan KATA .

Sumber: Facebook RuangHati.com

Kisah Inspiratif Buruh Miskin Menjadi Direktur Perusahaan Minyak Kelas Dunia


Nasib seorang manusia tidak bisa ditebak. Ada yang bernasib buruk adapula yang bernasib baik.

Begitupun jalan hidup seseorang, ada yang melewatinya dengan penuh liku, hinaan & cercaan, bahkan ada yang mulus tanpa hambatan hingga dia selamat sampai tujuan.

Kita kerapkali disajikan dengan kisah-kisah inspiratif tentang perjalanan orang-orang sukses yang berhasil menempuh perjalanan panjang dan berlubang, hingga dia sampai pada posisi mereka sekarang. Harta yang melimpah, dihormati banyak orang lengkap dengan simbol kesuksesan yang berhasil diraihnya.

Seperti cerita yang akan disajikan berikut ini.

Pemuda Pekerja Kelas Bawah
Tersebutlah seorang pemuda miskin, bertempat tinggal di negara Arab. Dia bekerja sebagai pekerja rendahan di salah satu perusahaan minyak terkemuka di sana.

Hari demi hari dia lalui dengan bekerja keras sebagai buruh, gajinya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sampai suatu hari dia merasa kehausan, sangat haus, kita bisa membayangkan betapa panas dan gersangnya di Arab sana.

Dia melihat ada botol air minum di meja, iapun bergegas meminumnya, namun sebelum air menyentuh bibirnya, dia tersentak dengan teriakan seorang insinyur. Heh, jangan kau minum air itu, air ini khusus untuk insinyur. Hentak seorang Insinyur orang Amerika.

Betapa sakit hatinya mendengar teriakan Sang Insinyur. Dirinya merasa terhina, hanya karena dia seorang pekerja rendahan, dia tidak bisa meminum segelas air, padahal dia sangat haus. Pemuda itupun bergumam apakah karena aku pekerja rendahan dan dia insinyur, sehingga aku tidak boleh meminum segelas air minum.

Sakit Hati Dijadikan Sebagai Motivasi

Hari demi hari dia jalani seperti biasa, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun rupanya hinaan yang dia terima masih terngiang di kepalanya. Ada yang luar biasa dari si pemuda ini, dia menjadikan hinaan itu sebagai cambuk untuk memotivasinya untuk menjadi lebih baik.

Tingkat pendidikan yang dia sandang saat itu hanya lulusan SD, namun itu tidak menjadikan ia patah semangat. Dia melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP dan SMA di malam hari. Ya, siang ia bekerja, malam hari dia pergi ke sekolah. Kerapkali ia mengalami kelelahan, namun tidak digubrisnya.

Tuhan Merubah Nasib Si Pemuda Miskin

Sampai suatu hari, luluslah ia sebagai siswa lulusan SMA.
Perusahaanpun terkesan dengan kerja kerasnya selama ini, akhirnya iapun mendapatkan beasiswa belajar ke Amerika, tidak hanya S1 dia mendapatkan beasiswa hingga S2.

Singkat kata, ia lulus menyandang gelar S2 lulusan Universitas di Amerika. Ia dipanggil oleh perusahaan minyak dimana ia mengabdikan diri untuk kembali bekerja, namun tidak untuk menjadi pegawai rendahan, ia ditugaskan menggantikan posisi wakil direktur sebelumnya. Jabatan tertinggi yang bisa diduduki oleh orang lokal pada saat itu.

Rupanya Alloh merubah nasib si pemuda dan insinyur yang dulu menghina dia. Kini dia menjadi atasan dari seorang insinyur yang dulu pernah melarang dia meminum air.

Ada kejadian yang sungguh mengharukan, ketika si pemuda dimintai ijin oleh insinyur orang Amerika itu, ia meminta ijin untuk libur “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”

Bagi sebagian besar orang tentu akan berpikir untuk balas dendam atas sakit hati yang dialaminya.

Namun sungguh mulia hati pemuda itu, dia tidak membalas sakit hatinya, melainkan berterima kasih atas hinaan yang didapatnya ketika itu. Dia berkata “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Benar, dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamulah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.”

