3 Cara Menjadi “Bocah” di Depan Istri


Kasih Sayang Suami Istri
“Jadilah engkau bocah di depan istrimu.” Kata-kata Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu itu adalah pesan beliau untuk para suami. Meski Umar dikenal sebagai muslim paling kuat dan pemberani, ia bisa memposisikan sebagai bocah saat bersama istrinya. Dan karenanya, ia memberikan tips itu kepada sahabat lainnya, hingga keluarga sakinah mawaddah wa rahmah pun digapainya.

Lalu bagaimana cara menjadi bocah di depan istri? Berikut ini 3 makna dan caranya:

1. Bocah itu Manja
Menjadi bocah di depan istri, artinya kita menghadirkan sikap “manja” kita sebagai ekspresi cinta. Rasulullah mencontohkan, beliau kerap bersikap “manja” dengan istrinya. Misalnya meletakkan kepala di paha istrinya, bahkan memposisikan kepala beliau agar istri bisa menyisirnya saat beliau sedang i’tikaf. Subhanallah... jika saat i’tikaf saja se-“manja” itu, betapa beliau di hari-hari biasa?

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah bermanja-manja dengan istri hingga cinta makin menyala atau kita jaim hingga terkesan kaku pada istri?

2. Bocah itu Pemaaf
Tidak ada bocah yang pendendam. Lihatlah bocah-bocah di sekitar kita. Mungkin suatu saat mereka berselisih dengan temannya. Mungkin suatu saat ada diantara mereka yang berkelahi dengan temannya. Tetapi setelah perselisihan itu selesai, mereka kembali beraktifitas bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan setelah berkelahi, mereka kembali akrab seperti semula. Tak ada dendam, mereka langsung memaafkan.

Pun demikian seharusnya menjadi suami istri. Tidak mungkin tak pernah ada masalah dalam hitungan tahun pernikahan. Tetapi, masalah atau perselisihan hanya berlangsung sebentar dan tidak pernah berkarat menjadi dendam. Suami yang baik, ia seperti bocah yang suka memaafkan.

3. Bocah itu Suka Bermain
Dunia bocah adalah dunia bermain. Suami yang menjadi bocah di depan istrinya juga suka bermain. Rasulullah mencontohkan, beliau pernah bermain lomba lari dengan Aisyah. Pertama kali lomba, Rasulullah kalah. Pada kesempatan berikutnya, ketika Aisyah menjadi gemuk, Rasulullah memenangkan lomba lari kali itu. Pernahkah kita berlomba lari dengan istri?

“Permainan” yang lebih “dewasa” juga dicontohkan Rasulullah. Beliau mandi bersama Aisyah dalam satu bejana. Pernahkah kita melakukannya bersama istri kita? Mandi bersama dalam bathtub yang sama?

Berikutnya, kita bisa mengembangkan “permainan-permainan” lainnya. Dengan berbagai posisi, dengan berbagai gaya.
“Istri-istrimu adalah (seperti) ladang bagimu, maka datangilah ladang itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai” (QS. Al Baqarah : 223)
Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2013/10/menjadi-bocah-di-depan-istri.html

3 Manfaat Pelukan Bagi Suami Istri


Pelukan, meskipun hanya dilakukan sebentar, ternyata mendatangkan banyak manfaat bagi suami istri. Berikut ini adalah tiga diantara sekian banyak manfaat pelukan bagi suami istri beserta penjelasan ilmiahnya:

1. Menenangkan
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari gua Hira seusai menerima wahyu pertama, beliau menggigil seperti demam. “Zammilunii... zammiluni...” kata beliau meminta Khadijah menyelimutinya. Pada saat itu Rasulullah mengkhawatirkan dirinya, namun dengan dukungan sang istri, kekhawatiran itupun sirna.

“Saat tubuh merasakan sentuhan, nueotransmitter di otak akan mengirimkan hormon Endormorfin ke dalam aliran darah dengan jumlah cukup besar. Hormon tersebut mampu menurunkan ketegangan saraf dan tekanan darah” tulis Cahyadi Takariawan dalam Wonderful Family.

Demikianlah, Anda juga bisa mempraktekkannya. Jika suami Anda kalut, galau, atau menghadapi masalah, peluklah ia. Sebagai istri, Anda adalah orang yang paling berhak menenangkannya. Buktikan bahwa diri Anda adalah perhiasan terbaik di muka bumi.

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adaah wanita shalihah” (HR. Muslim).

Demikian pula jika istri Anda menghadapi masalah atau mengkhawatirkan buah hatinya, yang sedang sakit misalnya. Pelukan Anda akan membantu menenangkan dirinya.

