Salah Satu Kunci Sukses Bisnis Anda Adalah Menyejahterakan Karyawan


Baru-baru ini penulis membaca sebuah kutipan, "Imagine a world where most organizations were the best place to work. Imagine what we could be getting done on the planet if it were true."

Ini adalah kutipan yang diambil dari Karen May, wakil presiden dari bagian people development, Google. Hal ini membuat kita berpikir tidak heran banyak orang-orang cerdas dan memiliki talenta memiliki impian untuk bekerja di Google. Terkadang kita selaku pemilik brand terlalu sibuk dalam mempromosikan barang serta jasa dari brand kita ataupun selalu berusaha mendahulukan kebahagiaan klien atau konsumer.

Hal itu bukanlah sesuatu yang salah, namun pada satu titik terkadang kita melupakan salah satu aset brand kita yang sangat penting, yaitu sumber daya manusia kita sendiri atau para karyawan. Perlu kita ketahui bahwa ketika kita bisa menciptakan lapangan kerja yang kondusif di mana karyawan merasa dihargai serta aspirasinya didengarkan, hal ini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dari para karyawan tersebut.

Sekarang ini banyak perusahaan melakukan internal branding yang berfokus pada individu karyawannya, muncullah istilah employer branding yaitu usaha sebuah brand dalam mengomunikasikan dan membangun image bahwa perusahaan atau organisasinya merupakan tempat yang menyenangkan dan positif bagi karyawan untuk bekerja.

Employer branding menjadi poin yang penting bagi sebuah brand atau perusahaan belakangan ini dikarenakan kompetisi untuk mencari serta mempertahankan karyawan dengan prestasi gemilang ataupun sesuai kriteria menjadi semakin sulit.

Salah satu contoh adalah Google. Para pendirinya yaitu Larry Page dan Sergey Brin memiliki impian agar Google menjadi kantor favorit dan diminati oleh tenaga kerja berbakat dari seluruh dunia. Idenya sederhana yaitu menciptakan suasana kerja kondusif dan menyenangkan yang membuat karyawannya tetap termotivasi, kreatif, produktif, serta loyal.

Mereka mencoba melakukan riset mendalam mengenai people resources dan menemukan jawaban bahwa orang-orang akan tetap produktif dan setia kepada pekerjaannya ketika orang tersebut merasa dihargai, didukung serta didengar pendapatnya.

Oleh karena itu, Google membuat kebijakan unik di mana semua karyawannya boleh menggunakan 20 persen dari waktu kerjanya untuk proyek pribadi. Proyek pribadi yang memiliki gagasan bagus akan didanai sepenuhnya oleh Google. Banyak ide-ide kreatif yang justru muncul ketika karyawan diberikan kebebasan untuk berkreasi dan mengemukakan pendapatnya.

Kebahagiaan karyawan menjadi fondasi dasar Google untuk terus berinovasi dan menyukseskan brand-nya. Dari contoh di atas, dapat kita lihat manfaat dari berinvestasi pada sektor employer branding. Ketika sebuah perusahaan dari awal sudah memiliki budaya untuk mau mendengarkan aspirasi dan menghargai karyawan, tidak menganggap karyawan hanya sekadar bawahan, perusahaan tersebut sudah selangkah lebih maju.

Dengan menunjukkan empati kepada aspirasi para karyawan, hal ini akan mempermudah Anda juga dalam menyampaikan visi misi jangka panjang perusahaan, karena hubungan yang tercipta tidak lagi bersifat satu arah dan kaku, namun lebih bersifat timbal balik dan dinamis.

Sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/manajemen/salah-satu-kunci-sukses-bisnis-anda-adalah-menyejahterakan-karyawan

5 Ciri Orang Bisa Jadi Pengusaha Sukses


Sebuah studi yang dimuat dalam Jurnal National Bureau of Economic Research mengungkapkan, tidak semua perilaku yang dianggap buruk seperti suka memberontak atau malas belajar itu mengindikasikan ketidakberhasilan usaha di kemudian hari.

Ya, kecerdasan dan kepercayaan diri menjadi modal utama. Akan tetapi, perlu diingat tingkat pendidikan yang tinggi tidak selalu menjamin masa depan yang cemerlang. Tidak sedikit pengusaha di perusahaan teknologi terbukti sukses meski tidak menyelesaikan bangku sekolahnya.

