Elizabeth Pilih Islam setelah Delapan Kerabatnya Jadi Korban Tragedi WTC 11/9



Ia masih kerap dipanggil dengan nama lahirnya, Elizabeth. Walau kini, ia telah mengganti semua dokumen resminya menjadi Safia Al-Kasaby, identitas barunya setelah menjadi seorang Muslimah.

Berita dia berpindah agama sempat menuai kontroversi di Amerika Serikat. Maklumnya, banyak hal yang tak nyambung mengapa kemudian dia menjatuhkan pilihan keyakinannya pada Islam.

Tak nyambung? Ya. Safia, 43 tahun, adalah keturunan Yahudi dan Puerto Rico. Kakeknya adalah korban Holocaust yang kemudian melarikan diri ke Puerto Rico. Mereka bersembunyi di sebuah rumah ibadah.
Dia juga mantan sersan pertama dalam Angkatan Udara AS. Dan, ini dia, Safia kehilangan delapan kerabat (satu paman dan tujuh sepupunya) dalam serangan 11 September yang mendudukkan Muslim sebagai “tersangka” pada 2001.

Namun bagi Safia, semua sambung-menyambung. Justru setelah duka Tragedi 11 September, ia mencari tahu tentang Islam. Dalam dirinya tumbuh keyakinan semakin Islam disudutkan di AS, ia merasa adalah yang salah di sana.

“Saya tidak peduli siapa yang melakukannya,” ujarnya. “Saya hanya peduli kenapa Islam tiba-tiba dibenci. Saya tidak pernah membenci Islam, atau membenci Muslim. Bagi saya untuk marah tentang apa yang terjadi pada menara kembar akan menjadi seperti saya membenci semua orang Jerman yang menewaskan orang-orang Yahudi.”

Semakin ia melahap buku-buku tentang Islam, semakin ia jatuh hati pada agama yang disiarkan oleh manusia agung, Muhammad SAW. Ia makin gelisah. Akhirnya timbul keberanian, tahun 2005 atau empat tahun setelah tragedi yang merengut keluarganya itu, ia bersyahadat.

Seperti Muslim lainnya, Safia merasa ketegangan di sekelilingnya: tatapan penasaran karena dia mengenakan jilbab atau kerudung dan penjaga toko yang tiba-tiba meminta identifikasi tambahan tiap kali ia pergi ke pusat perbelanjaan.

Bahkan pejabat di Kedutaan Besar AS di Kairo menolak permintaan awal dari calon suaminya, seorang pria asal Mesir, untuk visa sementara. Safia dianggap punya agenda tersembunyi lain dengan menikahi pria Mesir.
Agama barunya juga telah memperluas jurang antara dia dan keluarganya. Ibunya, tiga saudara perempuan dan salah satu putrinya, Sylvia, mempertanyakan pilihannya.

Sylvia bahkan ingin tak ada hubungannya dengan dia. Sylvia memarahi Safia habis-habisan ketika dia muncul di pemakaman suaminya mengenakan jilbab dan membawa Alquran.

Namun ia beruntung, satu anaknya yang lain, Natalia, mendukung pilihannya. “Agama yang dipilih mama sungguh cool,” ujarnya.

Gadis 18 tahun ini menghargai transformasi keyakinan Safia. Ia kerap tidak tahan dengan orang-orang yang mengolok-olok Islam atau stereotip Muslim. “Saya berkata,” Tunggu sebentar. ibu saya seorang Muslim,” ujarnya menirukan kalau dia memotong pembicaraan rekan-rekannya. “Dan dia bukan teroris.”

Sumber: http://www.kisahmuallaf.com/elizabeth-pilih-islam-setelah-delapan-kerabatnya-jadi-korban-tragedi-119/

Keselarasan al-Qur’an dengan Science oleh Drs. Mowo Purwito


Keselarasan al-Qur’an dengan Science
Satu fenomena yang terjadi dalam keagamaan adalah, mayoritas orang-orang non Islam yang masuk menjadi Islam (mualaf) adalah orang-orang dari kalangan intelektual, baik dalam bidang science, politik, ekonomi, kedokteran, sejarah maupun dalam bidang keagamaan itu sendiri, kalau boleh kita asumsikan, masuknya mereka ke dalam Islam adalah karena adanya sikap mau berpikir tentang kebenaran dan pintu hati mereka terbuka untuk dapat menerima kebenaran, singkatnya, mereka mau masuk ke dalam Islam adalah karena alasan adanya kebenaran dalam ajaran Islam.

Sementara itu, mayoritas orang-orang Islam yang keluar dari Islam (murtadin) adalah orang-orang awam (berpendidikan rendah) baik dalam bidang ilmu keduniaan maupun dalam bidang keagamaan, dan biasanya pula, mereka itu adalah orang-orang yang secara ekonomi berada pada level menengah ke bawah bahkan pada level terbawah, di mana keadaan tersebut seringkali menempatkan mereka berada pada tekenan hidup yang cukup tinggi, adanya paduan tingkat pendidikan yang rendah dengan tekanan kehidupan yang tinggi menyebabkan mereka mudah terbujuk, terayu dan terintimidasi untuk keluar dari Islam, singkatnya, mereka keluar dari Islam tidaklah karena mereka telah menemukan kebenaran dalam ajaran agama yang baru akan dipeluknya.

Kisah masuk Islam-nya Bapak Drs. Mowo Purwito Rahardjo Dip HRD, STh berikut akan memberikan gambaran tentang fenomena tersebut, beliau adalah intelektual dalam bidang theologi keagamaan, mengetahui sedikit science dan mengetahui alasan alasan orang-orang Islam yang keluar dari Islam. Semoga kisah beliau tersebut dapat memberikan wacana baru dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin.

Bermula dari mengajar Islamologi

Tidak ada firasat, tidak ada gambaran sedikitpun dalam benak ini bila akhirnya saya menjadi seorang muslim, semua berjalan bagai air yang mengalir begitu saja.