Hikmah Dari Cerita Diatas
Sungguh luar biasa, kini ia memetik buah dari hasil kerja keras, kesabaran dan sikap positifnya.

Saya teringat firman Alloh SWT “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Si Pemuda Miskin tadi berhasil merubah nasibnya dari orang miskin menjadi orang terhormat, melalui kerja keras, kesabaran dan keikhlasannya dalam menjalani hidup.

Lalu, apakah hanya berhenti sampai disitu saja? Tidak, karirnya merangkak naik hingga ia menjabat sebagai Direktur. Sebuah jabatan yang kerapkali diduduki oleh Insinyur dari Amerika.

Dari cerita inspiratif diatas, kita bisa menarik benang merah bahwa:
Bukan masalah yang menjadi hambatan kita untuk maju, tapi sikap kita dalam menghadapi masalah tersebut. Setiap orang memiliki masalah yang berbeda bahkan sama, namun kenapa ada yang gagal dan berhasil. Letak perbedaannya pada sikap positif dalam menghadapi masalah.
Kisah dua orang di atas menyadarkan kita untuk tidak sombong dan putus asa. Jika saat ini kita sedang berada di puncak kesuksesan, janganlah sombong, begitupun sebaliknya ketika sedang berada dibawah, terhina, tersiksa oleh keadaan, janganlah putus asa, ubahlah nasib dengan kerja keras, kesabaran dan keikhlasan, niscaya Alloh akan merubahnya.

Siapakah Pemuda Itu?

Ali bin Ibrahim Al-Naimi
Cerita diatas adalah kisah nyata dari Ali bin Ibrahim Al-Naimi seorang pemimpin perusahaan minyak terbesar di Saudi Arabia, Aramco (Arabian American Oil Company). Ditangannya perusahaan ini semakin menggurita dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Saat ini Aramco menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Dengan prestasinya itu, Raja Arab memberikan kepercayaan kepada dia sebagai Menteri Perminyakan dari tahun 1995 sampai saat ini (2011).

Semoga cerita diatas dapat memberikan inspirasi positif kepada kita semua bahwa semua cobaan dan halangan bukanlah menjadi penghambat kita untuk maju, akan tetapi menjadi malah menjadi pendorong kita untuk maju.

Sumber: http://makanati.wordpress.com/2012/03/22/cerita-inspiratif-seorang-pekerja-kelas-bawah-yang-berhasil-menjadi-direktur-perusahaan-minyak-kelas-dunia/

Kisah Inspiratif Sikembar Rolando & Ronaldo


Cerita Inspiratif Dan Motivasi yg terlahir dari keluarga berantakan, dimana ibunya seorang penjudi & ayahnya seorang pemabuk & penjudi.

Ibu mereka terlebih dahulu meninggal pada saat si kembar tersebut masih bayi.Ayah mereka menemani mereka sampai mereka sekolah, & akhirnya meninggal juga.Karna tidak punya keluarga yg bersedia menampung, mereka tinggal di panti asuhan yg berbeda.Berita mengenai nasib malang kedua bocah kembar tersebut menghiasi koran berita lokal tempat lahir mereka di negara Mexico.

40 tahun kemudian setelah kejadian tersebut, seorang pemimpin redaksi ingin mengetahui di mana kedua bocah tersebut berada & mengutus team wartawan mereka untuk melakukan liputan khusus...Mereka menemukan Rolando sedang berada di sebuah bar di daerah Guadelajara dalam kondisi mabuk berat dan nampaknya sudah berhari-hari tidak mandi. Mereka pun mewawancarai si Rolando, mengapa dia sampai begini?