2. Memberikan dukungan
Sebuah penelitian yang dilakukan University of California membuktikan, suami istri yang saling berpegangan tangan dan bersentuhan dapat mengurangi rasa sakit. Penelitian lain menunjukkan, berpelukan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memberikan semangat.

Pepatah Arab mengatakan, “Di balik pahlawan besar selalu ada perempuan agung.” Maka jika Anda menginginkan suami berprestasi dan menjadi pahlawan, dukungan Anda adalah salah satu kuncinya. Dukungan tidak selalu harus berupa kata-kata. Terlebih bagi banyak pria, mereka kurang bisa menjadi pendengar yang baik. Maka sedikit kata yang kau bisikkan disertai pelukan akan menjadi salah satu dukungan dan motivasi besar baginya.

“Perempuan bagi banyak pahlawan,” kata Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia, “adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan gairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energinya di luar rumah dan mengumpulkannya kembali di dalam rumah.”

3. Mendekatkan hubungan
Terkadang, sulit bagi suami istri yang sedang marahan atau berselisih untuk memulai meminta maaf dengan kata-kata. Nah, jika Anda saat ini sedang ada “masalah”dengan istri atau suami Anda, dekatilah ia. Kemudian peluklah ia. Jika bibir belum mampu bicara banyak, cukup kalimat singkat “Maafkan aku sayang.”

Pelukan seperti ini tentu saja tidak hanya dibutuhkan pada saat terjadi konflik. Pelukan yang rutin dilakukan oleh suami istri akan semakin mendekatkan hubungan keduanya.

Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2013/01/3-manfaat-pelukan-bagi-suami-istri.html

Penting: Beginilah Tahapan Bermain Anak


Bermain adalah hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Tapi seringkali para orang tua tidak tahu bermain seperti apa yang sesuai tahap perkembangan anak-anak, sekaligus disenangi oleh mereka.

Ada empat tahapan bermain anak yaitu sensori, bermain dengan alat, bermain peran, dan bermain kerjasama. Pada bermain sensori anak diajak bermain pada hal-hal yang dapat menstimulus sensori mereka, seperti bermain air, pasir, dan sejenisnya. Tetapi, fakta berkata lain. Banyak orang tua yang tidak mengetahui akan pentingnya tahap bermain ini sehingga mereka melarang anak-anak untuk bermain pasir atau air dengan alasan kotor. Padahal di situlah waktu mereka distimulus sensori tangan, kaki, dan organ sensori lainnya untuk lebih peka. Jika tahap ini tidak dituntaskan dengan baik, kelak ketika dewasa akan membawa kerugian bagi dirinya dan orang lain.

Mengapa? Karena anak yang sensori motoriknya belum tuntas di usia 2 tahun akan cenderung tidak mudah mengolah emosi dan agresif sekalipun mereka pintar. Bagaimana cara mengetahui tingkat ketuntasan anak dalam tahap bermain sensori ini? Hal ini bisa dideteksi saat anak bermain pasir. Jika mereka bermainnya dengan berguling-guling atau pasirnya hanya “dicuil-cuil”, itu menandakan bahwa sensori motoriknya belum tuntas. Sedangkan anak yang sensori motoriknya sudah tuntas, biasanya akan membuat bangunan dari pasir itu atau sesuatu yang kreatif.

Kemudian untuk bermain dengan alat, kenapa hal ini dirasa perlu tidak lain agar anak belajar untuk menggunakan bermacam-macam peralatan sebagai persiapan hidup mereka kelak saat dewasa (Life Ready). Sebagai contoh, saat bermain mereka harus mengambil dan meletakkan alat pada tempatnya. Misalkan dalam sebuah nampan. Kenapa? Hal ini sebagai pembelajaran mereka jika kelak mereka harus bekerja sebagai dokter, perawat, atau yang lainnya yang membutuhkan ketelitian dan kerapian meletakkan alat. Bagaimana jadinya seorang perawat yang meracik obat jika obatnya saja tercampur atau tertukar tempatnya?

Tahap selanjutnya yaitu bermain peran. Nah, tahap ini juga tidak kalah penting. Anak bisa diajak untuk menjadi dokter-dokteran, keluarga-keluargaan, tamu-tamuan dan bermain peran sejenisnya. Namun pada dasarnya, secara alamiah ketika bertemu dengan teman-teman sebaya, anak secara otomatis melakukan permainan peran ini. Dengan bermain peran, anak-anak bisa diajak menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku dan nilai, dengan tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain.