Sebelumnya, saya adalah dosen sosiologi agama di sebuah seminari Alkitab Nusantara dan beberapa seminari di Indonesia, hingga suatu ketika DR. Wagiono Ismail, dosen Islamologi di tempat saya mengajar, meninggal dunia, karena tidak ada dosen pengganti maka pihak Seminari memutuskan saya untuk menggantikan DR. Wagiono Ismail mengajar Islamologi.

Mau tidak mau, saya harus belajar tentang ke-Islaman lebih jauh dan mendalam, tentu saja bukan untuk mencari kebenaran, melainkan hanya untuk keperluan mengajar dan perbandingan belaka.

Maka saya beli buku-buku tentang ke-Islam-an yang layak untuk diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswa saya. Sebelum saya mengajarkan Islamologi, rektor tempat saya mengajar berpesan, bahwa mata kuliah Islamologi harus diajarkan secara komparatif, artinya hanya sebagai studi banding antara Islam dan Kristen, sayapun berpikir keras bagaimana membandingkan ajaran Islam yang luas dengan mata kuliah yang hanya dua SKS.

Akhirnya, saya mengfokuskan pada tiga pembahsan pokok, yaitu :

  1. Konsep Ketuhanan (Theos)
  2. Konsep Kemanusiaan (Antrophos)
  3. Konsep Alam semesta (Cosmos)

Saya mulai mendalami perbandingan ketiga konsep tersebut dalam agama Islam dan Kristen, dan akhirnya saya menemukan perbandingan yang sangat mencolok bahkan bertentangan antara ketiga konsep dalam agama Kristen dengan ketiga konsep tersebut dalam agama Islam.

Pertama, tentang konsep ke-Tuhan-an, dalam agama Kristen Tuhan itu Transenden dan Imanen, Transenden artinya Tuhan itu jauh berada di luar alam semesta , Imanen artinya Tuhan itu berada dalam alam semesta, atau ikut dalam proses yang ada dalam alam semesta hadir-, singkatnya Tuhan jauh berada di luar alam tetapi hadir di dalamnya, Dia sangat berkuasa dan hadir di mana-mana, tetapi karena Tuhan terlalu jauh, maka Ia punya inisiatif yang baik, Dia rela menurunkan dirinya menajdi manusia sebagai sosok Yesus agar dapat berinteraksi dengan manusia, inilah yang kemudian di sebut teori REINARNASI. Tuhan yang baik ini juga rela mengorbankan dirinya untuk menebus dosa-dosa manusia di kayu.

Konsep ke-Tuhan-an dalam Kristen tersebut akhirnya saya bandingkan dengan 20 sifat Allah yang ada dalam Islam, Di dalam Islam disebutkan Allah itu mukhalafatuhu lil hawadits, Artinya Allah itu mustahil serupa dengan makhuknya, karena Allah itu sanagt Suci dan sangat berkuasa, tidak mungkin Allah itu akan merubah dirinya menjadi manusia, kenapa Allah yang begitu sangat berkuasa harus merubah dirinya menjadi manusia ?

Kedua, tentang konsep ke-manusia-an, dalam ke-Kristen-an disebutkan bahwa manusia sudah dalam keadaan berdosa sejak dilahirkan, di mana dosa tersebut adalah sebagai warisan dari adam yang telah jatuh dalam dosa, di mana dosa tersebut tidak akan pernah putus dari generasi ke generasi. Yang bisa memutus hanyalah iman kepada Yesus sang penebus dosa yang mati di kayu salib.

Dosa warisan/turunan tersebut menjadi persoalan yang cukup janggal, bagaimana seorang bapak harus mewariskan dosa kepada anaknya?.

Berbeda dengan konsep ke-manusia-an dalam Islam, di mana disebutkan bahwa manusia dalam keadaan fitrah ketika dilahirkan, seperti kertas putih yang tidak ada noda setitikpun, hal ini rasioanl, kenapa ? Allah menciptakan manusia dalam keadaan suci, karena manusia ketika dilahirkan memang belum berbuat dosa setitikpun, tidak adil kalau seorang bayi yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba harus menanggung dosa yang sama sekali tidak diperbuatnya. Dosa tidaknya seorang manusia adalah akrena perbuatannya sendiri, dalam psikologi sosial, hal ini disebut sebagai stimulus respons, bila rangsangan dari luar baik, maka seseorang akan tetap baik dengan sendirinya, sebaliknya akan menyebabkan seseorang berbuat tidak baik.

Ketiga, tentang konsep alam semesta, dalam Al-kitab, terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam teori kejadian misalnya bagaimana terjadi siang dan malam dan terdapat tumbuh-tumbuhan padahal matahari belum diciptakan, bukankah tidak akan ada siang dan malam dan tidak akan ada tumbuh-tumbuhan bila tidak ada matahari ?. Dalam Al-qur’an lebih mampu mengungkap-kan fakta-fakta semacam itu. Misal proses kelahiran bayi dari rahim hingga keluar dari rahim dijelaskan sejelas-jelasnya, sementara dalam Alkitab tidak ada. Subhanallah , sungguh luar biasa! Al-qur’an sangat scientific (ilmiah) dan tidak bertentangan dengan nalar.

Islam Pesat Di Eropa

Perbandingan yang saya telaah, khususnya dalam teori tentang kosmos, saya coba hubungkan dengan berkembangnya Islam di Eropa. Kenapa Islam berkembang pesat di Eropa sementara di Asia bergerak secara statis. Ternyata setelah membaca banyak hal, saya menyimpulkan ada tiga hal yang membuat islam berkembang pesat di Eropa.

Pertama, orang Barat setelah melihat Islam dalam perspektif science, itu lebih tergugah menjadi muslim daripada melihat Islam dari sisi tradisional kultural. Cara berpikir Barat yang rasional cocok dengan Al-qur’an yang ternyata mengungkap fakta-fakta science yang lebih rasional.