Katanya sambil berteriak..."Aku begini karena AYAHKU...Apa yg bisa anda harapkan dari anak seorang pemabuk...?Inilah aku, seorang pemabuk juga...! Buah yg jatuh tidak akan Jauh dari pohonnya..."Sementara wartawan yg lain menemukan Ronaldo, di kota Mexico City sebagai seorang Direktur sebuah Perusahaan Internasional yg memiliki keluarga bahagia & harta yg berlimpah. Mereka mewawancarai si Ronaldo, apa yg menjadi motivasinya sehingga dia bisa menjadi sehebat ini, jawabnya ;"Ayahku dulu seorang pemabuk & penjudi. Aku akan membuktikan kalo aku bisa menjadi orang hebat, walau lahir dari keluarga pemabuk & penjudi..."

MINDSET dalam pikiran itulah yg menentukan kemana arah kehidupan yg akan kita jalani. Apakah kita melihat dari sisi NEGATIF atau ambil dari sisi POSITIFnya,Pilihannya ada di tangan kita masing-masing.Tanamkan dalam pikiran kita : "Buah bisa saja jatuh JAUH dari pohonnya", tergantung dari mindset dan keputusan kita!! Semoga Bermanfaat. You define your own success everybody.. good luck!

Sumber: Facebook Ruanghati.com

Kisah Pencuri Kue (Jangan Asal Berprasangka Buruk Terhadap Orang Lain)

Suatu Hari seorang wanita sedang menunggu di Bandara . Masih ada beberapa jam sebelum jadwal penerbangannya tiba. Untuk membuang waktu ia lalu membeli buku dan SEKANTONG KUE di toko Bandara , lalu menemukan te...
mpat untuk duduk . sambil duduk Wanita itu membaca buku yg baru saja dibelinya . dalam Keasyikannya ia melihat Lelaki disebelahnya dg berani mengambil satu atau dua dari kue yg ada diantara mereka .

Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tak terjadi keributan , ia tetap membaca dan mengunyah kue dan melihat jam sementara “Si Pencuri Kue” menghabiskan persediaannya .menit menit berlalu ia pun semakin kesal .. Wanita itupun sempat berfikir “ Kalau aku bukan orang baik sudah ku tonjok dia !!! ”

Setiap ia mengambil satu kue ,, lelaki itu ikut mengambilnya juga. Ketika hanya satu kue tersisa , ia bertanya tanya apa yg akan dilakukan lelaki itu . dg senyum tawa dan gugup di wajahnya, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua. Si lelaki menawarkan separoh miliknya sementara ia memakan yg separohnya lagi. Si wanita pun merebut kue tadi dan berpikir ...

“ ya ampun.. orang ini berani sekali dan dia juga kasar , malah ia tidak kelihatan berterima kasih .. ”

Belum pernah rasanya ia sekesal ini . dan akhrnya ia pun dapat bernafas lega saat penerbangannya di umumkan .. ia mengumpulkan barang barang miliknya dan bergegas menuju pintu gerbang . dan menolak menoleh pada si “Pencuri” yg tak tau terimakasih itu . ia naik pesawat dan duduk di kursinya .. lalu ia mencari buku yg hampir selesai di bacanya tadi . saat ia merogoh tasnya ia menahan nafas dg kaget ...!!
Di situ ada kantong Kue nya ..!!!

Kok miliku ada di sini , erangnya dg patah hati . Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi ?? ia pun tertegun .

Terlambat untuk meminta maaf .. ia bersandar dg sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yg kasar .. tak tau terima kasih dan dia lah pencuri kue itu !

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. kita sering Berprasangka dan melihat orang lain dg kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya

Orang lainlah yg selalu salah

Orang lainlah yg patut disingkirkan

Orang lainlah yg tidak tau diri

Orang lainlah yg berdosa

Orang lainlah yg selalu bikin masalah

Orang lainlah yg pantas di beri Pelajaran

Padahal ....

Kita sendiri yg mencuri kue tadi

Kita sendiri yg tak tau berterima kasih

Sumber: Facebookpage ruanghati.com

Memiliki Nurani Setajam Abu Bakar


Panggung langit di hari itu terpesona pada satu nama. Hari itu, Rasulullah yang tengah sakit mengajak seluruh ummatnya untuk berkumpul di sebuah lapangan yang luas terbuka. Ia menatap ummatnya yang sudah berjumlah puluhan kali lipat dibanding saat sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu saat baru menerima amanah dakwah. Entah seperti apa kondisi yang ada di dalam hatinya, tetapi wajahnya tetap menunjukkan semangat dan senyum cerah kepada ummatnya.