Dari situ anak akan belajar bagaimana seharusnya berbuat ketika berada pada posisi tertentu. Bagaimana menjamu tamu, misalnya. Bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, bagaimana harus berbelanja yang benar dan lain sebagainya.Memang penting? Penting sekali. Jangan sampai hal penting seperti ini baru mereka pelajari saat mereka sudah dewasa. Hal itu tidak akan menjadi suatu kebiasaan. Ingat kan pepatah: Bisa karena biasa.

Tahapan yang terakhir yaitu bermain kerjasama. Tahap ini juga sangat penting agar kalau sudah besar mereka bisa bekerja dalam kelompok dengan segala bentuk aturan yang mengikat dalam sebuah kerjasama. Mereka perlu tahu, bahkan perlu bisa, sejak dini.

Nah bunda, semoga kita bisa membersamai ananda bermain sesuai dengan tahapan bermain anak. Sehingga selain mereka enjoy, perkembangan emosi mereka juga terjaga.[Gresia Divi]

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2013/04/bunda-beginilah-tahapan-bermain-anak.html

3 Manfaat Hubungan Badan Bagi Istri Berdarsarkan Penelitian


Sungguh, Islam adalah agama yang sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam mensyariatkan pernikahan, yang dengannya seorang suami dan seorang istri saling berbagi menunaikan kewajiban dan mendapatkan haknya. Salah satu diantara hal yang paling penting adalah hubungan suami istri (jima’).

Jima’ ternyata memiliki banyak manfaat, bukan hanya semata memenuhi kebutuhan biologis. Beberapa penelitian terbaru mengungkapkan tiga manfaat jima’ bagi istri.

1. Membuat istri lebih berbahagia

Survei yang dilakukan majalah Top Sant di Inggris mengungkapkan, 22 persen wanita yang ‘bercinta’ lebih dari dua kali sepekan mengaku sangat bahagia, dibandingkan hanya 15 persen yang ‘bercinta’ setiap dua sampai tiga bulan.

"Berhubungan suami istri bukan barang mewah, tapi ini sangat penting. Hubungan suami istri membantu mengurangi stres, meningkatkan daya tahan tubuh dan memberi rasa kebahagiaan," jelas pakar seks Tracey Cox, dikutip dari Dailymail, Jum’at (6/9).

2. Membuat istri lebih cerdas

Sebuah penelitian yang dipublikasikan telegraph.co.uk bulan lalu menunjukkan hasil bahwa orgasme yang dialami wanita tidak hanya memberikan kepuasan, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan. Seorang ilmuwan bernama profesor Barry Komisaruk menemukan bahwa orgasme pada wanita dapat mengaktifkan beberapa daerah di otak. Selain itu, orgasme dapat mengurangi rasa sakit.

Peningkatan kecerdasan karena orgasme ini bahkan lebih baik dibandingkan bermain teka-teki atau permainan yang mengasah pikiran. Saat mengasah otak dengan game, hanya sebagian kecil bagian otak yang aktif. Sedangkan saat orgasme, semua bagian otak aktif.

3. Membuat istri lebih nyaman dan sayang suami

Riset lain yang juga dipublikasikan pada bulan Agustus mengungkapkan bahwa berhubungan suami istri membuat wanita merasa lebih dekat dengan suaminya.

Jima' yang Bagaimana
Lalu jima’ seperti apakah yang mendatangkan tiga manfaat tersebut? Poin dua agaknya cukup jelas menyebut syaratnya: orgasme. Sedangkan poin tiga, selain tidak mengabaikan itu juga menekankan kelembutan dan keharmonian. Keduanya, perlu didahului dengan pemanasan, atau ar rasuul, atau mubasyarah, yang dalam istilah populernya disebut foreplay.

Dalam hadits dijelaskan pentingnya ar rasuul atau foreplay ini:
“Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra)” (HR. Ad Dailami)
Jika start awalnya adalah ar rasuul, suami perlu memastikan istrinya sampai ke finish. Minimal satu kali finish. Dan finishnya adalah inzaal/orgasme.

Demikian pentingnya istri mendapatkan hal ini, sehingga dinasehatkan dalam hadits:
“Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)
Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2013/09/3-manfaat-jima-bagi-istri-hasil-riset.html

Pernikahan Yang Aku Inginkan


Aku Ingin Menikahimu Dengan Sempurna

Tanpa terlalu banyak kemeriahan yang mendekati kenikmatan dunia. Cukuplah rasa bahagia yang menyelimuti keluarga, sanak saudara, beberapa kolega, serta kita berdua khususnya, menjadi keriangan tersendiri dalam haru yang tercipta karena telah sah-nya untuk menjalani biduk rumah tangga. Aku memang tak mampu untuk memberikan kebahagiaan berlimpah di hari pernikahan kita, namun aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia di hari-hari setelah pernikahan kita nantinya. Sejatinya pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan hidup kita, namun gerbang awal untuk membuka salah satu jalan menuju ridha-Nya.