Kedua, Islam berkembang di Eropa karena black muslim. Kenapa orang kulit hitam menjadi muslim? Ternyata, ketika dia menjadi bagian komunitas di gereja, diskriminasi itu masih terjadi. Tetapi dalam Islam diskriminasi tidak ada, mereka punya kesempatan menjadi imam, khatib atau apapun.

Ketiga, Islam berkembang di Eropa disebab-kan orang Kristen sendiri yang meragukan eksistensi Alkitab, yakni Alkitab yang mereka gunakan sekarang ini adalah kitab-kitab yang penentuan untuk digunakan baru terjadi setelah 3 abad masa Yesus berdakwah dan itupun harus membuang kitab-kitab lain yang jumlahnya puluhan bahkan dapat mencapai di atas seratus, dan penentuan kitab-kitab yang digunakan itupun tidak terlepas dari muatan politis karena tidak terlepas dari kebijakan kaisar yang berkuasa saat itu.

Terbukti setelah penentuan tersebut banyak di-temukan kitab-kitab yang secara arkeologis mempunyai nilai yang sangat tinggi namun tidak digunakan oleh gereja karena isinya tidak sesuai dengan doktrin gereja saat ini.

Bila kemudian gereja tidak mau Alkitab yang sekarang dipakai digugat, itu sangat maklum, karena untuk menjaga sakralitas Alkitab itu sendiri, karena kalau Alkitab tidak sakral lagi, bagaimana nanti nasib umat Kristen ?

Masuk Islam

Adanya keselarasan al-Qur’an dengan science dan adanya ketidak selarasan Alkitab dengan science, juga karena njlimetnya konsep ketunggalan Tuhan dalam Kristen, hingga menjelaskan kepada orang Kristen saja sulitnya setengah mati apalagi kepada orang Islam pasti sampai matipun tidak akan paham, berbeda dengan konsep ketunggalan Tuhan dalam Islam, yang anak umur 5-6 tahun saja sudah dapat memahami begitu juga orang di luar Islam, hal tersebutlah yang akhirnya mendorong saya untuk memeluk Islam tepatnya 16 September 2006 di forum Arimatea Malang.

Rintangan sebagai Muallaf

Sebagai manusia, tentu sangat logis bila dalam hidup ini kita menghadapi resiko, begitu juga ketika saya memutuskan untuk memeluk agama Islam, teror atau ancaman serius, teguran dan nasehat kerap kali saya terima, baik dari jemaat geraja maupun dari sebuah partai Kristen, kebetulan saya menjadi pengurus inti sebuah partai Kristen di Malang, namun dari kalangan majelis gereja dan akademis tidak begitu nampak, juga tidak ada rintangan dari keluarga.

Bagi saya, demi kebenaran hakiki memang harus berkorban, bahkan segala fasilitas yang selama ini saya peroleh dan akan saya peroleh harus saya tinggalkan, rencana ke Amerika sekeluaraga selama 4 tahun, dan kandidat Master Theologi Seminari Alkitab Nusantara yang seharusnya wisuda Februari 2007 juga saya tinggalkan demi mencapai kebenaran dalam Islam.

Seharusnya Seperti Barat Memandang Islam

Islam yang selaras dengan nalar dan sempurna, sayangnya dikotori oleh ulah beberapa orang Islam sendiri, seperti pengalaman saya ketika berkunjung ke keluarga seorang kyai terkenal, ketika anak saya bermain-main ke belakang rumah pak kyai, anak saya kaget bukan main ketika pak kyai tersebut marah-marah kepada pembantunya dengan perkataan yang sangat tidak layak untuk didengar.

Dari situ anak saya menilai bahwa Islam itu jahat, anak saya mengambil kesimpulan dari fenomena kecil yang tidak mewakili ajaran Islam itu sendiri tetapi anak saya mengeneralisir begitu saja.

Sayapun akhirnya mencoba menjelaskan kepada anak saya, bahwa jangan melihat orangnya, tetapi lihatlah ajrannya, Sebab, manusia di agama manapun ada yang baik dan ada yang jahat.

Tapi apa yang dilakukanoleh anak saya adalah secara umum juga dilakukan oleh umat Kristen, yang menilai Islam sekarang ini tidak dari dimensi ajarannya secara langsung, tetapi menilai Islam dari dimensi pemeluknya, artinya, kalau ada orang Islam yang jahat, amburadul maka diblowup Islam memang jahat dan amburadul.

Paradigma ini harus diubah, Islam harus dilihat seperti orang Barat melihat Islam dari perspektif normatif Science, sehingga mereka dapat melihat kebenaran, kemuliaan dan keindahan ajaran Islam itu sendiri.

Waspada

Sebagai mantan misionaris, saya ingin menyampaikan kepda teman-teman semua mengapa banyak orang Islam dari kalangan grassroot (baca: menengah bawah) yang murtad menjadi Kristen. Sebenarnya bukan persoalan ekonomi saja, tetapi persoalan bagaimana mereka (Kristen) meruntuhkan keyakinan kita.

Tentu saja yang mejadi sasaran empuk adalah orang-orang Islam yang awam terhadap agamanya, seperti misalnya kalau akidah kita di utak-atik oleh mereka, katanya Islam itu rahmatan lil alaman, tetapi mengapa dalam al-Qur’an utamanya surat-surat yang turun di Madinah secara ekslusif ditujukan kepda orang-orang yang beriman saja yaa ayyuhalladziina aamanuu-, bukankah hal itu berarti Islam hanya untuk orang-orang yang beriman saja dan bukan untuk seleruh alam ?

Tentu saja hal-hal sepele semacam dapat menjadi hal yang besar bagi orang awam, oleh karena itu, kita harus memperhatikan saudara-saudara kita yang awam baik dari sisi akhirat maupun dari sisi dunianya.