“Hari ini…” ucapnya dengan suara yang agak parau. “..telah Kusempurnakan bagimu agamamu. Dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai agamamu..”

“Allahu Akbar!”

Gegap gempita memenuhi rongga dada para pejuang Islam itu. Setelah perjuangan yang sekian lama, perjuangan yang meminta segalanya: harta, raga, bahkan jiwa mereka. Setelah peluh keringat bahkan darah yang mereka korbankan untuk memperjuangkan tegaknya Islam, ayat yang satu ini seolah menjadi telaga pelepas dahaga mereka di tengah perjalanan panjang dakwah ini.

Tapi tidak untuk satu sosok. Sosok yang hari itu menjadi perhatian panggung langit itu tidak bergembira seperti yang lainnya. Tidak terlihat kegembiraan di wajahnya. Padahal, dia adalah sosok yang paling lama memperjuangkan Islam ini bersama Rasulullah. Padahal, dia –dan Rasulullah– adalah sosok yang paling pantas bahagia dengan berita ini. Tapi orang itu, sosok itu, dia tidak bergembira. Justru, tangis yang keluar dari mata jernihnya.

“Demi Allah, wahai kekasih Allah!” ucapnya dengan menjerit. Derai air mata tidak tertahankan lagi menghiasi wajahnya yang kurus. “Demi Allah, anak dan istriku sebagai penebusmu! Anak dan istriku sebagai penebusmu, wahai kekasih Allah!”

Hari itu benar-benar hanya milik Abu Bakar. Ya. Sahabat, kekasih, sekaligus mertua dari Rasulullah. Orang-orang bingung melihat derai tangis dan jeritan sosok yang penuh pesona tersebut. Tidak satupun mengerti. Ya, hanya dia yang mengerti. Hanya Abu Bakar, yang mengerti bahwa turunnya ayat tersebut adalah pertanda bahwa tugas Rasulullah telah selesai. Bahwa tak lama lagi, sosok qudwah terbaik umat manusia tersebut akan meninggalkan kefanaan dunia ini.

Abu Bakar, nama yang paling dekat dengan Rasulullah. Bahkan sang Rasul menyatakan bahwa dia adalah orang yang paling Rasulullah cintai di kalangan laki-laki. Tentu dapat terbayang, betapa sedihnya Abu Bakar ketika isyarat itu tiba. Dia menjerit, padahal biasanya dia bersuara lembut. Dapatkah kita bayangkan bagaimana perasaannya ketika Rasulullah wafat?

Tidak. Dia tidak seperti yang kita bayangkan. Dia adalah Abu Bakar, bukan kita. Sosoknya justru hadir di tengah derai tangis umat muslim sebagai sosok yang setegar karang.

Hari itu kelabu. Ya, Umar bin Khattab tengah berkeliling di kota Makkah. Tangan kanannya mengepal teguh sebuah pedang. Sosoknya yang tinggi besar membuat siapapun akan berpikir dua kali jika ingin menghentikannya. “Wahai umat Mekkah!” ucapnya dengan mata yang memerah dan wajah yang juga merah padam. “Siapapun yang mengatakan bahwa Rasulullah telah mati, akan aku penggal lehernya!” ucapnya lantang.

“Ia tidak mati! Ia hanya dipanggil oleh Allah sebagaimana Nabi Isa diangkat ke langit! Suatu saat dia akan kembali kepada kita!” lanjutnya dengan suara yang tak kalah menggelegar.

Di saat itulah, pribadi sebening nurani Abu Bakar hadir. Kokoh jiwanya selayak batu karang di lautan. “Duduklah, Umar..” ucapnya. “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya dia telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Dia Maha Hidup, tidak akan pernah mati.” Umar terdiam menatap Abu Bakar.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,” ucap Abu Bakar dengan suara yang tegas namun lembut. “…sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS Ali Imran: 144)” lanjutnya.