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sempurna

Tanpa banyak kata yang membalut kebohongan belaka. Cukuplah rayuan dan candaan ringan untuk menghiasi pernikahan kita. Aku memang tak pandai merangkai kata romantis bak pujangga untuk selalu menyenangkanmu, namun aku tahu bagaimana memposisikan kedudukanmu. Kau bukan berada di atas kepala hingga selalu haus akan sanjung puja, bukan pula berada di bawah kaki untuk diinjak dan dihina. Kau adalah tulang rusuk kiriku, dekat dihatiku untuk selalu kucinta. Aku tidak berani berjanji untuk mencintaimu sepenuhnya, namun aku berani berjanji untuk selalu belajar mencintaimu sepenuhnya. Cinta sejati yang membuat kita semakin mencintai-Nya.

Aku Ingin Hidup Bersamamu Dengan Sempurna

Tanpa banyak terpengaruh hal-hal yang menimbulkan perselisihan antara kita berdua. Cukuplah atas nama Allah segala tingkah polah kita, disertai Al-Qur’an penerang jalan hidup kita, dan Al-Hadits pengiring liku hidup kita. Aku memang tak bisa membuatmu bahagia selalu, namun aku berusaha untuk selalu ada dalam setiap suasana dan kondisi perasaanmu. Aku ingin menyediakan pundak dalam kesedihanmu, menjadi obat penenang dalam kegundahanmu, serta melebarkan pangkuan di saat kelemahanmu.

Aku Ingin Memperoleh Keturunan Darimu Dengan Sempurna

Tanpa ego yang menaungi diri masing-masing, kita berdua membicarakan persetujuan dalam perencanaan. Cukuplah kita berdua yang tahu akan keinginan dan kemampuan kita. Melaluimu rahimmu, terlahirlah para jundi kecil pelengkap hidup kita. Yang menjadikanku pondasi bangunan pemikiran mereka, serta menjadikanmu madrasah berilmu yang tak ada habis-habisnya. Kita ciptakan generasi terbaik bangsa yang akan mengukir sejarah peradaban, setidaknya yang kan mampu membuat kita bangga, karena telah memiliki penerus dakwah seperti mereka.

Aku tak sempurna. Kau pun tak sempurna. Ketidaksempurnaanmu menjadi pelengkap ketidaksempurnaanku, hingga kita terlihat sempurna, meski hanya bagi kita berdua. Biarlah Allah yang Maha sempurna, yang berhak menilai kesempurnaan kita.

13 Sikap Suami Yang Bertanggung Jawab




1. Suami yang senantiasa mengajak isterinya untuk menjadi wanita yang selalu beriman dan bertakwa kepada-Nya.

2. Suami yang senantiasa berusaha menjadikan rumah sebagai surga bagi isteri dan anak-anaknya.

3. Suami yang senantiasa berusaha untuk bertanggungjawab atas segala kebutuhan nafkah isteri dan anaknya dengan rezeki yang halal.

4. Suami yang senantiasa membimbing isterinya menjadi seorang isteri yang selalu taat kepada suami.

5. Suami yang senantiasa bersikap ramah dan penyayang kepada isteri dan anak-anaknya.

6. Suami yang selalu menjaga cinta dan kasih sayangnya hanya kepada isterinya. Pantang baginya untuk mudah berpaling kepada wanita lain.

7. Suami yang senantiasa berusaha untuk menasehati isterinya di saat khilaf dan berbuat kesalahan, dan tak segan-segan untuk segera memaafkannya.

8. Suami yang senantiasa berusaha bersabar dalam menyikapi (misalnya) sifat buruk isterinya. Suami yang dengan telaten akan mengarahkannya untuk berubah menjadi lebih baik.

9. Suami yang senantiasa berusaha untuk lebih mengingat kebaikan isterinya dibanding dengan mengungkit-ungkit keburukannya.

10. Suami yang senantiasa berusaha menyelesaikan setiap permasalahan rumah tangga dengan sebaik-baiknya dan tak mudah menceritakannya kepada orang lain.

11. Suami yang senantiasa berusaha menjadi pemimpin yang baik dan bijak serta menjadi contoh yang baik bagi isteri dan anak-anaknya.

12. Suami yang selalu punya waktu untuk berkumpul santai bersama isteri dan anak-anaknya.

13. Dan Suami yang tidak merasa berat hati untuk memberi maaf  kepada isterinya jika berbuat khilaf, serta tidak merasa rendah diri untuk meminta maaf  kepada isterinya jika dia berbuat khilaf.

Sumber: FP Sebelum Engkau Halal Bagiku