Wallahu a'lam bish shawab


Sumber: http://www.kisahmuallaf.com/drs-mowo-purwito-keselarasan-al-quran-dengan-science/

Makan Kurma Ajwa di Pagi hari, Insya Allah Terhindar dari Pengaruh Sihir dan Penyakit


Siapapun yang  pagi pagi  memakan 7 buah kurma ‘Ajwah, maka pada hari itu dia tidak akan mudah keracunan dan terserang penyakit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Buah kurma adalah sejenis tanaman palem atau dalam bahasa latin dikenal sebagai phonex dactylifer yang berbuah dan boleh dimakan, baik ketika sudah masak maupun mentah. Berdasarkan penelitian ilmiah dari para ilmuwan, buah kurma sangat kaya akan protein, serat gula, vitamin A dan C serta mineral berupa zat besi, kalsium, sodium dan potasium. Kandungan protein yang ada di dalam buah kurma yaitu sebesar 1.8 – 2.0%, sedangkan serat sebanyak 2.0 – 4.0% dan gula sebesar 50 – 70% glukosa.

Dengan kandungan gula tersebut, buah kurma mampu memberi tenaga tambahan bahkan untuk orang yang berbuka puasa sehingga ia bisa merasa segar dan bertenaga kembali untuk beribadah tanpa merasa letih atau mengantuk. Biasanya, bagi yang merasa letih dan mengantuk disaat melaksanakan shalat malam disebabkan karena makanan yang dikonsumsi kebanyakan mengandung karbohidrat yang tidak menyediakan tenaga instant (tambahan). Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut, buah kurma adalah jawabannya.

Kenapa ? Sebab, sebagaimana penelitian yang dilakukan Badan Kesahatan Dunia (WHO), zat gula yang ada didalam kurma itu berbeda dengan gula pada buah-buahan lain seperti gula tebu atau gula pasir yang biasa mengandung sukrosa dimana zat itu langsung diserap kedalam tubuh. Hal ini membuat gula itu harus dipecahkan terlebih dahulu oleh enzim sebelum berubah menjadi glukosa. Sebaliknya, kurma tidak membutuhkan proses demikian.

Sementara potasium yang ada di dalam buah kurma berguna untuk mengatasi masalah stress, sembelit dan lemah otot. Tidak hanya itu, berkat zat besi dan kalsium yang ada pada kurma, orang bakal terhindar dari penyakit yang beresiko tinggi seperti penyakit jantung dan kencing manis.

Berdasarkan asbabul wurud (sebab-sebab turunnya suatu hadist) disebutkan dulu Nabi Muhammad s.a.w kalau berbuka puasa yang dimakan adalah kurma. Kurma yang dimakan itu diberi nama Kurma Ajwa (ajua). Ceritanya, pada saat itu Ajwah adalah nama anak dari sahabat Salman Alfarisi, orang persia  yang akhirnya masuk Islam. Dia mewakafkan lahan kurmanya untuk perjuangan Islam. Untuk mengenang jasa-jasanya itu, akhirnya Rasul menamakan kurma yang dimakannya saat berbuka puasa sebagai kurma ajwa merunut pada nama anak sahabat Salman Al Farisi . Itulah alasannya kenapa, akhirnya kurma ajwa disebut juga sebagai kurma nabi.

Bahkan, dalam hadist yang lain Beliau sendiri sempat menyatakan, “Rumah yang tidak ada kurmanya seperti rumah yang tidak ada makanan.” Perkataan Rasullah tersebut menunjukan betapa pentingnya manfaat kurma untuk kesehatan tubuh kita. Sehingga, setiap keluarga mesti menyimpan kurma sebagai penganan wajib dirumahnya. Oleh karena itu, kita seharusnya memakan buah kurma bukan hanya dibulan puasa saja, tapi juga menjadikan kurma makanan sehari-hari. Entah itu dimakan pagi hari sebagaimana yang pernah dianjurkan Nabi diatas atau sebagai makanan ringan ketika sedang santai.

Dengan cara begini, kita tidak hanya mendapatkan kesehatan tubuh tapi juga memperoleh pahala karena menjalankan sunnah Rasullah s.a.w. Wallahu’alam bil shawab.

Sumber: http://www.eramuslim.com/emarket/konsumsi-kurma-ajwa-pada-pagi-hari-hindari-pengaruh-sihir-dan-penyakit.htm#.UmOUSKKVOSo

Ketut Abdurrahman Masagung, Mengukuti Jejak Ayah yang Menjadi Muallaf


Ketut Abdurrahman Masagung, Mengukuti Jejak Ayah yang Menjadi Muallaf
September 1990, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-63, suatu ‘kado’ paling berharga diterima Masagung (Pendiri gunung Agung) dari Sang Maha Pencipta. Kado itu adalah masuk Islamnya anak ketiga Masagung, Ketut Masagung. “Saya mendapatkan hadiah yang sangat besar dari Allah SWT, yaitu telah dibukakan oleh Allah hati anak saya yang ketiga untuk memeluk Islam.

Inilah suatu hadiah yang tidak ternilai besarnya,” ujar Masagung ketika itu. Dengan dibimbing tokoh Islam, Dr Imaduddin Abdurrahim, Ketut mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Al A’raf, Jakarta. Namanya mendapat tambahan Abdurrahman. Jadilah Ketut Abdurrahman Masagung, satu-satunya anak Masagung yang mengikuti jejak ayahnya.

Yang lain, Oka Masagung dan Putra Masagung, masih pada agama lamanya. Berbeda dengan Oka dan Putra yang kini lebih banyak bermukim di Amerika untuk berbisnis, Ketut memfokuskan peninggalan ayahnya di bidang bisnis di dalam negeri.