Pedang Umar terjatuh. Sosok yang besar dan gagah itu tersungkur. “Demi Allah, wahai Abu Bakar..” ucapnya sendu seraya berlinangan air mata. “Seakan-akan ayat itu baru turun dan belum pernah aku dengar sebelumnya.” lanjutnya.

Setiap kita, sulit dipungkiri, pasti terkagum dengan pesona kepribadian beliau. Kejernihan niat serta ketajaman pandangan hatinya dibingkai dengan pribadi yang mempesona. Kita tidak meragukan keimanan serta keperkasaan Umar bin Khattab. Bahkan syaithan-pun terbirit ketika ada Umar di jalan yang dilewatinya. Tapi tidak seorangpun di antara kita meragukan kebeningan iman Abu Bakar.

Masih banyak hal yang bisa diambil dari pribadi Abu Bakar yang mempesona. Dia menyimpan sejarah perjalanan yang teramat panjang dengan Rasulullah. Namun sekali lagi, agaknya tak seorangpun dari kita yang tidak ‘iri’ dengan kebeningan iman seorang Abu Bakar, sebagai pesona tertingginya. Dialah Abu Bakar, dan itulah mengapa aku selalu mengaguminya.

Hikayat Facebook

Alkisah hiduplah seorang akhwat dengan nama sebut saja Milana. Milana seorang akhwat yang mempunyai banyak pengikut, pengaruhnya besar di beberapa kalangan akhwat, dan juga merupakan salah seorang pembesar (bukan karena badannya yang besar) di dunia per-dakwah-an.

Terdengar bunyi nada dering dari HP Milana. Sebuah SMS pun telah diterima. Isi dari SMS tersebut merupakan pemberitahuan tentang adanya sebuah aksi demonstrasi munashoroh Palestina pada esok hari yang diadakan rutin tiap tahun sekali yang dilakukan oleh sebuah Parpol yang cukup besar di Indonesia. Dengan semangat ketaatan yang begitu tinggi Milana pun bergegas pulang dan tak lupa ia men-jarkom kepada seluruh pengikutnya untuk turut serta dalam aksi tersebut.

Keesokan harinya Milana beserta rombongan yang berjumlah 7 orang telah sampai di tempat berkumpulnya massa. Milana, Erin, Rossa, Windy, Selvi, Rika, dan Putri dengan atribut lengkap jilbab panjang beserta terusannya lengkap dengan simbol partai, bendera Palestina, dan tak lupa slayer untuk menutupi wajah-wajah mereka. Melihat jumlah peserta aksi yang banyak, Rika bertanya pada Murobbi tercintanya “Kenapa ya Kak, kalo aksi-aksi semacam ini banyak yang ikut, tapi kalo ada tatsqif atau dauroh qur’an malah sepi ya?” “Mungkin gak sempet kali dek” jawab Milana. “Atau Mungkin pada sekalian refreshing kali?!” celetuk Rossa tak mau kalah.

Gema takbir bergemuruh dikumandangkan oleh para peserta aksi. Sebuah grup nasyid menghibur atau lebih tepatnya menyemangati para peserta aksi dengan hits-hits andalan mereka. Sambil mendengarkan nasyid tersebut, Milana sang Akhwat pun membuka HP canggihnya dan langsung memasuki menu web browsernya dengan alamat m.facebook.com. Sejurus kemudian masuklah ia didalam dunia Facebook. Beliau langsung menyasar kolom “Whats On Your Mind”. Dan terlihatlah sebuah kalimat indah yang berasal dari dalam pikiran Milana yang ia tuangkan dalam Facebook “Subhanallah lagi ikut munashoroh Palestina, banyak banget pesertanya. siap-siap uang untuk One Man One Dollar.”