Orang-orang yang menjadi pengusaha sukses cenderung memiliki kombinasi unik antara aspek kognitif (kecerdasan) dan non-kognitif, jelas salah seorang peneliti sekaligus penulis makalah, Ross Levine.

Menurutnya, pintar saja tidak cukup, mereka yang memiliki sifat pemberontak lebih mungkin untuk melanggar aturan, mendapatkan kesulitan, dan berani untuk mengambil risiko. Berikut ini lima tanda-tanda orang yang bisa menjadi pengusaha sukses di kemudian hari, seperti dilansir dari Okezone:

Berani mengambil risiko
Penelitian menunjukkan, pengusaha yang berhasil dalam meluncurkan bisnis yang didirikannya besar kemungkinan dulunya pernah terlibat dalam kegiatan penuh berisiko. Contohnya, Bill Gates yang pernah menjadi bahan ejekan teman-temannya kala ia memiliki ambisi kuat untuk menekuni program komputer.

Namun, Gates muda tidak mempedulikannya. Ia bahkan rela meninggalkan bangku kuliahnya di Harvard University, Amerika Serikat (AS) untuk bisa lebih fokus. Gates juga kala itu dianggap gila ketika mengatakan, Komputer akan ada di setiap meja dan rumah Anda nantinya.

Pendidikan tinggi bukan jaminan
Anak-anak yang putus sekolah tidak selalu kehilangan harapan untuk sukses di masa mendatang. Sebanyak 54 persen dari kelompok kewirausahaan yang diamati oleh tim peneliti, ternyata bisa menjalani usahanya dengan sukses meski tanpa gelar akademis menyertainya. Contoh nyata lainnya adalah Mark Zuckerberg yang diketahui pernah di-drop out (DO) dari Harvard University di AS pada tahun keduanya untuk memulai usahanya mengembangkan Facebook.

Tidak malu bekerja untuk orang lain
Hanya karena bekerja di sebuah perusahaan dengan upah yang rendah, bukan berarti seseorang tidak akan memiliki peluang untuk sukses di bidang wirausaha yang ditekuninya kelak. Para peneliti menemukan bahwa sebesar 90 persen pengusaha mengawali karirnya dengan bekerja untuk orang lain dengan upah yang kecil.

Misalnya saja, Michael Bloomberg yang merupakan pendiri Bloomberg L.P. Sekedar tambahan informasi, kini dirinya sudah menjadi seorang multi-miliarder dan wali kota di New York City sejak 2002. Ia diketahui memulai perjalanan kariernya bekerja di Salomon Brothers dengan upah sebesar sembilan dolar AS per tahun, sebelum akhirnya mendirikan perusahaan layanan perangkat lunak finansial pada 1981.

Cerdas
Penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu dikaitkan dengan nilai akademik semata, tetapi aspek non-akademik yang lebih luas lagi tak ayal membentuk pribadi seseorang. Lihat saja, Paul Allen. Pendiri Microsoft ini diketahui mendapatkan skor SAT dengan sempurna yakni 1600 poin. Ia sempat menekuni pendidikan di Washington State University tetapi dikeluarkan pada tahun keduanya untuk bekerja sebagai programmer di Honeywell, Boston, AS yang menempatkan dirinya dekat dengan teman lamanya yakni, Bill Gates.

Percaya diri
Kepercayaan diri sangat penting untuk membangun kesuksesan di masa depan. Tak percaya, coba saja tengok Steve Jobs. Chief Executive Officer (CEO) Apple ini banyak menghabiskan waktunya bersama Ayahnya di garasi rumah. Kala itu sang Ayah kerap menunjukkan Steve bagaimana cara membongkar dan membangun kembali berbagai perangkat elektronik, seperti radio dan televisi.

Karena terbiasa, maka hal itu memberinya kepercayaan diri yang luar biasa pada diri Jobs. Sejak itu ia tertarik untuk mengembangkan hobi mengutak-atik elektronik yang kemudian mendorongnya untuk menciptakan inovasi teknologi yang lebih kompleks.

Sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/business-advice/lima-tanda-orang-yang-bisa-jadi-pengusaha-sukses