Bagi Masagung, kado ultah itu tak ternilai harganya. Ia menjadi kekuatan dan spirit baru dalam perjuangannya menegakkan dan mengembangkan Islam di Indonesia. Spirit itu pula yang ia wariskan dan diharapkan dapat dilanjutkan realisasinya kepada penerusnya, Ketut Masagung. Karena itulah, usai menyaksikan pengucapan dua kalimat syahadat Ketut, sebagaimana dikutip dalam buku Syahadat Ketut Masagung, salah seorang tokoh pembauran etnis Cina ini mewasiatkan kepada anaknya dua hal berharga, Alquran dan Hadis. “Dua pusaka ini harus menjadi pegangan utama hidupmu,” kata Masagung.

Keterlibatan Haji Masagung dalam aktivitas dan pengembangan Islam di Indonesia sesungguhnya bukanlah hal baru. Setidaknya, sejak dirinya berikrar kepada Islam pada 1975, Masagung banyak terlibat dalam kegiatan keislaman. Namun demikian, keterlibatan itu diakuinya belum maksimal mengingat waktunya yang banyak disita untuk urusan bisnis.

Barulah pada 1985, ketika secara resmi estafet kepemimpinan Gunung Agung Grup ia serahkan kepada ketiga putranya, Oka, Ketut, dan Putra, Masagung menghabiskan waktunya untuk dakwah dan pengembangan Islam serta aktivitas sosial kemasyarakatan.

Soal keterlibatan ini diakui aktivis Islam, Imaduddin Abdurrahim, yang juga teman dekat Masagung. “Segala yang dilakukannya atas dasar ikhlas. Itu nilai yang selalu dia pegang,” ujar Imaduddin kepada Republika.
Bang Imad, demikian ia biasa disapa, menambahkan bahwa peranan Masagung dalam pengembangan dan dakwah Islam sangatlah nyata. Ia mencontohkan, pembangunan Masjid Raya Al A’raf di Kwitang, Jakarta (menghabiskan dana sekitar Rp 9 miliar), pembangunan lima lantai toko buku pusat Gunung Agung di Kwitang, dua lantai pertama dan kedua khusus diperuntukkan untuk masjid –lantai bawah untuk pria, dan lantai 2 untuk wanita– serta beberapa panti asuhan oleh Masagung, adalah bukti nyata itu.

“Sebelum wafat, kepada saya, Masagung juga bercerita bahwa ia ingin membangun Pusat Islam dan Informasi terpadu di Jagorawi. Di dalamnya ada masjid, pesantren, sekolah, dan perpustakaan. Lahannya sudah ada, tinggal realisasi pembangunannya. Sayang, cita-cita mulia itu tak direalisasikan oleh generasi penerusnya. Padahal ini salah satu wasiat yang ia berikan kepada anaknya,” ujar Bang Imad.

Upaya memajukan Islam dan mencerdaskan pendidikan bangsa memang menjadi agenda utama Masagung. Dua agenda besar itu dikemas Masagung dalam “Proyek Mengharumkan Islam”. Proyek itu sebagian memang telah tercapai, yakni dengan mendirikan Masjid Al A’raf dan Pusat Informasi Islam (PII) pada 27 November 1987 di bawah naungan Yayasan Masagung. Untuk membangun PII ini, menurut catatan Junus Jahja (Lauw Chuan Thao), tokoh pembauran Cina dan salah seorang penasihat MUI Pusat, Haji Masagung menghabiskan sekitar 1,5 juta dolar AS. Dalam PII terdapat perpustakaan, penerbitan berkala, penelitian dan audio visual, koleksi Alquran dan kita-kitab klasik, serta komputer. Namun demikian, sebagian gagasan besarnya belum terlaksana. Kehendak Allah ternyata mendahului cita-cita besarnya.

Betapapun saham mencerdaskan bangsa dan syiar Islam yang dikemas Masagung dalam ‘Proyek Mengharumkan Islam’ tersebut telah memberi andil besar kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti dituturkan Junus Jahja, bagi Masagung mencerdaskan pendidikan bangsa sangat penting. “Dia menilai, yang paling penting bagi bangsa ini setelah meraih kemerdekaannya adalah kecerdasan bangsa.

Karena itulah, sembari berbisnis, Masagung juga mencurahkan sebagian rezekinya itu untuk pendidikan bangsa, dengan buku-buku yang diterbitkannya serta yayasan sosial dan pendidikan yang ia dirikan,” jelas Junus kepada Republika.

Junus Jahja, yang juga anggota Dewan Penasihat ICMI Pusat ini, dalam buku terbarunya Peranakan Idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya (Gramedia, Desember, 2002) menulis, bahwa pendirian toko buku Wali Songo yang juga difungsikan sebagai Islamic Centre sekaligus pengelola Masjid Al A’raf, juga dalam rangka proyek tersebut.

Proyek raksasa di Citeureup, Bogor, yang belum sempat diwujudkan, kata Junus, juga bagian dari ‘Mengharumkan Agama Islam’. Dedikasinya yang besar terhadap agama Islam dan kecerdasan bangsa Indonesia inilah yang membuat Gerhard Mayer Siagian menilai Masagung sebagai seorang reklamator buku-buku Islam dalam rangka arts keislaman, serta promotor dan dokumentator dalam perkembangan Islam modern.

Sebagai dai, Masagung juga kerap turun ke lapangan berdakwah bahkan sampai di daerah-daerah terpencil sekalipun.

Misalnya ketika ia ceramah di kawasan Cibeureum, Cisarua, ia begitu bersemangat menyambut anak-anak kecil dan penduduk setempat yang menjemputnya.

“Assalaamu’alaikum,” sapa Masagung kepada para penjemputnya tersebut. Seorang dai, bagi Masagung, juga tak berarti melupakan nasionalisme. Kiprahnya dalam dunia perbukuan dan mencerdaskan bangsa, tak peduli dari mana asal suku dan agamanya, adalah bukti.