Tanpa disangka beberapa menit kemudian terlihat tulisan dalam akunnya “one new notification”. Dengan penuh semangat beliau langsung membuka dan terlihat ada seorang pengikut yang tidak hadir dengan nama Noni mengkomentari statusnya tersebut dengan bunyi “semangat trus kak Mil, afwan aku gak bisa ikut”. Baru saja Milana ingin membalas komentar tersebut tiba-tiba muncul lagi sebuah tulisan “3 new notification”. Ternyata ada dua teman Milana yang me-“like this” status Milana, dan seorang lagi dengan nama akun “Sang penebar hati” yang merupakan seorang ikhwan mengomentari dengan bunyi “wah enak ya, bisa ikut acara. Semangat terus Ustazah Milana, hehe”. Dengan sigap Milana langsung membalas komentar dari para hadirin tersebut dengan lafazh “@all syukron y atas jempolnya”, “@ Noni gpp say mudah2n yg nanti bisa ikut InsyaAllah amiiin.”. “@Sang penebar hati amiin juga. kenapa gak ikut akh”. Balasan komentar pun datang dari Sang Penebar Hati “ana masih ada urusan kerjaan, infak nya tolong ditalangin y ustadzah?!! (melas.com)”. Milana pun kembali melesatkan balasan komentarnya “siipp, tinggal nanti digantinya 2 x lipatnya ye. (ngarep.com).” dialog pun bertambah seru ketika ada seorang dengan nama akun “Omnya Joko” turut meramaikan peristiwa bersejarah itu dengan bunyi “addduh pada berisik banget, udah nanti ana aja yang bayarin semuanya (becanda.com) btw ustzh Milana ada disebelah mananya nih?”. Milana pun membalas “hiks3x pada ngelucu aja nih, ana lagi di depan kedubes Amrik ust.”

Tanpa disadari acara pun telah usai seiring dengan usainya dialog Milana dengan teman-temannya di dunia Facebook. Milana beserta rombongan pun bersiap-siap untuk pulang. Tanpa dinyana Milana pun hendak mengabadikan moment tersebut dengan kamera yang baru saja ia pinjam dari tetangganya. Ketujuh akhwat itu mempersiapkan diri untuk mengabadikan moment tersebut dengan gaya atau pose yang ‘atraktif’, serta ‘artistik’. Milana pun memilih pose dengan gaya mengepal tangan dan menutup wajahnya dengan slayer berharap agar ia dapat meng-upload gambar tersebut sebagai profil picture akun Facebook-nya. Erin berkata kepada Milana "Kak Mil nanti di tag ya fotonya." Setelah puas dengan aktivitas melelahkan tersebut Milana beserta rombongan pun akhirnya pulang kerumah masing-masing.

Milana yang tampak lelah mencoba untuk bersemangat kembali. Sang Akhwat tersebut mengambil laptop beserta modem miliknya. Milana berniat untuk meng-upload gambar-gambar yang telah ia dapatkan untuk kemudian di-share ke teman-temannya. Sebelum ia meng-upload terlebih dahulu Milana meng-update status dengan bunyi “Munashoroh yang begitu melelahkan”. Seperti biasanya status Milana dibalas komentar oleh teman-temannya. Kali ini Erin salah seorang pengikutnya yang mengkomentari status tersebut “istirahat aja yang cukup, btw tadi es cendol yang di depan monas enak ya Kak”. Milana adalah seorang akhwat yang terkenal akan keakrabannya. Maka tak perlu waktu yang lama lagi Milana pun segera membalas komentar tersebut “iya Alhamdulillah, kpn2 kita beli lagi y.” Sebuah akun bernama “Omnya Joko” seolah tak mau ketinggalan. Segenap dengan jurus yang dimiliki ia pun turut mengomentari status Milana “wah ustazah bagi-bagi dong kalo makan es cendol?!” Terlihat pula sebuah komentar dari akun yang bernama “Rojali Al Manak Don Koll” “to Omnya Joko, es cendol dimakan atw diminum? ada apa ini? ustzh Milana sekarang jualan es cendol ya?” Melihat tingkah lucu dari teman-teman Facebook-nya, Milana pun mengakhiri percakapan tersebut dengan sebuah kata “Hiks3x…” (sebenarnya dialog yang terjadi cukup panjang, tapi berhubung khawatir para pembaca bosan membacanya maka dialog via Facebook tersebut saya ringkas—penulis)

Setelah meladeni para komentator statusnya. Milana melanjutkan kembali aktivitasnya di Facebook. Milana hendak meng-upload gambar-gambar yang telah berhasil ia dapatkan. Memakan waktu yang cukup lama dikarenakan modemnya yang memang masih kelas bawah. Milana dengan penuh kesabaran menunggu proses tersebut. Proses upload telah selesai, Milana pun memberi nama album tersebut dengan judul ‘AKHWAT ZONE’. Milana pun bukan main ketika melihat ada seorang ikhwan dengan nama akun “Pecinta Rasul” yang komentar di album tersebut “wiih ibu-ibu PKK pada demo dimana nih?” Milana bertanya-tanya dalam palung hatinya yang paling dalam “bisa-bisanya dia komentar, emang gak bisa baca apa kalo itu ada tulisannya AKHWAT ZONE?” Milana pun mengambil keputusan untuk membalas komentar tersebut “afwan akh antum gak bisa baca tulisan AKHWAT ZONE ya?” “kalo gak mau diliat jangan uplod di pesbuk dong” jawab “Pecinta Rasul” dalam komentar berikutnya. Tidak seperti biasanya Milana pun merasa kesal dan tiba-tiba menjadi malas untuk membalas komentar lawan bicaranya di dunia Facebook. Milana mengambil keputusan sulit yakni menutup akun Facebook miliknya. Dengan segera ia merapikan kamar untuk kemudian tidur dengan niat istirahat agar besok bisa memulai aktivitasnya yang memang sangat-sangat padat.

Aksi munashoroh yang dilangsungkan kemarin ternyata menguras fisik Milana. Milana pun jatuh sakit yang mengharuskan ia istirahat di rumah. Dokter yang memeriksa Milana mengatakan bahwa penyebab sakitnya Milana adalah dari es cendol seharga Rp 1.500 yang ia dan kawan-kawan minum di depan Monas. Dan dengan sangat amat terpaksa membatalkan beberapa acara yang telah ia rencanakan sebelumnya. Ditemani HP canggihnya Milana pun kembali dan lagi-lagi membuka akun Facebook miliknya sambil menulis “sedang menjalani terapi penghapusan dosa, ya Allah semoga sakit yang Kau berikan dapat menghapus dosa-dosaku.”

Seseorang yang memiliki akun “Sang Penebar hati” yang merasa iba dengan sakit yang diderita Milana mengomentari status tersebut “Syafakillah Ukhti, btw gara2 aksi kemaren y?” Lain lagi dengan seorang yang bernama akun Ibnu Ahmad, ia turut mengomentari status yang mengharukan itu “sakit koq masih bisa update status, apakh kalo kita update ttg sakit maka Allah akan menyembuhkan kita?” Milana dengan sisa-sisa tenaganya berupaya keras untuk menjawab teman-temannya itu “to Sang Penebar Hati, iy akh, kata dokter sih gara-gara es cendol yang didepan monas?!, to Ibnu Ahmad yang sakit kan badannya bukan tangannya ^_^.” Milana sudah tidak kuat lagi ia akhirnya memutuskan untuk log out dan kembali melanjutkan istirahatnya yang sempat tertunda.

Keesokan harinya Milana yang sudah merasa sehat bersiap untuk melaksanakan kembali agenda dakwahnya. Peralatan beserta perlengkapan telah disiapkan. Untuk menambah semangat maka Ukh Milana (lagi-lagi) kembali membuka akun Facebook-nya kemudian menulis “siap-siap, tuk raker dilanjutkan dengan ngisi 3 tmpat, Ya Allah berikanlah kemudahan, kesemangatan dan keselamatan pada hamba Mu ini.” Di dalam angkot ia kembali melihat statusnya tersebut dan terlihat ada sebanyak “10 pemberitahuan baru”. Kesemuanya me-“like this” status tersebut dan kebanyakan memberi komentar berupa “semangat, HAMASAH, cahyo, dsb…” Melihat hal tersebut Milana hanya tersenyum manis dan membalas kesemua hal tersebut dengan ucapan “@all Syukron y ^^”.