Ia bukan pejuang kemerdekaan, tetapi ia mencurahkan tenaga, dana, dan pikiran untuk pelestarian nilai-nilai perjuangan itu melalui perbukuan dan dokumentasi,” ujar AH Nasution dalam buku Haji Masagung, Telah Tiada Tapi Roh Jihadnya Hidup Sepanjang Masa.

Sebagai seorang Muslim keturunan, Masagung tak berarti pula ‘menjauh’ dari warga keturunan Cina sejak diri
nya masuk Islam. Pergaulan baik, sebagaimana ditegaskan Junus Jahja, tetap ia pelihara. Bila di kalangan keturunan, ia hanya berdakwah terhadap mereka yang beragama Islam. “Misalnya melalui wadah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Tapi di luar itu, Masagung tidak melakukan dakwah,” kata Junus. Begitu pun ia tidak berpihak terhadap satu golongan. Ini diwujudkannya dengan tidak masuknya Masagung dalam salah satu ormas keagamaan, semisal NU atau Muhammadiyah. Ia merasa dengan posisi bebas, tak bergolongan, lebih leluasa dalam menyampaikan dakwah.

Namun demikian, satu hal menarik dari sisi pemikiran keislaman, bahwa dilihat dari segi sikap dan kiprahnya, banyak sifat dan sikap keberagamaan pemikir Islam klasik, Ibnu ‘Arabi, pencetus konsep Wahdatul wujudnya itu terefleksikan dalam diri Masagung sebagaimana lazimnya kehidupan kaum mistis.

Misalnya, keinginan Masagung melaksanakan haji tidak hanya sekali. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa dia merasakan simbol spiritual Mekkah sebagai markaz al ruhi wa al fikr (pusat spiritualitas dan pemikiran) yang dimaksudkan Ibnu ‘Arabi. Ketenangan hati dan kenikmatan batin yang diperolehnya sebagaimana diceritakannya dalam pengalaman haji, menjangkau futuhat yang dimaksud Ibnu ‘Arabi.

Di sisi lain, keinginannya untuk selalu dekat dengan orang-orang yang bertakwa dan beramal shaleh dianggap sebagai salah satu upaya kebersamaan menuju insaan kaamil (manusia sempurna). Haji Masagung menghimpun orang-orang seperti ini dalam satu kata yang dianggapnya sedang menuju atau telah memperoleh ma’rifah.

Dalam konteks ini pula, ada kemungkinan masjid yang didirikan dan dikelolanya didasarkan pada pandangan ini, dan disebutnya sebagai Al A’raf, jamak dari al a’rif, orang yang memperoleh kearifan.

Sementara itu, rasa kerinduannya pada keagungan dan pusat spiritual Masjidil Haram di Mekkah, disublimasikan dengan Masjid Agung Al A’raf di pusat ibukota, namun tidak mengurangi kesan keramahan dan kejernihan hati dari lokasi induk (Makkiyyah) yang dimaksudkan Ibnu ‘Arabi.

Penguasaan Masagung pada makna nama-nama Allah, dan yang sering mengucapkan semua milik Allah, selalu hadir dalam percakapannya setiap hari. Disadari atau tidak, Masagung telah larut dalam salah satu ajaran Ibnu ‘Arabi untuk tidak layak menyebut: Untukku, Padaku, Hartaku, tetapi: Untuk Allah, Pada Allah, dan Harta Allah.

Kata-kata Allah hampir bergaung dalam sederetan percakapannya, yang mengingatkan kita pada konsep One is all, All is one dari paham Wahdatul Wujud-nya ‘Arabi.

Dan kini, Haji Masagung yang wafat pada September 1990 dan peraih beberapa penghargaan internasional berkaitan kiprahnya terhadap Islam, Insya Allah, akan menjemput semua itu. Semua yang telah ia perbuat.

Sumber: http://www.kisahmuallaf.com/ketut-abdurrahman-masagung-mengukuti-jejak-ayah-yang-menjadi-muallaf/

Ahmad Thomson : Jika Yesus adalah Tuhan yang Disalib, Siapa yang Menghidupi Surga dan Dunia?


Ahmad Thomson : Jika Yesus adalah Tuhan yang Disalib, Siapa yang Menghidupi Surga dan Dunia?

Pemilik nama kecil Martin Thomson ini dikenal sebagai pengacara terkemuka di Inggris. Ia juga mengetuai Wynne Chambers, badan hukum Islam yang didirikannya pada 1994.

Berislam 38 tahun lalu, Thomson meyakini cara terbaik mengamalkan ajaran Islam adalah memahami dan meneladani sumbernya, yakni Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. “Seperti pepatah yang mengatakan bahwa semakin dekat kita pada sumber mata air, semakin murni air yang kita minum,” ujar pria kelahiran Afrika ini.

Dilahirkan di Rhodesia Utara (sekarang Zambia), Thomson menempuh pendidikan dasar serta menengahnya di Rhodesia Selatan (sekarang Zimbabwe). Masa awal hidupnya, ia lalui di daerah-daerah terpencil Afrika yang kala itu belum tersentuh peradaban modern, seperti listrik, gas, dan saluran air bersih.

Lahir dan besar di Afrika, Thomson muda merasa tidak puas pada ajaran Kristen. Ia mulai mempertanyakan banyak hal seperti, “Jika setiap manusia itu sama di hadapan Tuhan, lalu mengapa kaum Afrika kulit putih seperti dia harus beribadah di gereja yang berbeda dengan kaum kulit hitam?”

Pertanyaan lain yang kerap mengganggunya sebagai pemeluk Kristen adalah soal ketuhanan Yesus. “Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa dahulu ia berdoa? Jika Yesus adalah Tuhan dan disalib, lalu siapa yang menghidupi surga dan dunia? Pertanyaan itu tak pernah terjawab selama aku memeluk ajaran Kristen,” ujar lulusan Exeter University, Inggris, ini.