Malam harinya setelah mengakhiri agenda yang cukup padat. Milana kembali meng-update status-nya dengan sebuah tulisan yang seolah menggantung “Alhamdulillahirobbil ‘alamin”. Para komentator yang biasanya mengomentari status Milana pun ramai-ramai berlomba untuk mengomentari terlebih dahulu status sang Mahasiswi di salah satu PTN di Indonesia itu (nampaknya status-status milik Milana diposisikan seperti wahyu dari Allah yang sedang ditunggu-tunggu oleh para teman-temannya, seperti halnya para Shahabat Nabi SAW yang sangat menanti-nantikan turunnya wahyu dari Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW—penulis). “Abis ngapain ustzh?” sergah seseorang bernama Rojali Al Manak Don Kol. “Abis makan enak y, bagi-bagi dong?!” timpal Putri seolah tak mau ketinggalan momen indah tersebut. Windy yang salah seorang pengikutnya menimpali status itu “Yarhamkillah…^^” (Windy mengira bahwa guru tercintanya itu sedang bersin). “?????????” tulis Rossa dalam balasan komentarnya. Milana yang mengamati dengan serius percakapan tersebut malah menjawab dengan jawaban yang tidak begitu mengenakkan bagi para komentatornya “apa ajja boleh” tulis Milana dalam balasan komentarnya.

Pada malam hari yang sama namun di tempat yang berbeda Rika seorang remaja putri berusia 18 tahun juga tengah sibuk mengutak-atik akun Facebook miliknya. Rika tercatat sebagai seorang siswi di salah satu SMA Negri di Jakarta. Remaja ini menjabat sebagai ketua keputrian di SMA tempat ia menuntut ilmu. Sebagai seorang ketua keputrian maka ia dituntut untuk menjadi seorang teladan bagi jundi-jundinya (anak buah). Rika juga aktif di jagat Facebook. Berbeda dengan Milana. Aktivitas Rika yang sering terlihat adalah meng-update status yang berisi ayat qur’an, hadits Nabi SAW, ucapan para Salafus Sholih, serta nasihat dari para ulama. Ia menganggap dirinya tak pantas untuk selalu berkata-kata indah sementara ia tidak mengamalkan ucapannya tersebut. Menurutnya akan terasa lebih aman apabila ia mengutip perkataan orang lain yang lebih mulia dibandingkan dengan dirinya.

Rika merasa aneh dengan tingkah murobiyyah-nya Milana yang sering update status yang menurutnya tidak jelas. Dalam hatinya ia ingin sekali mengkoreksi tingkah laku ustdzahnya yang tercinta itu. Tapi tak urung sampai dikarenakan rasa tidak enaknya kepada Milana.

Melihat gelagat seniornya di Facebook, Rika khawatir hal ini akan menjadi preseden buruk bagi jundi-jundinya. Ia khawatir para teman-temannya di Rohis akan meniru para seniornya tersebut. Hal yang sangat wajar karena memang Rika sebagai seorang akhwat yang paham benar akan nilai-nilai tarbiyah. Sang Ketua Keputrian itu cemas melihat fenomena tersebut. Fenomena ketika ada ikhwan dan akhwat yang begitu “mesra” di Facebook. Fenomena bersenda gurau terhadap hal yang menurutnya tidak fundamental. Fenomena merajalelanya generasi yang suka berkeluh kesah. Dan fenomena terciptanya generasi Facebook dan memudarnya generasi robbani. Rika pun tak dapat berbuat banyak ia hanya bisa berdo’a kepada Allah semoga apa yang ia khawatirkan tidak pernah terjadi.

Dinar Zul Akbar
dinarzulakbar_mail@yahoo.com
mukminsehat.multiply.com

Sumber: http://www.eramuslim.com/kisah/dinar-zul-akbar-hikayat-facebook.htm#.UgYcxaL-GSo