Ketika berusia 12 tahun, Thomson sampai pada satu titik di mana ia memercayai Tuhan dan Yesus. “Hanya saja, aku tidak yakin pada gereja.” Terhenti pada berbagai pertanyaan itu, Thomson mulai membaca apa pun dan memikirkan kehidupan yang dijalaninya sejauh itu. Ia mengunjungi berbagai kelompok spiritual dan mencoba meditasi selama beberapa bulan. “Itu menenangkan, tapi sama sekali tak mengubah gaya hidupku.”

Hingga akhirnya, Thomson bertemu Syekh Abdalqadir as-Sufi (tokoh tarbiyah, penggagas Gerakan Dunia “Murabitun”). Pertemuan itu menjadi awal perkenalannya dengan Islam, agama yang tak pernah terpikirkan oleh Thomson sebelumnya.

Saat berbicara dengan Syekh Abdalqadir dan mendengarkan berbagai hal yang disampaikannya, Thomson merasa telah menemukan jalan menuju transformasi yang ia butuhkan. “Sejak itu, perlahan aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi otakku,” katanya. Thomson pun rutin mengunjungi pusat kajian Islam Syekh Abdalqadir. Ia juga membaca The Book of Stranger yang ditulis Sang Syekh.

Thomson mantap mengakhiri pencariannya pada 13 Agustus 1973. Ia pun mengikrarkan syahadat dan berhaji empat tahun kemudian. Sepulang haji, ia menyelesaikan pelatihannya sebagai pengacara. Lalu, pada 26 Juli 1979, ia dipanggil ke Pengadilan England & Wales dan mulai meniti karier di bidang advokasi dan hukum Islam.

Thomson pertama kali memperoleh perhatian publik pada 2001, saat tampil dalam sebuah film dokumenter berjudul My Name is Ahmed yang menyabet sebuah penghargaan. Ia pun tampil di film dokumenter lainnya, Prince Naseem’s Guide to Islam. Kedua film itu ditayangkan di BBC2 pada Agustus 2001. Setelah itu, wajahnya kerap mewarnai layar kaca dalam berbagai program, terutama program-program Islam.

Kini, hari-harinya diisi dengan aneka kegiatan keislaman, mulai dari memberikan ceramah rutin tentang Islam di berbagai wilayah di Inggris, menulis untuk Jurnal al-Kala, sampai menjadi kontributor tetap dalam konferensi lintas agama yang digelar setiap tahun di Masjid Regents Park dan Pusat Kebudayaan. Beberapa buku karyanya yang cukup menggemparkan dan sangat sulit dicari terjemahannya , buku yang membongkar apa dan bagaimana  konspirasi Yahudi di dunia ini yang berjudul , yaitu Dajjal the Anti Christ  (bbrp/ROI/Eramuslim/HK)

Sumber: http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/ahmad-thomson-jika-yesus-adalah-tuhan-dan-disalib-siapa-yang-menghidup-surga-dan-dunia.htm#.UmOIaaKVOSo

Luna Cohen, Wanita Yahudi yang Masuk Islam


Luna Cohen, Wanita Yahudi yang Masuk Islam
Luna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.

Usia 18 tahun ia memutuskan menikah lelaki yang sampai saat ini menjadi suaminya. Sejak menikah, Luna dan suaminya sampai tiga kali berpindah tempat tinggal di apartemen yang ada di Brooklyn, New York karena ia dan suaminya merasa tidak pernah bahagia tinggal di lingkungan masyarakat Yahudi di tempat tinggalnya. Pasangan suami isteri itu kemudian memutuskan untuk membangun masa depan di Israel. Luna beserta suami yang ketika itu sudah dikaruniai empat anak, akhirnya pindah ke Israel.

Ketika tiba di Israel, Luna dan keluarganya tinggal pemukiman Yahudi, Gush Qatif di wilayah Jalur Gaza. Luna mengaku menjalani masa-masa yang berat karena melihat “cara hidup” orang-orang Yahudi di tempat tinggalnya itu dan meminta pada suaminya agar mereka pindah saja ke Netivot, yang terletak sekitar 23 kilometer ke arah utara di wilayah pendudukan Israel di Palestina.

Di tempat itu, Luna lagi-lagi menyaksikan kehidupan masyarakat Yahudi Israel yang disebutnya tidak berpendidikan. “Mungkin cuma satu dari sejuta anak yang berperilaku baik,” kata Luna. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Yahudi di Netivot, sama seperti di pemukiman Yahudi Gush Qatif, membenci orang-orang yang bukan Yahudi yaitu orang-orang Arab Palestina.

“Kami melihat tindakan mereka sebagai tindakan mereka yang buruk dan mau menang sendiri. Pada titik ini, saya dan suami tidak sepakat dengan sikap orang-orang Yahudi itu,” ujar Luna.

Hingga suatu hari suami Luna yang juga Yahudi tapi sekuler, pulang ke rumah dan mengatakan bahwa baru saja membaca al-Quran dan memutuskan untuk masuk Islam. Luna tidak tahu, bahwa suaminya selama ini banyak mempelajari Islam lewat dialog yang dilakukannya dengan seorang Muslim asal Uni Emirat Arab yang dijumpainya saat masih tinggal di pemukiman Gush Qatif. Selama dua tahun suami Luna dan kenalan Muslimnya itu berdiskusi tentang Yudaisme dan Islam.

Mendengar pernyataan suaminya ingin masuk Islam, Luna mengaku sangat-sangat syok. “Karena dalam Yudaisme, kami selalu diajarkan untuk membenci agama lain,” kata Luna yang sebenarnya mempertanyakan ajaran yang dinilainya “mau menang sendiri” itu.

Tapi sang suami cukup bijak dan mengatakan bahwa Luna boleh tetap memeluk agama Yahudi jika tidak mau masuk Islam, karena dalam Islam, seorang lelaki Muslim boleh menikah dengan perempuan ahli kitab. Suami Luna pun masuk Islam dan memakai nama Islam Yousef al-Khattab.

Dua minggu setelah suaminya masuk Islam, Luna tertarik untuk membaca al-Quran dan ketika ia membacanya, Luna merasa semua pertanyaan yang mengganjal di kepalanya terjawab semua dalam al-Quran. Luna lalu menyusul suaminya mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang Muslimah. Luna memilih nama Qamar sebagai nama Islamnya.

Karena situasi yang tidak memungkinan buat mereka untuk tinggal lebih lama wilayah Israel, keluarga mualaf itu lalu memutuskan pindah ke Maroko, negara asal Luna pada tahun 2006. Sampai saat ini, pasangan Yousef dan Qamar al-Khattab hidup bahagia di tengah saudara-saudara Muslim Maroko dan menemukan kehidupan sejati setelah menemukan kebenaran dalam jalan Islam.

Sumber: http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/luna-akhirnya-mualaf-wanita-yahudi-yang-semula-membenci-islam.htm#.UmOH6aKVOSo

Bilal Philips, mualaf mampu Islamkan 3.000 tentara Amerika


Bilal Philips, mualaf mampu Islamkan 3.000 tentara Amerika

Abu Ameenah Bilal Philips bernama asli Dennis Bradley Philips. Dia berdarah Jamaika namun masa kecilnya dihabiskan di Kanada. Perjalanannya mengenal Islam menarik untuk disimak.

Sebelum menjadi muslim, Philips menganut musik dan cinta sebagai agamanya. Dibesarkan dalam kultur musik Jamaika kental membuat ia memilih menjadi gitaris. Di kesengsem Jimi Hendrix dan Bob Marley. Saat berkuliah di Universitas Simon Frasier, Kota Vancouver, Kanada, dia kerap ngamen di klub dan kafe mempertontonkan kemahirannya bermain musik.

Bermain musik memberikan kesempatan pria kelahiran Jamaika, 6 Januari 1946, ini menjelajah ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia pada 1960-an. Di dua negara berpenduduk mayoritas Islam ini, Philips mulai tertarik mempelajari agama Nabi Muhammad.

Balik ke negaranya pada 1972, lelaki berjanggut ini memutuskan mempelajari Islam secara intensif. Dia kerap berdiskusi dengan para cendekiawan muslim dan mempelajari buku-buku agama rahmatan lil alamin ini. Tak perlu waktu cukup banyak, beberapa bulan kemudian Philips mengucapkan dua kalimat syahadat, tanda sumpah serta pengakuan keesaan Allah dan Rasulullah sebagai utusanNya.

Setelah menjadi muslim, Philips memutuskan berhenti menjadi musikus dan mempelajari agama barunya lebih dalam. Dia mengaku tidak nyaman lagi bermusik. "Menjadi artis rentan terhadap perilaku dilarang Allah seperti obat-obatan, seks bebas, perempuan, dan pergaulan salah. Saya tidak mau seperti itu lagi," ujarnya.

Dia kembali bersekolah dengan mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Alasannya, dia ingin belajar Islam dari sumber klasik di kota-kota bersejarah dan bukan budaya prakteknya. "Beda lingkungan akan berbeda menerjemahkan Islam," kata Philips.

Kelar di Universitas Madinah, Philips terus belajar. Kali ini dia mendaftar program master di Universitas Riyadh. Selain berkuliah, dia juga nyambi menjadi pembawa acara Why Islam di Channel Two, stasiun televisi milik pemerintah Saudi. Acara seputar wawancara dengan para muallaf dari berbagai latar belakang dan ketertarikan mereka mempelajari Islam. Dengan membawa acara itu, Philips mengaku imannya semakin kuat. Tak cuma menjadi presenter, dia juga menulis buku, antara lain Poligami dalam Islam dan Prinsip Dasar Iman dalam Islam.

Kelar kuliah S2 pada 1990-an, Philips bekerja di departemen agama markas besar Angkatan Udara Arab Saudi di Ibu Kota Riyadh. Kala itu Perang Teluk tengah berkecamuk. Irak menginvansi ke Kuwait karena menolak menghapus utang luar negeri negeri Saddam Hussein itu. Posisi Kuwait kewalahan dan meminta bantuan ke Amerika Serikat. Negara adidaya itu mengirimkan pasukannya dan membuat pangkalan di Arab Saudi.

Ketika tentara Amerika bermarkas di Negeri Petro Dollar itu, Philips kebagian memberikan materi tentang Islam kepada mereka. Ini penting untuk mengajarkan pengetahuan benar Islam bukanlah agama menyukai kekerasan. Hasilnya, sekitar tiga ribu serdadu Amerika masuk Islam.

Selepas Perang Teluk, Philips dikirim ke Amerika untuk mendampingi para tentara muallaf itu. Dia mendapat bantuan dari anggota tentara beragama Islam untuk membuat konferensi dan kegiatan. Usahanya ini membuahkan hasil dan militer Amerika akhirnya membangun musala di seluruh pangkalan militer mereka.

Kelar proyek itu, Philips hijrah ke Filipina dan mendirikan pusat informasi di Mindanao serta universitas berbasis Islam di Cotobato City. Pada 1994, Philips mendapat undangan bergabung dengan lembaga amal Dar Al Ber di Dubai, Uni Emirat Arab. Di sana ia membentuk pusat informasi Discover Islam di Kota Karama. Proyeknya kali ini mengundang ulama dari pelbagai negara. Dalam lima tahun, pusat informasi itu telah membuat 15 ribu orang dari seluruh penjuru dunia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sumber: http://www.merdeka.com/dunia/lima-kisah-inspiratif-mualaf-sejagat/bilal-philips-mualaf-mampu-islamkan-3000-tentara-amerika.html